
Melanjutkan perjalanan menempuh jarak 50 kilometer hingga akhirnya sampai di tempat tujuan.
"Nah yang itu masuk parkir kedalam," jelas Novi menunjuk satu bangunan istana megah.
Kedatangan dirinya ternyata telah di tunggu oleh puluhan orang berpakaian jas hitam lengkap yang menunduk ketika Novi berjalan masuk melewati barisan tersebut, sedang Ray menoleh kanan kiri ketika berada di samping dirinya.
"Bersikap biasa saja, jangan heran seperti itu," jelas Novi ketika melihat Ray menoleh menatap belakang barisan tersebut.
"Iya Bu." Melihat seisi ruangan yang cukup megah bak istana raja.
"Salah ucap dikit bisa tewas ini," batin Ray.
Novi menoleh menatap Ray.
"Iya Novi, maaf."
Terus berjalan mengikuti masuk kedalam hingga akhirnya sampai di salah satu ruangan berlapis kaca transparan.
"Kamu hanya sampai disini saja ya temeninya."
"Tapi, apa gak sebaiknya aku ikut masuk kedalam memastikan keselamatan kamu? Orang-orang di dalam cukup mencurigakan juga mengerikan," ujar Ray mewaspadai area sekitar.
"Keselamatan?" pekiknya tertawa kecil.
"Kan Ibu..."
"Em?" Mengerenyitkan alis.
"Novi kan atasan ku bekerja, kalau bukan aku yang jagain, siapa lagi? Lagian cuma aku disini yang bisa menjaga kamu," jelas Ray melihat begitu banyak pria garang berjajar berpakaian rapi di setiap sudut ruangan.
"Ini tuh rumah papa aku, Ray. Klien yang aku maksud tadi itu kenalan kerabat papa yang lagi bermasalah. Nah beliau bilang bakal menungguku di rumah untuk meminta bantuan perusahaan," jelas Novi.
"Hah kan. Tapi uda gak kaget sih aku, udah kuat mental akumah, perusahaannya aja gede bener, apalagi rumahnya. Sabar Ray tetap tenang jangan panik, jangan meronta wahai jiwa miskin ku," batin Ray tampil tenang.
"Terus mereka?" Menunjuk rendah ke para pria penjaga yang ramai.
"Mereka itu pekerja papa sekaligus pengawal pribadi dan juga yang melindungi rumah ini."
"Oh gitu, kirain tadi kita lagi dimana, sukurlah kalau begitu, jadi lega aku."
"Kamu ini lucu juga ya."
Novi mengangkat tangan kanannya ke satu pengawal bermaksud memanggil. Dengan cepat pengawal tersebut menghampiri.
"Tolong layani dia, suguhkan apapun yang dia mau," tegasnya menyuruh pengawal melayani Ray.
"Baik Non. Mari ikut saya, Tuan.
__ADS_1
"Tapi..." Ray menoleh Novi harap cemas.
"Udah ikut aja, keselamatan kamu aku jamin," jelas Novi berlalu pergi.
Seketika Ray mengangguk langsung mengikuti pengawal tersebut berpisah arah dengan Novi yang masuk ke dalam ruangan menemui tamu dirinya.
Terus berjalan melewati souvenir mewah seisi ruangan, hingga akhirnya pengawal tersebut membawa Ray memasuki lift dalam ruangan menuju lantai 5.
"Ini kita mau kemana pak?"
"Keruang santai tempat tunggu, Tuan."
"Gile, gile, ruang tunggu santai aja ke lantai 5. Lantai yang lain untuk ruangan apa pula?" tanya Ray dalam hati.
"Bagai bumi dan langit sama kosan kami dulu, begitu kebangun keluar kamar dah sampai ruang tunggu," lanjut pikir Ray mengingat penginapan Fendi dan Fii.
Setibanya di lantai 5, Lift terbuka berjalan menuju sisi kiri ruangan.
"Silahkan istirahat disini sembari menunggu Nona putri selesai, Tuan," ujar pengawal menunjukkan halaman belakang yang cukup luas lengkap beserta pemandangan kolam renang yang terbentang sejajar bukit tinggi.
"Keren, keren. Surga dunia ini," ucap Ray kagum memandang keindahan alam dunia terbentang luas.
"Eh tapi jangan panggil tuan Pak, panggil Ray saja."
"Rasanya tidak pantas jika saya tidak memanggil anda dengan sebutan tuan."
"Baik jika begitu yang anda pinta. Apa ada hal lagi yang harus saya lakukan, Ray? Seperti ingin makan ataupun minum?"
"Ini kalau aku minta minuman biasa, pasti dikira orang kampungan ini, apa ya?" tanya Ray dalam hati.
"Mungkin Ray suka wiski? Atau kita ada juga ruwa?"
"Anjir, ruwa? Minuman sebotol bisa sampai harga 12 miliar terus kemasan botolnya terbuat dari kristal, 2 batang emas, 200 rubi dan 8000 mutiara? Di pasarkan seharga 3 juta dirham di Uni Emirat Arab itu?" pekik Ray kagum bertubi-tubi dalam diri.
"Ray, kenapa bengong?"
"Ah tadi kepikiran sesuatu aja Pak, wiski saja Pak."
"Baik kalau begitu silahkan tunggu disini," singkat pengawal berlalu pergi meninggalkan Ray sendiri.
"Tajir bener orang tua Novi, sebanyak apa ya harta bapaknya? Tapi kok orang kaya masih kerja juga? Ya kalau gak kerja gak bakal kaya juga sih. Jadi penasaran ingin tau bisnis bapaknya," ucap Ray sendiri berjalan mondar-mandir.
"Pasti bisnis bapaknya ini join join ke luar negri, yakin aku. Orang kalau cepat kaya ya pasti pebisnis," lanjutnya mengangguk-angguk.
"Kok jadi mikirin bapaknya sih? Kacau ah." Berdiri di depan kolam memandangi keindahan alam yang terbentang luas.
"Tuan, ah maaf. Ray ini minumannya saya letak disini, kalau ada sesuatu bilang saja." Meletakkan minuman di meja samping kursi santai.
__ADS_1
"Iya Pak, makasih."
Ketika bersantai menikmati minuman dan pemandangan.
Dreet.... (panggilan masuk).
"Siapa sih nelpon di posisi begini," pekik Ray mengambil ponsel di saku.
"Kirain siapa," lanjut Ray mengangkat panggilan telepon Fendi.
"Halo."
"Ha, loha."
"Payah kali di hubungin kau, aman kah?"
"Aman, kenapa emangnya?"
"Gadak, cuma mastikan aja kalau saat ini kau gak lagi berada di hotel."
"Kau kira laki-laki apakah aku. Udalah nanti aja dulu, agak sibuk ini, lagian gak tahan aku ngobrol lama-lama sama lelaki," jelas Ray.
"Iyalah iyalah. Ingat Ray, seenak apapun posisimu saat ini, jangan pernah sedikitpun abaikan ingatan tentang Alisa. Cukup dimasa dulu pernah mengabaikan perasaan itu."
"Makasih saran baiknya, saudara."
"Sudah seharusnya seperti itu sebagai saudara, membantu tanpa pamrih. Kalau nanti balik ke kantor nampak bakso, sekalian amankan dulu."
"Iya iya." Menutup panggilan telepon Fendi membaringkan tubuh di sofa.
"Alisa," ucap Ray menatap satu pandangan lurus sembari memantulkan lembut ponsel di bibir.
"Dia sedang apa ya disana. Sembari menunggu Novi selesai, sebaiknya aku telepon dulu aja kali ya? Ada benarnya juga yang Fendi ucapkan. Hampir aja terbawa suasana bareng Novi," lanjut Ray mencari kontak Alisa.
Ketika bermaksud menghubungi Alisa.
"Permisi," ujar seorang pembantu menghampiri Ray dari belakang.
"Iya." Terbangun Ray menoleh menatap suara tersebut.
"Nyonya muda bilang... Loh Aden? Den, Den Leon? Beneran ini sih Aden?" lanjut pembantu tersebut kaget menatap Ray sembari menunjuk rendah ke arahnya.
"Leon? Siapa Leon?" pekik Ray bingung mengerenyitkan alis menatap sang pembantu.
***
Sampai disini dulu ya kak, bang, tante, emak, ibu dan bapak. Makasih buat yang selalu suport, nanti kita lanjutkan lagi. Buat yang baru gabung klik Fav biar tetap bisa pantau ya kak perkembangan si kecil. Lanjut...
__ADS_1