
(Flash back 15 menit sebelum keberangkatan kereta)
"Em, Mas." Mengusap mata membuka sedikit pandangan yang masih samar.
"Mas, kamu di mana Mas?" Sedikit panik melihat keberadaan Ray tidak ada di sebelahnya. Beranjak berdiri melihat sisi kanan dan kiri, Alisa mengetahui jika kereta sedang berada di pemberhentian stasiun kereta.
Menunggu beberapa menit namun Ray tak kunjung kembali, akhirnya Alisa memutuskan turun untuk mencari Ray secepat mungkin melihat kereta yang tak lama lagi akan segera melanjutkan perjalanannya.
Ketika berdiri terlihat kebingungan, "Lagi cari siapa Mbak?" sapa wanita berkacamata ketika Alisa melewati lorong tersebut.
"Aku lagi cari calon suami ku kak, tadi di sini."
"Oh, pemuda berhidung mancung seperti orang India tadi toh?"
"Kakak tau dia pergi kemana?"
"Sepertinya keluar sih mbak, soalnya tadi berselisih samaku," pungkas wanita tersebut.
"Terimakasih infonya kak, Aku pergi dulu."
"Semangat mbak mengejar cinta sejati," pungkas wanita tersebut.
Ketika sampai di depan pintu gerbong kereta.
"Maaf Mbak, mau pergi kemana? Sebentar lagi kereta akan berjalan kembali," ujar petugas menghalangi Alisa yang hendak keluar.
"Sebentar aja Pak, suamiku masih berada di luar sana," jawab Alisa menunjuk ke suatu arah.
"Usahakan cepat ya Ibu, jangan terlalu lama."
"Baik Pak, terimakasih."
Kembali berjalan terus melihat sisi kanan kiri, tak juga menemukan keberadaan Ray. Melihat ruangan istirahat mengecek masuk ke dalam namun Ray tak juga ia temukan.
"Kamu di mana Mas, kok gak keliatan sih," gerutu Alisa kembali berjalan mengelilingi seluruh halaman stasiun.
Terus mencari setiap sisi ruangan, hingga akhirnya Alisa mendengar suara peringatan kereta tetap terus mencari Ray.
Ten, gejes gejes. (Suara kereta berjalan).
"Mas."
Sontak Alisa langsung berlari karena takut jika Ray telah kembali ke gerbong terlebih dahulu. Ketika hampir mendekati pintu ruangan keluar, ia melihat Ray berlari mengejar kereta tak mengetahui keberadaan Alisa.
"Loh itu kan Mas Ray? Aku kerjain aja sekalian," pekik Alisa perasaan gelisah berubah menjadi senang melihat Ray berdiri menatap kereta yang telah berlalu.
Melihat Ray kembali tertunduk di kursi tunggu stasiun, hati Alisa tak sanggup ingin terus menjahilinya. Kemudian memutuskan untuk segera menghampiri Ray.
(Flashback off)
"Begitu ceritanya kenapa aku bisa di sini bareng kamu, Mas," ujar Alisa menggenggam tangan Ray.
__ADS_1
"Kamu ini, bagaimana kalau tadi aku berhasil naik dan kamu tertinggal di sini?"
"Ya paling mewek guling-gulingan aku," balasnya menyengirkan senyuman.
"Eh tapi Mas, sekarang kita kembalinya kayak mana?" lanjut Alisa kembali menoleh melihat sisi kanan kiri.
"Tidur sini aja deh, kan di temenin kamu," balas Ray menyandarkan badan di kursi dengan tangan merentang.
"Ih apaan sih kamu Mas, mau macem-macem iya sama aku?" ujar Alisa cemberut.
"Siapa juga yang mau macam-ma..."
Ciuman bibir singkat Alisa membuat Ray berhenti berbicara.
"Udah segitu aja, kalau penasaran cepetan dong nikahin akunya," lanjut Alisa kembali tersenyum menatap dekat.
"Ketika sampai di rumah, Aku akan menikahimu," jelas Ray menyentuh mengusap lembut pipi Alisa.
"Kamu ganti baju dulu sana, itu ada toilet dan ini pakaian ganti kamu," lanjut Ray memberikan pakaian ganti dan Alisa beranjak bangkit menuju toilet umum.
"Tunggu di sini, jangan pergi kemana-mana lagi," ucapnya singkat.
"Siap tuan putri."
Tak lama setelahnya, Alisa kembali setelah usai berbenah diri.
"Cantiknya, kamu belum sadar diri kan ini sayang? Kalau kamu sadar pasti pergi ninggalin aku," sapa Ray menjahili Alisa seperti memikatnya dengan pelet.
"Yaudah kalau begitu kita cari halte bis saja. Depan sana mungkin ada," sahut Ray bangkit berdiri.
Berjalan kembali menggandeng tangan Alisa.
20 menit berlalu.
Hari semakin gelap namun tak juga menemukan halte bis. Melihat Alisa tertunduk, Ray mengerti jika Alisa sedikit kelelahan juga lapar.
"Gravitasi bumi terjadi setiap hari, khususnya di jam malam seperti ini, sebab anarkis terjadi ketika perut dalam keadaan lapar," ujar Ray mengajak Alisa makan malam.
"Ribet bener Mas, tinggal bilang makan malam aja kok muter-muter."
"Nah itu di seberang sana ada warung, kita makan di situ ya," balas Ray masih menggandeng Alisa.
"Aku ikut kamu aja. Kemanapun kamu pergi aku ikut."
Setelah sampai di warung makan, langsung memesan dan menyantap beberapa hidangan. Setelah makan malam selesai, kembali melanjutkan perjalanan.
"Kita lanjut kembali?" ujar Ray berdiri.
Alisa mengangguk tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Ketika hendak berdiri, Alisa mengalami kram pada kaki, hal wajar karena terlalu banyak melakukan perjalanan jauh bersama.
"Tunggu sebentar ya sayang," ucap Ray berjalan menghampiri penjual warung.
__ADS_1
"Permisi Bu, apa di sini ada penginapan?"
"Kebetulan ada Mas, gak seberapa jauh diri sini sih. Nanti di depan sana ada perempatan langsung ambil kiri. Nah disitu ada penginapan, tapi gak mewah sih penginapannya."
"Makasih ya Bu, ada penginapan aja udah syukur Bu," lanjut Ray berlalu kembali menghampiri Alisa.
"Kita bermalam di sana ya sayang. Aku gak tega liat kamu seperti ini," bisik membopong Alisa.
Menaiki becak yang berada tak jauh dari warung makan tersebut, segera menuju penginapan yang telah di beritahukan. Setelah sampai langsung turun menuju meja kasir segera memesan kamar.
"Ini kunci kamarnya, semoga bahagia," ujar sang pelayan memberikan kunci kamar.
Ray berjalan kembali menuju becak, menghampiri Alisa yang menunggunya.
"Ini ongkosnya, Pak," ucap Ray memberikan uang ke bapak penarik becak.
"Makasih Mas." Langsung bergegas pergi.
"Kamu masih bisa berjalan sayang?" tanya Ray ke Alisa berniat membopongnya.
Alisa terdiam merintih sakit. Tanpa banyak pikir, Ray langsung menggendong Alisa di pangkuan depan.
Layaknya pangeran yang menggendong putri kesayangan, berjalan memasuki ruang kamar yang telah di pesan. Meminta bantuan satpam menunjukan kamar dan membukakan pintu kamar tersebut.
"Cie romantis bener Mas mau bulan madu pakai gendong segala," ujar satpam penginapan membukakan pintu kamar.
"Bukan bulan madu Pak, ini kakinya sakit," balas Ray memasuki kamar.
"Selamat berbahagia Mas, pasti bukan kaki aja yang sakit nanti, semuanya pasti sakit," balas satpam nyengir menutup pintu kamar.
Menggelengkan kepala langsung membaringkan Alisa di ranjang tidur.
"Kamu istirahat dulu, maaf sudah membuatmu lelah hari ini," singkat Ray menutupi tubuh Alisa dengan selimut.
"Mas, kamu mau kemana? Menarik lengan Ray.
"Aku gak pergi kemana-kemana kok, pengen keluar bentar cari rokok."
"Aku gak mau di tinggal sendirian ih, temenin aku tidur di sini," ujarnya menyuruh duduk di sebelah untuk menemaninya tertidur.
"Em, tuan putri manja bener."
Membatalkan niat keluar, Ray duduk di sebelah Alisa.
"Pokoknya temenin aku," pekik Alisa menggenggam erat sisi kanan Ray perlahan mulai memejamkan mata.
Sesekali Ray melihat pancaran wajah sendu indah Alisa. Bibir tipis miliknya terus menggangu pikiran Ray malam itu. Coba menahan, Ray memalingkan pandangan bermaksud memenjarakan nafsunya dan mulai ikut memejamkan kedua mata.
***
Sampai di sini dulu kak, cuma bisa bilang makasih sudah ikutin terus cerita ini, kita lanjut...
__ADS_1