Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 25 (Tragedi berdarah)


__ADS_3

Terlepas dari kebahagiaan yang Fendi alami karena berhasil mendapatkan nomor ponsel Erlin, Alisa tiba di pangkuan sang ibunda dengan selamat.


Saat itu, Alisa berada di meja makan ruang tamu bersama kedua orangnya.


"Ibu, Ayah, kemarin Aisa mendapat tawaran bagus untuk bekerja bersama Mia dan Erlin. Itu loh buk temen sekolah dulu."


"Berapa kali Ayah bilang sama kamu, kamu anak ayah satu-satunya Lisa. Kalau kamu pergi kerja di kota sana, bagaimana dengan Ibu dan Ayah di sini?" jelas ayah.


"Coba di pikirkan baik-baik kembali apa yang Ayah kamu ucapkan barusan itu," sahut Ibu.


"Tapi Yah, Bu, Alisa merasa bahagia kali dengan kondisi seperti itu, bukan karena Aisa gak sayang dengan Ibu dan Ayah." Tertunduk merenung.


"Ayah tetap gak setuju kamu pergi keluar sana!" tegas Ayah.


Setelah itu ayah Alisa pergi masuk kamar untuk beristirahat, sedang ia hanya terdiam menangis kecil.


"Nak, begitu lah seorang ayah, tak pernah mengucapkan seberapa besar kasih sayangnya untuk kita. Dia hanya menunjukan kasih sayang kepada anak lewat sapaan lembut seorang Ibu," jelas sang ibu.


"Tapi, Bu..."


"Jauh di dalam lubuk hati seorang ayah, tersimpan sejuta rahasia yang tak pernah bisa di mengerti oleh anak ataupun istrinya. Demi memenuhi kewajiban untuk istri dan anaknya, seorang ayah rela membakar seluruh jiwa raga. Dalam dirinya hanya tau bagaimana cara membahagiakan orang-orang yang dia sayangi tanpa berkata sedikit pun tentang isi hati," lanjut ibu.


"Alisa juga ingin membahagiakan kedua orang tua Lisa dengan hasil keringat sendiri, Bu," lirih Alisa menatap ibu.


"Ibu tau sayanh, tapi ayah berbeda dengan Ibu yang selalu mengungkapkan semua kasih sayang padamu Nak, kami berbeda cara dalam hal menyayangi," ujar Ibu merangkul Alisa.


"Lisa paham Bu, Lisa ngerti. Tapi kan Bu, Lisa juga ingin membahagiakan Ibu Ayah dengan pencapaian sukses Lisa kelak. Apa Lisa cuma boleh diam saja gak ngelakuin apa-apa, Bu?" Berlinang air mata masih menatap Ibu.


Melihat sang putri tercinta bersedih, tentu seorang Ibu tak sanggup berkata apapun lagi. Hanya mendekap memeluk yang ia lakukan demi menenangkan hati sang putri.


Seminggu telah berlalu dan Alisa masih mengurung diri menghabiskan waktu di kamar. Sesekali Keluar dari kamar hanya untuk makan, curhat kepada Mia, Erlin dan Ray, Hanya itu yang ia lakukan ketika berada di dalam kamar.

__ADS_1


Mengetahui sikap rajukan Alisa, ayah hanya terdiam tak mencoba memikirkan perasaan dirinya.


Setiap malam ayah Alisa hanya terduduk di ruang tamu sambil melihat-lihat kembali foto kecil sang putri.


"Yah, apa yang harus kita lakukan demi Alisa?" ujar Ibu menghampiri Ayah.


Ayah yang masih berdiam diri, terus membolak-balik album foto itu. Melihat ayah terus berdiam diri, Ibu Alisa mengetahui jika sang ayah juga sedang bersedih, terlihat dari genangan air di bola matanya.


"Lisa dan Ray sepertinya sudah menjalin hubungan yang kuat Yah, Alisa berhak menentukan jalan masa depannya sendiri. Sebagai orang tua, kita hanya bisa mendukungnya," lanjut Ibu memeluk Ayah.


"Kalau terjadi apa-apa dengan Alisa di sana, Ibu gak sedih?" tanya Ayah.


"Ibu mana yang gak sedih berpisah dengan putrinya Yah? Tapi ibu sadar Yah, Alisa begitu menginginkan impiannya itu," jelas Ibu meyakinkan.


Dengan berat hati, Ayah merelakan keinginan sang putri pergi menggapai kebahagiaannya. Alisa berlari keluar kamar langsung memeluk sang ayah setelah Ibu memberitahu keputusan dari ayahnya.


"Makasih ya, Yah," lirih Alisa memeluk ayah penuh bahagia.


Suasana malam itu penuh haru suka duka, hingga sampai saat dimana ayah mengantar putrinya pergi mengejar impian.


Alisa sampai di bandara kota kembali, setelah melalui perjalanan panjang, memberi kabar Ray sebelumnya untuk menjemput dirinya. Semua berjalan mulus, Ray tiba di bandara sore itu.


11 Januari 2019


pukul 17:25


Ray berjalan menghampiri Alisa di ruang tunggu.


"Lagi nunggu siapa nona cantik?" bisik Ray menutup mata Alisa membelakanginya di tempat duduk.


"Lagi nunggu Romeo ku," sambut Lisa menurunkan kedua tangan Ray menoleh ke arah tersebut tersenyum menatap Ray sedikit mencubit pipi.

__ADS_1


Kemudian keduanya beranjak menuju mobil untuk mengantar Alisa ke rumah Mia sembari


menceritakan alasan kenapa akhirnya sang ayah mengijinkan ia pergi.


"Begitu Mas ceritanya, kan ayah sudah percayain aku ke kamu ni mas, kamu harus lebih bisa menjaga ku di sini ya," pintanya di dalam mobil.


"Siap komandan, berapa persen jaga putri ini di bayar?" balas Ray menjahili.


"Ih kan, apaan sih ah gak lucu tau," rajuk Lisa.


"Lah kan bener ceritanya jadi tuan putri, sang putri pencari pemilik hati. Cakep tuh jika di buat menjadi judul novel."


"Gak gak, yang bener tuh, sang putri yang tak kunjung di nikahin sang Romeo," balas Alisa kembali tertawa manja.


Lagi asik tertawa bercanda bersama,.


Ciiiiiittttttttt.............Gebrakkkkkkkkkk....!!!!!!


"Tolong............"


"Tolong..........."


Terdengar suara kecil dari kejauhan, mata Ray perlahan terbuka sayup bercucur darah mengalir dari ujung kepalanya.


Dengan posisi mobil masih terbalik, Ray melihat Alisa di tandu keluar mobil tak sadarkan diri. Wajah indah bersih Alisa kala itu penuh berlumuran darah hingga membasahi baju yang ia kenakan.


Melihat keadaan sang kekasih seperti itu, Ray ingin berteriak sekuat tenaga, namun untuk berbicara saja dadanya terasa amat sesak. Berusaha sekuat mungkin ingin bangkit berdiri menghampiri Alisa, namun tetap saja ia takkan mampu.


Dengan nada tipis memanggil, "Al-li-sa." Mata Ray perlahan mulai terpejam kembali tak sanggup menahan tetap terbuka meski ia terus memaksa agar tetap sadarkan diri.


***

__ADS_1


Sampai disini dulu kak, jangan lupa makan bakso siang ini karena cuaca sedikit mendung. Nanti author sambung lagi selepas mengangkat jemuran bentar. Makasih.......


__ADS_2