Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 109


__ADS_3

Setibanya di kantor.


"Bu," salam Ray pada Novi yang telah menunggu di ruangan miliknya.


"Ganti baju kamu dengan ini." Meletakkan pakaian ganti untuk Ray lengkap dengan jas hitam.


"Buka disini, Bu?"


"Iya, buka sekarang di hadapanku!" Bentak Novi.


"Bu, mana mungkin aku.."


"Ya ganti di ruang gantilah Ray, masak iya di sini? Kamu pikir aku senang apa?"


"Maaf Bu, kirain beneran," jawab Ray mengelus dada segera mengambil pakaian tersebut.


15 menit setelah mengganti pakaian dan kembali menemui Novi yang masih menunggu di ruangan tersebut.


"Permisi Bu," ucap Ray melihat Novi duduk santai bermain ponsel.


"Kamu sudah siap?" Masih menunduk sembari jari tangan sibuk mengetik sesuatu.


"Sudah Bu," singkat Ray.


"Yasudah kalau begitu..."


Seketika Novi terdiam saat mendongak menatap Ray berdiri di hadapannya.


"Bu," lanjut Ray melambaikan tangan ke wajah Novi.


"Kok malah bengong?" batin Ray.


"Bu!" Menaikan sedikit nada.


"Ah iya maaf, yasudah kita berangkat sekarang." Langsung berdiri mengambil tas di meja berjalan mendahului Ray.


"Kok? Ah entahlah," pekik Ray berjalan mengikutinya.


Memasuki mobil segera pergi menemui ayah Novi yang telah menunggu di rumahnya. Setibanya di rumah Novi, Dent menjelaskan beberapa jenis perusahaan yang telah lama di kelola keluarga Hendra. Perusahaan yang bergerak di bidang industri, pertambangan dan lain sebagainya.


Selama ini, Deny beserta ketiga temannya itu telah berjasa merawat perusahaan-perusahaan tersebut dengan kurun waktu yang cukup lama. Mengunjungi satu persatu perusahaan tersebut sembari mengenalkan Ray kembali pada seluruh pekerja yang ada.


Para pekerja beserta jajaran manager staf kantor menyambut Ray dengan sangat baik serta antusias yang cukup tinggi ketika mereka melihat bahwa Leon masih hidup.


"Ini adalah kabar gembira bagi kita semua yang telah mengabdi cukup lama di perusahaan Hendrawan. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sang putra telah kembali," ujar Deny berdiri di ruangan rapat memperkenalkan Ray di iringi tepukan tangan bersahut-sahutan.


"Sekarang kita akan dengarkan kata sambutan dari Leon," lanjut Deny.


"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih untuk seluruh karyawan yang telah merawat serta bekerja dengan baik di perusahaan ini. Mungkin ini terlalu cepat bagi saya untuk menunjukkan diri kembali setelah insiden dua tahun yang lalu. Maaf jika saya terlihat melupakan jasa kalian semua. Jika bukan karena beliau, mungkin kita tidak akan pernah bertemu kembali," jelas Ray melirik Deny kembali menatap seluruh karyawan yang duduk di hadapannya.


"Maaf sebelumnya pak. Perkenalkan, Saya Santo, selaku manager produksi di perusahan ini. Saya ingin bertanya, jadi kapan bapak akan mulai aktif kembali memimpin perusahaan yang ada?"


"Setelah apa yang telah terjadi, mungkin dalam waktu enam bulan ke depan," jelas Ray.

__ADS_1


"Kenapa butuh waktu selama itu, Pak?" sahut karyawan lainnya.


Ray menoleh ke kembali menatap Deni yang menggelengkan kepala.


"Ada beberapa hal yang terlalu sulit untuk di jelaskan, Saya harap kalian semua bisa memahami kondisi ini," jelas Ray.


"Baiklah pak jika seperti itu kemauan anda. Kami akan selalu mendukung apapun itu demi kebaikan bapak," sambung yang lainnya.


"Begini rasanya jadi bos ya? Enak juga ternyata," batin Ray.


"Yasudah kalau begitu pertemuan ini sampai disini dulu berhubung ada hal lain yang harus di selesaikan Leon," sahut Deny.


Setelah selesai mengadakan pertemuan kepada para petinggi perusahaan, Ray berjalan keluar bersama Novi, Deny lengkap dengan beberapa pengawalnya termasuk Tomi.


"Maafkan atas sikap lancang saya kemarin, Pak," ujar Tomi menghampiri menundukkan wajah ketika Ray hendak masuk mobil.


"Angkat kepalamu, tidak ada kesalahan apapun yang harus di maafkan," jelas Ray.


"Terimakasih, Pak," lanjut Tomi.


"Oh iya, tolong jangan pernah katakan pada siapapun jika aku adalah Leon," bisik Ray pada Tomi.


"Baik pak. Tapi, kenapa harus menyamar menjadi supir pribadi Novi?"


"Jangan menanyakan hal pribadi, sebab itu terlalu sensitif untuk di dengar."


"Baik pak."


"Yasudah kalau begitu terimakasih," singkat Ray masuk kedalam mobil.


"Maaf om, tapi sedikitpun ingatan ini gak mengalami perubahan apapun."


"Kalau bisa secepatnya kalian segera menikah agar lebih enak di pandang orang lain," desak Deny.


"Ayah, bukankah kita sudah pernah meributkan masalah ini?" sahut Novi menoleh ke belakang.


"Iya ayah paham dan cukup mengerti keadaan kalian saat ini. Tapi sebagai orang tua, Ayah hanya memikirkan kebahagiaan kamu nak, hanya itu yang ada dalam pikiran ayah," pungkas Deny.


"Aku cuma gak ingin menikah dengan Leon secara terpaksa ayah. Dia akan menikahiku jika dia benar mencintaiku, bukan karena situasi yang memaksa seperti ini," jelas Novi meyakinkan.


"Debat terus, kapanlah kelarnya bahas masalah nikah ini," gumam Ray dalam hati.


"Apakah salah jika ayah dan mama kamu ingin sekali segera memiliki cucu?"


"Novi sudah cukup besar untuk menentukan jalan hidup sendiri!" pekik Novi.


"Jalan hidup apa jalan ninja?" pikir Ray.


"Dari dulu memang kamu gak pernah bisa mengerti perasaan orang tua," sindir Deny.


"Aku? Bukankah selama ini ayah yang terlalu mengekang hidupku?" lanjut Novi memangku kedua tangan.


"Berani kamu berkata seperti itu kepada A-a.."

__ADS_1


"AYAH."


"Aish udah kayak sinetron di film-film bah," batin Ray melihat Deny meremas dada merasakan sakit di area jantung.


"Om, kenapa Om," sahut Ray.


"Rumah sakit, rumah sakit," ucap Novi semakin panik melihat Deni tak sadarkan diri.


Setibanya di rumah sakit.


"Ayah, maafkan aku, Yah," lirih Novi menutup wajah menunduk di depan kursi tunggu.


Berada di sampingnya, tanpa sadar tangan Ray mengelus pundak bermaksud memberinya semangat.


"Doain semoga semuanya baik-baik saja," tutur Ray.


"Ayah," lirih Novi kembali bersandar di dekapan Ray.


Ibunda Novi yang mendengar kabar tersebut dengan cepat menyusul ke alamat inap ayahnya, tak butuh waktu lama untuknya segera tiba.


"Novi," ucap sang ibu berjalan menghampiri.


Dengan berlinang air mata Novi bangkit langsung memeluk erat.


"Ma, maafin aku. Karena aku, Ayah jadi seperti ini."


"Kenapa kamu selalu berdebat dengan ayah meski kamu tau jika ayahmu memiliki jantung yang lema?" Memeluk Novi memejamkan mata.


Ceklek...


"Dokter, gimana kondisi ayah saya, Dok?" tanya Novi berlari mendekati.


"Kondisi beliau saat ini sudah mulai membaik. Perlahan detak jantungnya kembali normal dan sudah membuka mata," singkat Dokter tersenyum.


"Alhamdulillah," lirih Novi kembali memeluk Ibu.


"Alhamdulilah," sahut Ray.


"Dok, boleh kami melihatnya?" lanjut sang Ibu.


"Saya sarankan agar jangan melakukan perbincangan ataupun bahasan yang bisa memicu shock atau stres pasien meningkat," pungkas dokter.


"Yasudah kalau begitu saya tinggal dulu, permisi," lanjut dokter berlalu pergi.


Ketiganya segera masuk keruang rawat Deny, sedang para pengawal hanya berdiri menjaga di luar.


"Ayah," ucap Novi langsung memeluk Deny yang terbaring lemah.


"Maafin Novi, Yah," lanjut Novi mencium tangan Deny.


Melihat sang putri bersedih, Deny tersenyum sembari mengelus kepala Novi. Dengan nada lirih ia berkata, "Cucu."


***

__ADS_1


Sampai disinu dulu ya cucu cucu masa depan, buat kak akak yang baca, jangan lupa tinggalkan jejak agar cucu kalian suatu saat mengerti kalau kalian pernah baca cerita ini. He...he...he, lanjut.


__ADS_2