
Bagi Ray, tidur adalah kebahagiaan tersendiri dalam hidup, beraktivitas dan terlalu banyak menghambiskan stamina adalah perbuatan sia-sia. Dengan menghemat energi, mungkin daya tahan tubuh akan bertahan lebih lama.
Keseharian yang ia lakukan tergantung apa yang ia mau. Ketika waktu luang itu ada dan pikiran tak bisa berfikir, kegiatan yang akan ia lakukan hanya menonton anime sambil berbaring. Bahkan seharian penuh mampu menonton hanya demi kesenangan diri sendiri.
Menggunakan pikiran hanya demi cinta dan cinta itu hal membosankan. Kebanyakan orang menilainya pemalas meski mereka tau dia bekerja.
Mampu bangun tidur pukul 13:11 siang hari adalah prestasinya di usia dini. Sesuatu yang membanggakan meskipun membanggakan di kalangan para pria yang gak ingin melakukan apa-apa.
Dan saat ini yang ia lakukan hanya berbaring menatap kosong langit-langit.
"Nak," Ibu memanggil.
***
Nur Amira. I adalah wanita yang mengandung melahirkan serta membesarkan Ray dengan penuh kasih sayang. Apa yang ia lakukan selama ini takkan pernah cukup jika di ungkapkan dengan kata-kata.
Pertama kali sang ibu mengenal sang ayah itu saat dimana sang ayah ngeband di desa tempat ibu tinggal. Cerita singkat pandangan pertama mereka yang ibu ceritakan pada Ray.
Pratama Wijaya nama lengkap sang ayah. Selain pekerja swasta, menjadi musisi desa ialah aktivitas kegiatannya di waktu senggang, lengkap dengan rambut gondrong khasnya yang mewakili identik dari seorang musisi.
Tak begitu banyak hal yang Ray tau darinya, sebab terlalu canggung ketika anak lelaki berbicara dengan seorang ayah.
***
"Iya Bu," jawabnya masih berbaring.
"Kemari sebentar." Ibu memanggil dari ruang tamu.
Berdiri menghampiri Ibu, "Ada apa, Bu?"
"Kapan kamu kenalin calonmu itu ke Ibu? Ibu penasaran selama ini seperti apa wanita yang kamu pilih."
"Besok malam Aku bawa kemari," jawab Ray singkat melanjutkan berbaring di lantai.
Mendengar jawaban itu, ibu tersenyum, " Bener ya? awas kalau bohong, coret nanti namamu dari kartu keluarga."
"Paling di adopsi orang lain Aku," balas Ray dengan jahilnya.
"Rugilah, makan banyak, tidur hari libur gak tau aturan, suka melayap terbang kemana-mana gitu, ngasih duit ke Aku gak pernah banyak kali," sambut Rama ketika hendak masuk ke kamar.
"Ikut campur aja pun budak satu ini, harusnya bangga punya abang yang gak kejam begini," balas Ray menatap Rama.
Dengan wajah menyengir Rama membalas, "Bangga kali pun, tapi pas di kasih duit."
"Duit aja yang kau tau, nih." Menyodorkan Rama uang.
"Bangganya Aku punya abang kek gini Bu," ujar Rama mengambil uang tersebut.
"Yasudah, Ibu mau lanjut dulu nemenin ayahmu di meja makan."
Keesokan harinya tepat pukul 19:30 Ray menjemput Alisa kemudian bergegas kembali hingga akhirnya tiba di rumah Ray setengah jam setelahnya.
__ADS_1
Setelah saling mengenal, obrolan Ibu, Ray dan Alisa di ruang tamu mulai terlihat sedikit serius.
"Kamu baik, terlihat pintar juga memiliki paras yang menawan. Apa kamu yakin dengan dia?" ujar Ibu.
"Aku yakin Bu dengan dia, tanpa tau kenapa, tapi Aku sayang Bu sama Alisa," jawab Ray penuh simpati.
"Diam kamu, Ibu tanya Lisa bukan kamu," tegas Ibu.
Seketika Alisa tersenyum renyah, suasana dalam hatinya yang saat itu terlihat gugup mencair begitu saja, wajar karena pertemuan Lisa dengan Ibunda Ray adalah pengalaman pertama baginya.
"Aku suka mas Ray Bu, dia sangat baik padaku, dia juga gak pernah mengenal wanita lain. Belum lagi dia selalu menjaga serta menyayangiku setulus hatinya. Meski kadang aku egois, mas Ray tetap sabar menghadapi ku. Aku yakin hanya dia lelaki yang tepat untukku Bu," ucap Alisa dengan nada lembut.
Terus asik mengobrol tak terasa malam semakin larut, Ray segera bersiap untuk mengatarkan Alisa kembali.
"Aku pamit dulu Bu." Ray menyalim tangan.
"Lisa juga, Bu." Lisa pun ikut menyalim.
Setelah bersalaman, langsung menuju sepeda motor menyalakan mesin. Sepanjang perjalanan di atas sepeda motor, Alisa terus memeluk begitu erat, entah itu karena dia senang atau kedinginan. Pikiran Ray malam itu hanya cepat sampai dirumah Alisa, pamit kembali lalu beristirahat tidur.
Setibanya di rumah Alisa,.
"Eh baru juga di omongin udah sampai," sambut Ibu Alisa yang lagi terduduk santai bersama ayahnya di teras rumah.
"Bagiamana perkenalannya, lancar kan?" tanya Ayah Alisa mulai berdiri.
"Alhamdulilah lancar-lancar aja kok Yah," jawab Alisa menyalim kedua tangan orang tuanya.
"Maaf ini Pak, Bu sampai larut malam begini, keasikan ngbrol tadi dirumah," sambung Ray.
"Iyah gak apa-apa. Kamu gak mau singgah dulu Nak?" balas Ibu Alisa.
"Lain kali pasti Aku mampir Bu, gak enak sama tetangga kan uda larut begini."
"Yasudah kalau begitu hati-hati di jalan," sahut Ayah Alisa.
"Pamit ya Pak, Bu." Ray kembali menyalim tangan.
"Iya."
Ray berjalan kembali menuju sepeda motor di dampingin Alisa.
"Hati-hati di jalan mas, jangan ngebut," ujar Alisa menyalim tangan Ray.
"Siap komandan," balas Ray mengelus kepala Alisa kemudian beranjak pergi.
Setibanya dirumah Ray langsung menuju kamar,.
"Argh."
Melepas pakaian, kemudian terbaring di atas ranjang, mengambil ponsel berniat melanjutkan menonton episode terbaru animenya.
__ADS_1
"Nonton gak ya?" batinnya menatap layar ponsel.
"Besok aja deh," ucapnya kembali meletakkan ponsel di sembarang tempat.
Malam berlalu berselimut kegelapan, perlahan senja telah kembali hadir menemani embun pagi. Tertidur pulas hingga pagi berlalu, terbangun saat sinar terik matahari siang menembus sisi jendela kamar.
"Arghh." Merentangkan tangan mencari rokok di meja kamar.
"Malah abis," lirih Ray memegang kotak kosong rokok.
Beranjak menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Seusai dari berbenah diri langsung bergegas membeli rokok di warung.
Entah angin apa yang mengarahkannya siang itu hingga bertemu kembali dengan Suci.
Pertemuannya dengan Suci hari itu adalah kali ke 2 setelah sekian lamanya mereka terpisah jarak. Sama seperti sebelumnya ketika di rumah sakit, saling gugup ketika hendak menyapa.
"Hai," ucap Suci tertunduk tersipu malu.
"Iya," balas Ray tersenyum.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, boleh?" pintanya lembut.
"Bilang saja apa itu, Suci?"
Mengambil nafas sedikit panjang, perlahan menghembuskan nya, "Kenapa kita terlihat begitu egois masih memegang janji kita dahulu di sekolah dasar? Apa gak sebaiknya kita langsung bertukar nomor telepon?" ujar Suci memalingkan pandangan.
"Tapi bagaimana dengan janji yang selama ini kita pegang bersama, apa gak masalah kalau kita melanggarnya?" singkat Ray.
"Kalau kita terus memegang janji yang dulu tanpa saling memberi kabar, Aku gak yakin itu akan bertahan," tegas Suci kembali.
Ray tak berniat untuk melanggar janjinya dahulu, sebab janji bagi seorang lelaki itu sangatlah mutlak. Apabila seorang lelaki berucap janji dan melanggarnya, itu adalah tindakan pecundang.
"Jika kamu menginginkan hal ini, baik lah, Aku akan menurutinya," balas Ray tersenyum tipis.
Mendengar ucapan itu, perlahan senyum manis di bibir Suci terbuka, rona merah pipi terlihat jelas begitu bahagia ketika Ray mengabulkan keinginannya.
Kios bu Iyem adalah saksi bisu terjadinya pertukaran nomor telepon dua insan dari sekian lamanya bertemu kembali.
"Nanti kabarin Aku ya, Aku tunggu, dah," ucap suci beranjak pergi sembari melambaikan tangan.
"Wanita jaman sekarang, susah di prediksi, ketika iya bisa jadi tidak, bisa juga mungkin. Ketika tidak, bisa jadi mungkin, bisa juga iya. Ketika bilang mungkin, bisa jadi iya bisa juga tidak. Entah lah pusing kepala ini memikirkannya," gumam Ray menatap Suci dari kejauhan kemudian berbalik arah.
Sepulang dari kios membeli rokok, ia lanjut berbaring di lantai rumah dan terus memandangi nomor telepon Suci.
"Em, Suci, Suci oh Suci, nama yang indah, sangat pas bila disandingkan dengan indah parasmu," ucapnya dalam hati sembari tersenyum gila terbawa suasana.
***
Sampai disini dulu ya kak, sub terus komen apalah itu semuanya untuk dukung athor satu ini dalam bekarya kak, makasih juga tetap ikutin kisah ini.
Lanjut...
__ADS_1