
"Kepada tuan konglomerat yang gak bisa berjalan di atas kaki sendiri, tolong kembalikan surat itu. Karena percuma tuan membacanya, gak akan nyampek cara berfikir tuan yang minimalis," balas Ray mengulurkan tangan.
"Lu mau ribut lagi sama gua, hah?" jelas Aldo membusungkan dada.
Alisa yang melihat Ray dengan Aldo kembali berseteru sedang di kendalikan emosi, perlahan menghampiri mencoba melerai keributan itu.
"Kenapa kalian ribut terus sih, kalian udah gede loh, bukan anak kecil lagi, menganggu ketenangan orang tau gak."
"Alisa, Aku cuma menjahilinya sedikit, wajar dong bercanda seperti itu," jawab Aldo.
"Bercanda bukan harus seperti itu Aldo, itu kelewat batas namanya," jelas Alisa.
"Denger tuh apa yang Alisa bilang, pakai baik-baik pikirannya tuan," sahut Ray tertawa kecil.
"Kamu juga sama aja Ray, selalu membuat masalah yang gak penting," pekik Alisa.
Alisa berbalik kembali duduk di kursi, suasana sedikit lebih tenang ketika Aldo mengembalikan surat itu pada Ray.
Setelah bel pelajaran usai, Ray memberanikan diri menghampiri Alisa yang hendak masuk ke mobil.
"Hay."
"Ada apa lagi Ray?"
"Ini permintaan maaf ku." Memberikan sepucuk surat lipatan.
Alisa menerima surat tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Ray langsung bergegas masuk ke mobilnya.
Ketika berada di dalam mobil, Alisa membuka dan membaca isi surat tersebut.
~Tadinya aku mau menulis surat maaf yang panjang untukmu, tapi aku sadar itu akan melelahkanmu ketika membacanya.
~Ingin menuliskan surat puitis untukmu, namun aku tau jika kamu tak menyukai rayuan seorang pria.
Jadi aku hanya bisa menulis nomor ponselku di bawah.
085070418585.
"Ni anak ada aja ya ulahnya, heran deh lihatnya gak ada kapok-kapoknya ganguin aku terus." Tersenyum membaca isi surat dari Ray.
"Lagi jatuh cinta ya Non? Senyum-senyum sendiri bapak liat dari tadi," sahut pak Herman di dalam mobil.
"Ih Bapak, jangan sampai deh suka sama cowok itu pak, gak kebayang jadi apa aku nantinya. Dari raut wajah maupun ucapannya itu dia seorang playboy pak, playboy kampus."
"Jangan buruk sangka dulu Non, siapa tau dia anak yanh baik. Lumayan tampan lagi Non, cocok sama Non yang cantik," balas pak Herman menjahili.
"Udah ah Pak jangan di bahas, ntar kupingnya dia melar disana." Memandang sisi kaca mobil sebelah kiri dengan tangan masih menggenggam surat dari Ray.
Disisi lain Ray yang berada dalam angkutan umum.
"Kebaca gak ya surat dariku itu? Kalau di baca pasti dia kirim pesan ke ponselku, tapi kok gadak balasan. Ngapa jadi baper gini sih," ujar Ray memalingkan pandangan layar ponsel kemudian melirik ke arah kiri, menatap serius dengan raut wajah badut menjahili bayi kecil yang menatapnya."
Dreet....... (Nada pesan ponsel Ray).
__ADS_1
~Bukan Romeo.
"Nomor baru siapa ini kok kirim pesan begini doang?" singkat Ray melihat isi pesan tersebut.
Ray terdiam sejenak berfikir memahami maksud isi pesan tersebut. Mungkin selama ini sikap yang ia miliki terlihat seperti Romeo. Namun faktanya, pandangan Alisa pada dirinya bukan seperti Romeo.
Ray menebak nomor itu milik Alisa, namun ketika menanyakan tentang siapa pemilik nomor tersebut, tak ada balasan kembali.
"Bukan Romeo ya? Em, nanti malam petualanganku baru akan di mulai, tunggu saja," batin Ray menatap nomor telepon tersebut.
Setelah sampai di rumah Ray langsung berbenah diri mencoba menghubungi nomor tersebut.
"Di angkat gak ya, soalnya dari tadi gak ada respon," ujarnya bingung harus menghubungi atau tidak.
"Ah hubungin aja lah." Kembali menekan tombol panggilan di ponsel sembari berjalan menuju ruang tamu.
Tuuuttt...tuuttttt....clek..
"Halo, siapa ini?" jawab suuara lelaki bernada besar.
"Bukan siapa-siapa Pak, ini yang siapa? Kan nomor ini duluan tadi yang kirim pesan ke saya pak," balas Ray bingung.
"Saya tidak pernah kirim-kirim pesan ke nomor kamu, salah kirim mungkin itu."
"Ya sudah kalau gitu Pak, maaf sudah menggangu."
"Iya sama-sama."
Setelah mematikan panggilan tersebut, Ray berfikir positif jika kejadian itu hanya salah kirim.
"Romeo apaan, nomor orang salah kirim aja baper," pekiknya berbaring di ranjang.
Sementara disisi lain Alisa.
"Hahahahaha..... Pak kita berhasil loh ngerjain dia. Keliatan banget dia kebingungan tadi," ujar Alisa terbahak berhasil menjahili Ray bersama pak Herman.
Pak Herman adalah supir di rumah Alisa semasa kuliah. Beliau lebih dari sekedar supir pribadi, selalu melayani keluarga Alisa dari Alisa kecil sampai sekarang.
"Iya sih Non, tapi kenapa harus ngerjain dia?"
"Biar dia tau rasa Pak, secara dia sering menjahiliku di kampus."
"Terserah Non deh, bapak ikut aja mah apa yang Non bilang. Yasudah kalau begitu bapak tinggal dulu Non, ada kerjaan dari tuan tadi," ujar Pak Herman kembali.
"Iya Pak, makasih ya udah bantuin akunya." Tersenyum senang.
"Beres Non, siap," singkat pak Herman sembari berjalan untuk melanjutkan kesibukannya.
Kemudian Alusa berjalan menuju ruangan tidur Ibu.
"Ibu." Memeluk manja.
"Putri cantik Ibu, gimana kegiatannya hari ini?"
__ADS_1
"Em, semua biasa-biasa saja kok Bu. Ibu tau gak, hari ini aku udah berhasul ngerjain seorang cowok."
"Loh, kok seperti itu? Sayang, gak baik loh menjahili seseorang."
"Biarin aja biar tau rasa dia Bu. Lagian dia juga sering gangguin aku di kampus." Memanyunkan bibir.
"Awas ntar jadi cinta loh," ujar Ibu tersenyum mencubit kedua pipi Alisa.
"Ih Ibu, Alisa jamin gak bakal mempan sama cowok seperti dia," jelas Alisa kembali.
"Yaudah kamu beres-beres sana, bau asem tuh."
"Iya deh Bu."
Setelah mencium kening Ibu, Alisa berjalan menuju kamar untuk berbenah diri.
"Em, nanti malam aku kerjain lagi gak ya? Biarin aja deh," lamun Alisa ketika memasuki ruang mandi.
Kembali ke sisi Ray.
"Bang, woy bang, bangun bang," ucap Rama.
"Apa lagi sih, baru juga tidur." Mengusap-usap mata.
Rama Sanja ialah adik lelaki yang saat ini masih duduk di bangku SMP. Selalu melakukan aktivitas dan memiliki hobi yang sama dengan Ray hampir tak terdapat perbedaan sifat.
"Bang, minta hotspotmu bang, aku baru kenal cewek cantik, boleh ya bang," lirihnya menatap Ray.
"Bangunin Aku cuma untuk itu? Gawat kali kau ah, masih kecil juga sok main-main cewek," pekik Ray terduduk di tempat tidur.
"Kan kita satu produksi Bang, maklum aja ngapa," balas Rama santai berdiri di hadapan Ray perlahan duduk di sebelah.
"Suka kau lah, tapi belikan dulu Abang rokok."
"Kau belum kerja tapi kencang kali rokokmu itu Bang."
"Udah jangan banyak demo disitu."
"Mana duitnya, sini," lanjut Rama mengulurkan tangan.
"Abang itu sebenarnya sayang kali sama kau. Kalau kau tersakiti, sakit juga aku. Kadang aku mau berbagi cara tips memenangkan hati wanita, tapi ku liat kau gak ada sayang-sayangnya samaku, belikan rokok pake duitmu aja gak pernah kan?" jelas Ray merayunya.
Rama terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu.
"Yaudah ku belikan ini pake tabungan ada sedikit, demi Abang rela aku belikan rokok, kuota ku aja sampai gak terisi," gerutu Rama.
Berjalan keluar ruang kamar, berhenti sejenak berpaling kembali melihat Ray.
"Jangan lupa Bang, ajarin ya yang tadi," sambungnya menanyakan perihal wanita.
"Udah aman itu," singkat Ray kembali berbaring di ranjang.
***
__ADS_1
Sampai sini dulu kak, kita lanjutkan lagi...