
Selepas mengantar Alisa, Ray beristirahat dengan waktu yang cukup lama hingga akhirnya terbangun bercucurkan air keringat yang membasahi seluruh tubuh.
Saat itu panasnya sinar mentari siang hari, telah membajak seluruh ruangan kamar tidurnya.
Minggu 1 january 2019
pukul 12:45
"Wih, basah gini bajuku?" Membuka baju di tempat tidur.
Cekrekkkk.... (suara pintu kamar terbuka).
"Baru bangun anak lajang emak ya? Pulas ya tidurnya? Enak ya kasmaran sampek pagi?" Fendi berdiri di depan pintu kamar menatap Ray.
"Biasa lah Mak, namanya juga anak lajang."
"Mandi nak mandi, udah Emak siapin makan siangnya di meja makan ya, susunya di dalem kulkas tinggal di ambil aja," balas Fendi tertawa kecil seakan berperan sebagai seorang Ibu, lalu pergi meninggalkan kamar.
"Dasar sembret." Ray melempar bantal ke arahnya bergegas menuju kamar mandi.
"Jangan lupa baca doa mandi wajib kau!" seru Fii ketika Ray hendak masuk pintu kamar mandi.
"Tidak seperti itu aku Fergusoo."
Selepas berbenah diri, melanjutkan makan siang bersama di warung sebelah kos.
Ketika makan siang kala itu, Alisa mengabari Ray bahwa dia akan kembali petang hari.
"Mas, ntar main kesini lagi kan?" Pesan Lisa.
"Ntar Mas kesana ya, ini masih ada urusan bentar sama temen-temen," balas Ray.
***
Disisi lain Alisa.
kringgg...kringg. (Suara telepon ibu Alisa).
"Halo Bu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, jadi balik hari ini? Ibu khawatir, kamu baik-baik saja di sana kan?"
Alisa dan sang ibu membicarakan begitu banyak hal, dari salah paham hingga kebahagiaannya bertemu dengan Ray.
Ketika selesai berbicara melepas rindu kepada ibu, Alisa keluar kos untuk membeli oleh-oleh di tempat terdekat siang itu.
"Dengan mbak Lisa?" ucap mas gojek depan gerbang kos.
"Iya mas, Ke tempat beli oleh-oleh ya mas."
"Siap mbak."
Hanya menempuh jarak 22 menit untuk ke tempat tujuan.
Sesampainya di pasar tradisional, Alisa memilih beberapa makanan khas, serta pakaian dan juga benda-benda kecil lainnya.
__ADS_1
Lagi asik memilih pernak pernik benda cantik,.
"Alisa?" sapa seorang gadis dari arah belakang.
Menoleh ke belakang dan,
"Mia...."
"Erlin...."
"Aaaaahhhhhhh........" (Teriakan gadis-gadis manja kala bertemu).
langsung berpelukan karena cukup lama tidak bertemu. Di sekolah menengah kejuruan adalah tempat terakhir kali ketiga wanita tersebut bersama.
"Kamu makin cantik aja. Kangen banget sama kamu Lis," ucap Mia memegang kedua tangan Alisa.
"Gak kok, masih sama kayak dulu."
"Berarti aku sendiri ya yang berubah penampilan," sahut Erlin melihat tubuhnya sendiri.
"Gak heran kalau kamu ah Er, kemajuanmu di depan itu kadang membuat para lelaki hidung belang ngiler," balas Mia melirik Erlin.
"Bodo amat, yang penting endess buk." Erlin berpose bak model aduhai.
"Yuk singgah ngobrol-ngobrol bentar di tempat nongkrong dekat sini yok, laper kali aku, sekalian mau cerita-cerita bahas apa gitu, cowok cakep kali ya," sambung Erlin kembali.
"Boleh deh, tapi tunggu bentar ya, kasian abang gojeknya nungguin dari tadi," lanjut Alisa membayar abang ojek.
Mereka berjalan menuju mobil Mia dan bergegas ke suatu tempat santai tuk melepas kerinduan bersama.
***
Anak tajir dari seorang manager proyek pemerintah.
Memiliki hidung yang mancung,
Rambut pirang, dan bermata biru, menunjukan bahwa dia bukan gadis biasa.
Bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan mobil ternama. Memiliki karir cemerlang, berdampak terhadap tipe lelaki bak pangeran yang ia inginkan.
Tidak heran sampai sekarang masih sendiri, meski banyak lelaki mendekati mencoba memenangkan hati kerasnya.
~ Erlina Aprilia.
Wanita berusia sama dengan Mia.
bekerja menjadi pendamping Mia.
Memiliki Rambut lurus berurai sebahu menambah kesan feminim akan dirinya. Di sisi lain body yang semok terlihat wow begitu indah adalah masalah yang dia miliki.
Sebab terlalu banyak pandangan lelaki hidung belang seperti hendak menerkam sepasang kelapa Jawa miliknya.
Terlalu takut akan lelaki, membuat dirinya enggan memiliki pasangan. Meski sebenernya justru ia terlihat wanita pemberani.
Alisa, Mia dan Erlin adalah wanita yang sangat populer di masa sekolah dulu.
__ADS_1
Selain memiliki paras yang sangat cantik, ketiganya juga pintar dalam segala hal. Menjadi idaman dan incaran setiap lelaki masa itu adalah sebuah hal yang wajar. Bahkan aura keanggunan masing-masing yang mereka miliki semakin matang dan tajam saat ini.
Mereka bertiga memiliki julukan pemersatu bangsa. Karena dengan melihat mereka dalam sekejap para lelaki akan berubah bak predator yang tak henti-hentinya memandang penuh rasa haus.
***
"Kamu kerja di mana sekarang Lis?" tanya Mia ketika menyetir mobil.
"Belum ada kegiatan ni Mia, masa sekarang sulit."
"Ikut kami aja gimana, ya kan Mia?" sahut Erlin.
"Kebetulan kali, di tempat aku kerja ada beberapa posisi yang kosong. Kamu mau gabung kan? Kalau masalah tempat tinggal dan semua kebutuhan kamu aku jamin deh aman," ujar Mia.
"Serius ni say? Mau dong pas kali itu. Eh tapi aku harus bilang Ibu dulu, soalnya aku baru 2 hari di sini Mi."
"Ya sudah gimana enaknya kamu aja, kapan siapnya kamu deh Lis. Aku pastiin tempat kosong itu buat kamu," ucap Mia kembali.
"Makasih banget ya say udah bantuin aku."
"Iya sayang, tapi maaf ya say, dulu aku gak ada di saat perusahaan ayah kamu jatuh. Keadaan yang membuatku gak bisa hadir waktu itu say, maaf ya." Mia sedikit bersedih.
"Gak apa-apa kok say, udah takdirnya begitu," balas Alisa tersenyum.
"Oke gais, sudah di pastikan ni ya kita bersatu kembali? Asek asek jos," sahut Erlin bertingkah kocak mengubah suasana.
"Nih anak dari dulu gak berubah ya Mia?" pekik Alisa melirik Erlin tertawa kecil.
"Padahal udah ku suntik vaksin tapi tetep aja kelakuannya gitu, amboi," sambut Mia.
"Jangan gitulah, biar begini juga tanpa aku kalian berdua hanyalah butiran upil." Erlin tertawa ngakak.
"Ahhahahaha..."
Tawa Erlin yang semakin ngakak membuat suasana pecah tak terkendali. Sampai tiba di lokasi yang mereka tuju untuk membahas semua kenangan masa lalu.
***
"Aku duluan ya mau nemuin Alisa sore ini. Dia mau pulang," ujar Ray pada Fendi dan Fii.
"Ikut ngapa Ray, pasti suntuk kali kami disini. Udah hari libur begini malah di kamar terus nanti. Belum lagi hanha berdua sama ni anak, sama cewek gitu gak apa-apa," gumam Fii menunjuk Fendi.
"Ih kimbek, aku gak selera lanangan ya, emangnya aku cowok apakah," sahut Fendi.
"Tapi iya juga, ikut kami ya mas ya, Aku mencium aroma-aroma jodoh buatku gak lama lagi bakalan tiba ini," sambung Fendi kembali.
"Kalo aku nengok kalian ah, nyempil aja kayak kacang martabak mesir. Buruan beres-beres sana setel ganteng sedikit biar tebar pesona di sana nanti." Ray seketika beranjak.
Tak lama setelahnya langsung bergegas menuju tempat Alisa.
Di sisi lain, ALisa yang baru bertemu dengan Mia dan Erlin kerabat lamanya itu, juga beranjak mengantarkannya kembali ke penginapan.
***
Seperti apa kelanjutan kisah ini?
__ADS_1
Ikutin terus ya kak-akak. Teruslah membaca selama membaca tak menyakiti mata. Lanjut....