
"Lesu bener tuh muka?" sapa Pak Herman.
"Biasa bawaan cuaca lagi berubah gak menentu." Memantik api menyalakan rokok di tangan.
"Ngopi gak?" ujarnya kembali.
"Jadi enak aku ini, boleh deh."
TIN......
"Siapa lagi bertamu ini, bentar Ray mau buka gerbang." Meninggalkan gelas berisi kopi berlari menuju gerbang.
"Pengawal barunya Novi teryata," bati Ray melihat Tomi turun dari mobil.
"Ngapain berjalan kemari," lanjut Ray.
"Maaf, boleh bergabung di sini?" sapa Tomi.
"Oh iya gabung aja," balas Ray mempersilahkan.
"Maaf ya pak ikut gabung di sini," lanjut Tomi menatap Herman.
"Iya gak apa-apa, ngopi Pak?" balas Herman pada Tomi.
"Kalau gak ngerepotin, boleh pak."
"Oh kenalin, Aku Tomi." Menoleh menyodorkan tangan ke arah Ray.
"Aku..."
"Kamu Leon bukan? Aku sudah lama mengagumimu semenjak aku bergabung di pasukan revolusi dan sampai menjadi ketua di sana. Leon sang putra dari keluarga Hendra, sekaligus pewaris tunggal perusahaan-perusahaan besar ternama di beberapa kota dalam negri ini, siapa yang gak mengenal nama itu," jelas Tomi memuji.
"Aku bukan..."
"Sudahlah, jangan menyamar atau merendahkan diri seperti itu, Aku cukup tau jika itu tentangmu. Bahkan insiden kabar angin yang sempat mengatakan bahwa kamu telah tiada, Aku tidak percaya akan hal tersebut," lanjut Tomi kembali.
"Sok tau bener ni anak," batin Ray tersenyum mengangguk.
"Kenapa kamu bekerja bersama ayah Novi? Bukankah kamu pemimpin pasukan revolusi?" balas Ray sedikit penasaran.
"Organisasi kami telah di bantai dan hanya aku yang tersisa," lirihnya.
"Ini kopinya pak," sahut Herman meletakkan dua gelas kopi.
"Makasih pak."
"Tinggal bentar ya ada yang mau di cek dulu," ucap Herman kembali.
"Yo, hati-hati," singkat Ray.
"Oh iya, seseorang yang mencoba membunuh Novi tadi, kamu berhasil menangkapnya?" lanjut Ray kembali melirik menatap Tomi.
"Aku kehilangan jejaknya, maaf."
"Oh."
"Pasti sebagai calon suaminya, kamu akan menghabisi nyawa siapapun itu yang berusaha membahayakan nyawa Novi bukan?" Tomi meminum kopi di hadapannya.
"Kelihatanya orang ini mengetahui banyak hal tentang keluarga Novi dan Leon, lebih baik aku tetap berpura seperti ini saja," pikir Ray juga meminum kopi panas tersebut.
"Semua lelaki juga akan melakukan hal yang sama jika itu menyangkut nyawa sang kekasih," balas Ray.
Dret......
Dret...
"Sebentar ya." Tomi berdiri mengangkat telepon menjauhi Ray.
"Tapi kelihatanya orang baik sih," gumam Ray melihat Tomi berdiri memangku tangan berbicara melalui ponsel di depan gerbang masuk.
Tak lama setelahnya kembali menghampiri usai mengakhiri panggilan tersebut.
__ADS_1
"Maaf sepertinya perkenalan kita sampai di sini dulu, Aku harus segera kembali karena ada hal penting."
"Oh iya," jawab Ray berdiri.
"Next time jika ada waktu mungkin bisa mengobrol lebih lama."
Tomi langsung bergegas pergi terlihat sangat tergesa-gesa.
"Loh, orang tadi mana?" tanya Herman yang baru kembali.
"Barusan pergi tadi."
"Ngomong-ngomong siapa dia tadi, datang bertamu tapi gak masuk dalam kantor," pekik Herman.
"Novi bilang, dia pengawal baru yang di tugaskan untuk menjaganya."
"Orang kaya mah bebas ya, pergi kemanapun banyak pengawal menjaga," ucap Herman menggeleng.
"Wajarlah jika seperti itu, terlebih lagi Novi itu putri tunggal sultan."
"Iya juga sih," lanjut Herman.
Setelah pertemuan pertama mengenal Tomi, Ray hanya terduduk menghabiskan waktu berbincang dengan Herman sembari menunggu jam kerja usai.
"Enak bener kerja duduk-duduk santai doang," ujar Fendi usai jam kerja datang menghampiri.
"Yok balik," sahut Fii.
"Duluan ya," ucap Ray pada Herman.
Selepas menghantarkan Fendi dan Fii, kembali menuju rumah. Setibanya di depan gerbang..
"Astaga, Rama belum ku jemput." Masuk ke dalam mobil memutar balik laju kendaraan.
15 menit kemudian...
Pukul 16:40.
"Apa di culik? Gak mungkin." Ray turun dari mobil berjalan menuju gerbang sekolah.
"Malah nyantai ketawa-ketawa lagi," pekik Ray berdiri di depan gerbang sekolah melihat Rama berkumpul tertawa bersama beberapa wanita.
Rama yang melihat Ray, langsung pamit dan datang menghampiri.
"Gak nyasar abang jemput kemari kan?"
"Gak, cuma lupa aja tadi," singkat Ray berjalan bersama masuk ke dalam mobil.
"Baru sehari masuk sekolah, kok bisa cepat akrab kau?"
"Jangan samakan aku yang dulu dengan yang sekarang bang." Berkaca merapikan rambut.
"Kenapa begitu?"
"Ya sekarang aku udah memantapkan satu tujuan bang," ucap Rama serius menoleh menatap Ray.
"Tujuan apa? Jadi playboy?"
"Tadi pagi sih gitu bang, tapi semua berubah ketika wanita itu terlihat berbeda dari kebanyakan wanita." Tersenyum mengangkat tangan kanan seperti membelai wajah seseorang.
"Masih kecil kau, terlalu cepat bisa paham hal-hal seperti itu."
"Tapi ini beneran bang, bukan Hoax!" pekik Rama cukup serius.
"Beneran apa?"
"Saat berada di dekatnya, jantung ini berdegup kencang bang. Terus tubuh ini terasa bergetar."
"Itu tanda orang kelaparan."
"Bukanlah bang, itu pasti cinta."
__ADS_1
"Anak jaman sekarang, bukannya sekolah belajar yang bener malah sibuk urusin cinta," gerutu Ray
"Abang pun dulu samanya kayak aku."
"Bedalah."
"Bedanya?"
"Butuh waktu cukup lama bagi seorang wanita bisa membuat abang jatuh cinta. Kalau di anime, mereka membutuhkan waktu 1000 tahun lamanya."
"Tapi wanita ini terlihat berbeda bang. Aku tertarik dengan keunikan yang dia miliki."
"Unik gimana? Bisa menghilang gitu? Atau bisa terbang?"
"Bukan yang seperti itu bang sukirman."
"Terus yang seperti apa?"
"Pakai sabukmu, kena razia online nanti," jelas Ray kembali.
"Ya unik bang, semua cowok yang mendekati pasti dia tolak dengan cara yang sadis," lanjut Rama memakai sabuk pengaman.
"Itu tandanya dia gak normal."
"Susah memang curhat sama abang, gak pernah sejalan kita," pekik Rama.
"Ini lagi sejalan arah pulang tapi."
"Krik krik krik, garing bang candaanmu."
"Ya makannya kau kalau ngomong yang jelas jangan sepotong-sepotong."
"Intinya dia terlihat berbeda dan cukup spesial di mataku bang. Aku yakin bisa mendapatkannya."
"Terus?"
"Abang gajian masih lama gak?"
"Kenapa nanya gaji?"
"Ini udah seharusnya di museumkan bang." Menunjukan ponsel usang miliknya.
"Tanya sama kakak, kalau masalah gaji kakak yang ambil alih."
"Kak Alisa suka marah-marah gak ya bang kalau nanti ku tanya?"
"Selama ini yang kau tau gimana?"
"Baik sih, gak pernah marah atau pelit."
"Yaudah sekarang kau turun buka pintu gerbang itu," jelas Ray berhenti di depan gerbang rumah.
"Nanti bilangkan ke kakak ya bang. Kalau pun gak dikasih, utang aku gak apa-apalah. Nanti nyicil dari uang saku sekolah."
"Udah buka dulu gerbang itu."
"Janji?"
"Satu..."
"Oke oke bos jangan marah terus." Bergegas turun membuka gerbang rumah dan masuk kedalam halaman.
"Makasih ya Bang," ujar Rama kembali menghampiri Ray ketika keluar mobil.
"Makasih apalagi?"
"Handphone," jelas Rama alis naik turun.
"Iya nanti, udah masuk dulu." Berjalan memasuki rumah.
***
__ADS_1
Sampai disini dulu kak akak, masih sama seperti biasa. apapun itu terimakasih, kita lanjut tanpa promo kopi atau indomie, sikat...