
"Kamu kangen dia ya mas?" bisik Alisa tersenyum menatap dekat ketika mengalungkan kedua tangan di leher Ray.
"Merindukan wanita selain dirimu? Itu adalah tindak kriminal paling kejam seumur hidup dalam hatiku," balas menatap Alisa.
"Em, paling pinter kalau berucap manis ya, cocoknya jadi salesman kamu mas," pekik Alisa memencet hidung.
"Kan memang bergerak di bidang tersebut sayang."
"Paling bohong macem yang udah-udah, ya kan?"
"Aku tak ingin memaksa agar kamu mempercayaiku sepenuhnya. Namun, ketika apa yang terucap keluar dari bibir ini, jelas jika itu adalah kebenaran yang terjadi," jelas Ray mengecium kening Alisa.
"Beneran?"
"Iya loh, ini buktinya," lanjut Ray menunjukkan cincin pernikahan di jari manis.
"Makasih ya mas," balas Alisa memeluk.
"Sama-sama sayang, semangat untuk nanti malam ya," lanjut Ray.
"Jangan mulai lagi deh mas, malu tau," gumam Alisa.
"Lah kenapa malu, bukannya itu hal wajib sebagai dua sejoli?"
"Ya kalau hanya berdua, ini kan posisinya ramai begini."
"Ehem, ehem, dunia serasa milik berdua ya. Kita-kita pada di anggap numpang ceritanya," ketus Fendi berdiri di belakang.
"Mana boleh iri." Ray berbalik merangkul Alisa yang memeluk.
"Jadi gimana kelanjutan permainan ini?" sahut Fii ikut merangkul Mia.
Fendi menoleh ke arah Erlin penuh tatapan sedih.
"Iya iya," sahut Erlin merangkul lengan Fendi.
Permainan mereka kala itu tak terasa larut hingga sore hari tanpa ada satupu tim yang berhasil memenangkannya.
Beranjak dari pantai menuju villa terdekat untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah sekaligus menyantap hidangan karena perut begitu lapar terlalu lama bermain.
"Nah di sini tempatnya, buruan yok masuk," ujar Mia ketika turun dari mobil bersamaan.
"Beneran disini? Gede bener," sahut Fii bengong melihat megahnya bangunan tersebut.
"Apa gak kemahalan ini, Mia? Bukan tipe kantong kami kalau model penginapan yang begini," pekik Fendi menatap tingkat bangunan.
"Tenang aja bang, pemilik penginapan ini rekan akrab ayah aku kok," balas Mia tersenyum.
"Udah bagus di cariin Mia penginapan, masih aja pada komplain," cetus Ray.
"Bukan komplain, cuma takut manja badan ini yang biasa tidur di kursi," singkat Fendi.
"Yaudah buruan masuk, para lelaki khusus bawain barang ya," sambung Erlin menarik Alisa juga Mia.
__ADS_1
"Mimpi apalah kemarin kau, bakalan jadi sultan kau ini," bisik Fendi ke Fii.
"Pepatah arab jerman pernah mengatakan, jika kamu tidak bisa sukses dengan diri sendiri, maka carilah sukses itu dengan menumpang kesuksesan orang lain," balas Fii.
"Udah kelar bisik-bisiknya?" pekik Ray.
"Ampun suhu," jawab bersamaan.
Berjalan masuk dan segera memboking tiga kamar.
Satu untuk Ray dan Alisa, satu untuk Fendi dan Fii, dan yang terakhir untuk Mia dan Erlin. Kamar yang hanya berbeda ruangan namun tetap satu barisan lorong.
"Pada lama bener sih di luar, ngapain aja?" pekik Erlin yang telah menunggu di ruang tamu hotel bersama Alisa dan Mia menyambut ketiga lelaki.
"Tadi ada sedikit urusan," sahut Fendi.
"Nih kuncinya," sahut Mia memberikan kunci kamar ke Fendi dan Ray.
"Nanti kalau udah selesai berbenah diri, saling kasih kabar," lanjut Erlin bergegas menuju kamar masing-masing.
"Siap sayang," jelas Fendi.
"Ok," sahut bergantian.
Didalam kamar Ray Alisa.
Ceklek...
"Ah." Berbaring langsung di sofa kamar.
"Kamu aja duluan mandi sayang, ntar gantian aku."
"Yaudah kalau gitu," pungkas Alisa segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit, Ray bangkit melepas seluruh pakaian yang ia kenakan, menghampiri Alisa yang berada di balik kaca ruang mandi tersebut membuka pintu kaca langsung mendekap tubuh Alisa.
Mendapatkan sikap permintaan akan diri Ray, Alisa mengerti membiarkan bermadu kasih saling menikmati. Hal itu terjadi begitu saja, wajar karena pernikahan mereka atas dasar rasa cinta. Tak ada penolakan antara satu dengan lainnya.
Setelah usai bertempur langsung berbenah diri, keduanya keluar ruangan menghampiri Fendi, Fii, Erlin dan Mia yang sudah terlebih dahulu menunggu di lantai bawah.
"Maaf agak telat," sapa Ray ketika bergabung di meja.
"Iya, iya, wajar kok telat kan kejar target," sahut Fendi sedikit usil.
"Gesrek kau memang, kau kira target perusahaan apa," gumam Ray.
"Ini mas makan dulu, jangan ribut terus," sahut Alisa menyiapkan makan malam untuk Ray.
Suasana yang begitu tenang dan nyaman, seketika hancur karena panggilan masuk ke telepon Alisa.
"Apa! Gak mungkin, enggak!" Alisa menjatuhkan ponsel dengan tubuh perlahan terjatuh lemah.
Ray yang berada di sisinya, langsung menangkap tubuh Alisa.
__ADS_1
"Sayang, sayang, bangun," ucap Ray menepuk lembut pipi Alisa.
"Alisa, Alisa," sahut Mia, Erlin terlihat panik melihat Alisa tak sadarkan diri.
Ray melihat ke sisi ponsel yang masih berada di panggilan tersebut, mencari tau hal apa yang telah terjadi. Hanya suara kebisingan menangis yang terdengar ketika Ray menempelkan ponsel tersebut di telinga.
"Halo."
"Ayah Nak, Ayah telah dibunuh seseorang!"
Mendengar peryataan memilukan, Ray terkejut begitu hebatnya hingga bibir tak mampu berucap.
Suasana bahagia seharian yang telah mereka lewati bersama dalam sekejap berubah menjadi penuh kesedihan tangisan malam. Tak sanggup mendengar peryataan tersebut membuat Alisa shock hingga tak sadarkan diri.
"Siapa yang telah membunuh ayah?" pikir Ray bingung mengingat beliau sosok yang sangat tegas dan baik.
"Sayang, bangun sayang," lanjut Ray kembali menepuk lembut pipi Alisa.
"Ray, berikan ini padanya," sahut Mia memberikan minyak kayu putih.
Menyodorkan ke pernafasan Alisa, perlahan membuka mata.
"Alisa bangun sayang," sahut Erlin mengelus kepala Alisa.
"Mas, Ayah mas, Ayah," lirihnya menitihkan air mata.
Tak sanggup melihat tangis pilu Alisa, membuat Ray langsung mendekap tubuhnya.
"Ray, ada apa sebenarnya ini? Coba jelaskan pada kami apa yang sebenarnya telah terjadi, " ketus Fendi bingung.
"Barusan telepon dari rumah, Ayah telah dibunuh oleh seseorang yang tak diketahui identitasnya," balas Ray.
"Apa?" Mia Erlin terkejut.
"Dibunuh?" lanjut Mia Erlin.
"Ya Allah. Ray, segera bawa Alisa langsung menuju mobil. Mia dan Erlin kalian bantu langsung kemas seluruh pakaian, Fii selesaikan seluruh administrasi agar kita bisa bergegas dengan cepat," jelas Fendi.
Mia dan Erlin langsung bergegas menuju kamar untuk mengemas seluruh pakaian. Fii berlari menyelesaikan seluruh administrasi, sedang Ray menggendong Alisa menuju mobil bersama Fendi.
Ketika mobil telah berjalan.
"Udah dapat info alamat rumah sakitnya, Ray?" tanya Fendi menyetir mobil.
"Rumah sakit permata bunda jalan jendral sudirman."
"Mas, Ayah." Alisa kembali merintih.
Ray yang tak sanggup berkata apapun, hanya memeluk mencium kepala Alisa yang berada dalam dekapan tubuhnya.
"Cobaan apalagi ini, Tuhan. Kenapa begitu rumit derita yang harus kami jalani," batin Ray mengusap lembut linangan air mata Alisa.
***
__ADS_1
Sampai disini dulu ya kak, Fav komen apalah itu semuanya pasti di terima author dengan baik. Kita akan terus lanjut sampai kisah Ray dan Alisa mengudara, makasih.
Kita lanjut....