
Di lain sisi kediaman Alisa malam itu.
"kenapa kamu gak balas pesan dariku Mas? Apa begitu mudahnya kamu merelakan ku pergi?" lirih Alisa terduduk menatap layar ponsel berharap Ray membalas pesan darinya.
Ceklek ..... (Pintu kamar terbuka).
Melihat Alisa melamun memandangi ponsel di kamar, Ibu coba mengerti akan perasaan hatinya.
"Besok kamu akan menikah, maafkan Ibu yang gak bisa berbuat apapun demi kebahagiaan kamu," ujar Ibu perlahan menghampiri.
"Yang sabar ya sayang," lanjut Ibu ketika Alisa memeluk menumpahkan segala kesedihan dalam dirinya.
Sementara itu di kediaman Aldo.
Aldo terlihat sedikit panik berjalan berputar-putar dalam ruang kamar, harap cemas menunggu kabar dari dua pemuda suruhannya yang tak kunjung tiba.
"Kemana mereka kok sampai jam segini belum memberiku kabar. Pada ngapain sih? Punya anak buah goblok banget. Masalah uang aja geraknya cepat," ujarnya terus berjalan mondar mandir.
"Bagaimana jika mereka gagalmenjalankan misi dariku?" batin Aldo sedikit bingung terduduk di atas ranjang tidur.
"Bodoh amatlah. Walaupun gagal toh besok aku juga udah menikah. Gak akan ada lagi yang bisa memisahkan Alisa dariku."
Tak lagi menghiraukan masalah dalam pikirannya, Aldo beranjak memilah baju di lemari pakaian.
"Nah yang ini cakep untuk ku pakai besok."
Kembali ke Ray yang belum juga berhasil tertidur pulas.
"Mungkin dengan mengabaikan pesan darimu, Aku bisa sedikit lebih tenang Alisa, maaf."
Bangkit dari tempat tidur, kembali mengambil ponsel yang sedikit berantakan.
"Untung aja masih nyala," lanjut Ray ketika berhasil menghidupkan kembali ponselnya yang padam.
Meletakkan ponsel di atas meja, kembali berbaring menutupi sekujur tubuh dengan selimut.
Sabtu 5 mei 2019, pukul 04:48.
"Bahkan saat dalam keadaan seperti ini alam masih gak bersahabat. Seumur hidup baru sekarang bangun secepat ini," gumam Ray menatap jam dinding bangkit berjalan ke kamar mandi mengambil wudhu mensucikan diri menghadap sang Ilahi.
Setelah selesai mengambil wudhu dan mendengar adzan shubuh berkumandang, Ray segera melaksanakan kewajiban.
"Aku sadar jika aku tak pantas meminta begitu banyak hal dari-Mu. Namun satu hal yang ingin ku pinta, cukup kuatkan diri ini ketika menghadapi cobaan dari-Mu," batin Ray menunduk berdoa mengangkat sejajar kedua tangan menyambut pagi yang telah kembali.
__ADS_1
Setelah selesai menunaikan kewajiban, Ray langsung bersiap mengemas pakaian.
"Suara ini memang gak sanggup menyebut namamu dengan lantang, Alisa. Namun dalam diam, entah berapa kali nama itu ku sebut," batin Ray saat melihat baju pemberian Alisa.
Setelah selesai mengemas dan merapikan beberapa perlengkapan, Ray berjalan keluar kamar berniat duduk santai menunggu waktu.
"Terimah kasih untuk kalian yang telah membuatku mengerti arti persahabatan," batin Ray tersenyum melihat Fendi dan Fii tertidur pulas di atas kursi ruang tamu.
"Em, iya sayang Erlin," gumam Fendi mengigau.
Ray menggelengkan kepala tersenyum melihat Fendi menggigau.
1 jam berlalu, Fendi dan Fii telah terbangun dari tidur pulasnya.
"Ini makan dulu, awali pagi dengan sarapan nasi gurih. Kemarin udah ku coba sarapan pake harapan, eh jam 10 pagi udah lapar lagi," sambut Ray meletakkan sarapan dihadapan mereka berdua.
"Masih lagi jam segini, udah mulai kumat. Jam berapa rencana berangkat?" tanya Fii.
"Siang ini jam 2."
Hari ini adalah hari pernikahan Alisa dengan Aldo, pernikahan yang tak semestinya terjadi. Ray yang sadar jika terus memikirkan hal tersebut sangat tidak baik untuk mentalnya, mencari kesibukkan lain seperti bermain game baru. Terus bermain game tanpa terasa waktu menunjukan pukul 11 siang.
"Udah jam sebelas ini, berangkat kita?" ujar Fii berdiri dihadapan Ray.
"Bentar, nanggung ini."
Kini Ray mengetahui seperti apa sakit karena tak bisa memiliki. Jauh sebelumnya ia tak begitu mengerti tentang perasaan. Dirinya yang mengenal Alisa, Juwita, Suci, Ezza, dan Yuli, adalah bukti bahwa sedikitpun ia tak mengerti apa arti cinta.
"Makasih udah belaik ngantarin aku kemari. Lebih baik sekarang kalian langsung ke tempat Alisa sebelum terlambat menghadiri cara tersebut," jelas Ray menatap mereka ketika sampai di stasiun kereta.
"Tapi Ray, kamu beneran aman gak ada niat bunuh diri kan?" sahut Fendi.
"Enggak samapi segitunya juga, Ngatno. Masih waras aku gak segila itu," balas Ray tersenyum.
"Yaudah kalau begitu kami pamit. Ingat pesan mama, jangan sampai melakukan hal yang," pekik Fii.
"Siap," singkat Ray kemudia saling berpelukan merasakan yang tak terlihat dan tak mampu berkata apapun.
Tak menghadiri pernikahan Alisa bukan karena Ray ingin lari dari kenyataan. Hanya saja ia tak menginginkan ada keributan di hari bahagia Alisa. Fendi dan Fii melanjutkan perjalanan mereka tuk menghadiri pernikahan Alisa meninggalkan Ray sendiri.
Ray berjalan menuju ruang tunggu yang masih ada 3 jam waktu tersisa.
"Ah sampai juga, akhirnya hari ini pulang kampung," ujarnya ketika duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
Waktu berlalu dengan singkat hingga jam keberangkatan dirinya tiba. Segera bangkit menuju kereta yang telah berhenti.
Ketika ingin menaiki kereta yang baru tiba...
"Mas Ray," Teriakan keras dari arah belakang.
Suara yang tak begitu asing memanggil namanya dengan cepat berbalik arah kebelakang.
"Alisa?" ucap Ray bingung berjalan mendekati.
Memakai gaun pengantin yang anggun lengkap dengan riasan di wajah bak seorang putri, berlari menghampiri Ray.
"Mas, jangan pergi, jangan pergi," lirih Alisa menangis memeluk.
"Gak apa-apa Alisa, "Di hari bahagiamu, jangan bersedih seperti ini," jelas Ray membalas pelukan Alisa begitu erat dengan mata terpejam.
"Eh tapi tunggu dulu, ini kan masih jam acara kamu di mulai. Kenapa kamu bisa berada disini, Alisa?" tanya Ray bingung melepas pelukannya menatap dekat wajah Alisa.
"Jangan bilang kalau kamu barusan kabur dari rumah?" lanjut Ray kembali mengerutkan wajah.
Mengatur nafas yang berantakan, Alisa coba lebih menenangkan diri ketika hendak menjelaskan pada Ray atas apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku tidak kabur Mas, tapi Y-Yuli tadi..."
"Kenapa dengan Yuli? Dia mau menculik kamu?"
"Bukan Mas, kita duduk aja dulu gimana?" pinta Alisa.
"Ini udah jam keberangkatan ku, Alisa. Maaf aku tak punya banyak waktu untuk itu.
Alisa berlari menuju loket kereta dan memesan jam keberangkatan yang sama dengan Ray. Terlihat memohon di depan loket, Kemudian berjalan kembali menghampiri.
"Apa yang kamu lakuin barusan? Kenapa ikut pergi bersama ku?" ujar Ray bingung.
"Aku akan ceritakan semua yang terjadi nanti saat kita duduk di lorong kereta yang sama," balas Alisa tersenyum.
Menggenggam tangan Ray menaiki gerbong kereta, menatap Alisa penuh kebingungan.
Ketika duduk di kursi kereta bersama Alisa.
"Jadi begini Mas ceritanya, ketika..."
***
__ADS_1
Sampai di sini dulu kak, terimakasih telah mengikuti alur ini, jangan lupa kabari seluruh penduduk dimana kakak berada untuk Favorit apalah itu semua namanya komen juga ajak pak kades sebagai bentuk dukungan bila suka alur ini kak, makasih.
Lanjut...