
Entah seperti apa kelanjutan dari kejadian itu, Ray tak mengetahuinya karena ia tak sadarkan diri.
Sore hari pukul 17:40, Ray perlahan membuka mata.
"Alhamdulillah sepertinya aku di surga," pikirnya sebab tak merasakan sakit penyiksaan.
Isshhh,. (Desis merasakan perih).
"Akhirnya kamu sadar juga, Mas."
Mendengar suara wanita, Ray bangkit dari tidur menoleh ke arah suara tersebut.
"Yuli? Aku masih hidup kah?" ujar Ray melihat sisi kanan kiri ruangan.
"Kamu masih hidup mas, kamu selamat," ucap Yuli mendekat memberi pelukan pada Ray yang masih terlihat bingung.
"Maafin aku mas, karena aku kamu jadi mengalami hal seperti ini," lanjutnya kembali melepas pelukan menggenggam tangan Ray.
"Lelaki gak seharusnya menyakiti wanita Yuli, apalagi membiarkan tindak kejahatan seperti tadi. Siapapun wanita itu yang menjadi korban, Aku pasti akan berusaha menolong."
Yuli meneteskan kembali air matanya. Ntah karena ia kagum kepada Ray atau sekedar kasihan dengan keadaan yang Ray alami.
"Kamu ada masalah apa dengan Aldo?"
"Aku gak ada masalah apa-apa mas. Memangnya kenapa?"
"Kedua lelaki yang menculik kamu barusan itu, tadi siang selepas istirahat makan dan jalan menuju kantor, Aku melihat mereka berbincang dengan Aldo. Kamu yakin sedang tidak ada masalah dengannya?" tanya Ray kembali menatap Yuli yang terlihat sedikit bingung menyembunyikan sesuatu.
"Yasudah kalau kamu tidak ingin menjawab, Aku gak paksain kamu harus menjawab pertanyaan dariku," lanjut Ray beranjak berdiri ingin segera pulang.
"Mas, jangan bangkit dulu, kamu masih belum kuat," sahut Yuli berdiri ingin membopong Ray.
"Aku harus segera kembali ke penginapan, ada yang harus aku urus, Aku masih kuat kok."
"Tapi Mas..."
"Udah jangan khawatir, lebih baik kamu pulang dan beristirahat," balas Ray menatapnya sejajar.
"Apa gak sebaiknya kamu di rawat di sini dulu sampai luka kamu cepat pulih, Mas?"
"Aku gak apa-apa, harus berapa kali aku katakan?"
"Yasudah kalau itu keinginanmu, Mas. Kalau begitu ijinkan aku mengantarmu pulang ya? Please ya jangan tolak permintaanku. Kamu udah nyelamatin nyawaku," pintanya kembali.
__ADS_1
"Terserah kalau itu maumu akan ku kabulkan. Tapi jangan pernah mencoba melakukan hal aneh lagi," jelas Ray berjalan mendahuluinya.
"Mas, boleh aku tanya sesuatu?" ujar Yuli kembali menghentikan langkah Ray.
Berbalik arah, Ray menatapnya.
"Apa yang akan kamu lakukan di pernikahan Alisa besok?" lanjut Yuli kembali.
"Aku gak melakukan apapun, besok sore aku akan kembali ke kampung halaman," jelas Ray kembali berjalan.
"Kamu tidak datang untuk merebut Alisa kembali, Mas?" pekik Yuli mengikuti langkah Ray.
"Jangankan aku Yuli, bahkan alam aja gak sanggup merubah takdir itu sendiri," balas Ray mengatakan hal yang tak bisa Yuli pahami.
"Kamu beneran yakin tidak ingin menghentikan pernikahan mereka Mas?"
"Apa yang telah terjadi sampai detik ini, Aku telah mengikhlaskannya. Lagian ini udah jalan takdir hidupku. Sepahit apapun kisah ini, Aku harus menerimanya sebagai pasangan hidup," pungkas Ray terus berjalan keluar ruangan.
Melihat Ray berjalan keluar ruangan, Yuli terus mengikutinya dari belakang.
"Kamu lelaki yang tegar Mas, penuh misteri, penuh semangat meski akhirnya kamu menyerah mengejar mimpimu. Aku gak tau apa yang harus aku tunjukan atas kejadian yang kamu alami. Bingung harus senang atau sedih," ujar Yuli hanya mampu menundukkan kepala.
"Jika aku lebih dulu mengenal kamu di banding Alisa, mungkin aku wanita paling beruntung yang diantara wanita lainnya, Mas. Maaf atas apa yang selama ini aku lakuin ke kamu. Aku janji akan mengembalikan kebahagiaan kamu lagi," lanjut Yuli menyadari atas sikapnya yang salah selama ini.
Fendi dan Fii yang telah mendapat kabar insiden kembali menimpa Ray, bergerak cepat menuju rumah sakit.
"Yo, kalian," sambut Ray menyengirkan senyuman.
"Masalah apa lagi ini Tuhan, kok gak habis-habis lah deritamu Ray," ujar Fendi khawatir.
"Gak kenapa-kenapa, cuma luka dikit aja, ini juga udah bisa pulang."
"Luka seperti ini kau bilang gak kenapa-kenapa Ray?" sahut Fii menunjuk perut.
Hanya tersenyum melihat mereka berdua, sebelum akhirnya menyadari Yuli yang tertunduk di belakang Ray.
"Dia ini wanita yang kali itu pernah kita bicarakan bukan, Ray?" ucap Fendi meninggikan nada bicara.
Dalam sekejap suasana begitu heningnya.
"Oh Aku tau, pasti ini semua ulah kamu kan? Kamu gak puas membuat Ray seperti ini? Wanita seperti apa kamu? Lihat, lihat Ray sekarang. Begitu banyak masalah yang ia hadapin dan kamu masih belum puas apa? Wanita seperti kamu ini harusnya musnah," kecam Fendi tak mampu membendung emosi.
"Fendi!" Bentak Ray menghentikan bicaranya.
__ADS_1
"Sudah hentikan, gak ada hal yang harus di ributkan lagi. Semua ini terjadi karena memang udah takdirnya. Jangan terus menyalahkan Yuli, dia juga berhak menentukan jalannya sendiri," jelas Ray ikut menaikan nada bicara.
"Tapi Ray..."
"udah, lebih baik kita kembali," lanjut Ray menurunkan nada bicara kembali berjalan.
Mendapati peryataan sikap Fendi begitu keras, Yuli terdiam sesekali mengusap linangan air mata. Sedang Fii menuntun Ray berjalan.
Setelah membayar seluruh biaya perawatan, bergegas menuju mobil yang telah terparkir di halaman rumah sakit. Ketika sampai di halaman tersebut, bebera orang menghentikan langkah mereka kembali.
"Polisi?" batin Ray menatap dua orang berseragam lengkap menghampiri.
"Selamat siang, Pak. Maaf menggangu waktunya sebentar."
"Siang kembali, Pak," balas Ray.
"Perkenalkan, saya Anton dari satuan unit kepolisian. Bisa ikut kami ke kantor untuk membahas perihal kejadian yang baru bapak alami? Ada beberapa hal yang perlu kami tanyakan agar lebih mengetahui motif dibalik kasus penculikan tersebut."
"Baik Pak," singkat Ray tanpa penuh tanya.
"Untuk Ibu Yuli selaku korban, bisa mohon ikut juga bersama kami?"
"Baik, Pak," sahut Yuli mengangguk.
"Pak, kami berdua boleh ikut juga gak Pak? Kami sahabat karibnya sih Ray ini," ujar Fendi.
"Baik tidak masalah. Kalau begitu bisa kita langsung berangkat sekarang?" mari ikuti kami," jelas Anton berbalik berjalan menuju mobil.
Ray, Fendi, Fii dan Yuli berada di satu mobil yang sama mengikuti laju mobil polisi.
"Kira-kira kau udah tau dalang di balik kasus ini belum Ray?" bisik Fendi penasaran.
"Kedua pemuda yang menculik Yuli adalah pemuda yang Aldo temui tadi siang," singkat Ray.
"Seriusan?"
"Iya."
"Dikantor polisi ada makan gratis gak kira-kira? Pasti lama urusan beginian," sahut Fii menyetir laju mobil mengikuti mobil polisi yang berada di depan.
Bergegas menuju kantor polisi untuk melanjutkan interogasi mencari motif pelaku. Setibanya di kantor polisi pukul 19:23 malam.
"Sebagai saksi, bsa tolong ceritakan semua kronologisnya dari awal sampai akhir, saudara Ray?
__ADS_1
***
Sampai disini dulu kak, masih tetap semangat baca kan? jangan kasih kendor meski otot mata mulai molor. Okelah nanti kita lanjut kembali.