
"Halo bos, orang lagi istirahat jangan di
ganggu dulu bisa gak?" bentak Erlin menatap Aldo.
"Kalian siapanya Alisa? Kalian gak tau aku siapa? Kenalin, Aldo, lelaki yang akan memiliki Alisa kelak," balas Aldo egois ingin memanfaatkan keadaan yang telah ia pahami saat itu.
"Kekasih Alisa itu Ray, bukan kamu. Pedean banget si loh jadi lelaki. Gadak permisi atau apa segala macem langsung nyelonong masuk pake pegang tangan segala lagi," pekik Erlin sedikit menaikan nada bicara.
"Eh, bagus ya lo kalau ngo.-
"Sudah-sudah jangan berisik, kalian gak tau apa di depan kalian tuh ada Alisa yang masih berjuang melewati masa kritis. Bukanya saling mendoakan kesembuhan buatnya, malah bertengkar," sahut Mia menenangkan suasana.
"Iya tapi temen kamu ini duluan yang mulai," jelas Aldo menatap Mia menunjuk Erlin.
"Masih mau di lanjutkan? Nantangin?" tegas Mia melotot menggulung lengan baju langsung menarik kera Aldo.
"Mia udah mi, sabar. Kok malah kamu yang jadi emosi," bisik Erlin menenangkan Mia.
Satu hari telah berlalu. Mia, Erlin dan Aldo masih mendampingi menjaga Alisa yang belum juga sadarkan diri. Kedua orang tua Alisa akhirnya tiba di tempat dimana sang putri dirawat.
Ceklek...... (suara pintu).
"Lisa, ya Allah. Putriku, Yah."
Tangis seorang ibu pecah ketika memasuki ruangan melihat putri kesayangan terbaring lemah belum sadarkan diri. Memeluk sang putri tak mampu membendung segala kesedihan.
Sementara sang Ayah berdiri lemas merasakan shock berat melihat semua kejadian yang menimpa Alisa. Tak sanggup mempercayai apa yang telah terjadi.
"Ya Allah nak, bangun nak, ini Ibu," lirih Ibunda merintih berurai air mata mengusap lembut kening Alisa.
"Kenapa ini bisa terjadi," sahut sang Ayah terduduk menunduk lemah kedua tangan memegang erat kepala.
__ADS_1
"Kalau saja bukan karena Ray, semua ini pasti gak bakal terjadi," cetus Aldo mulai mengatur rencana.
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Jangan memprovokasi," pekik Erlin.
"Kamu lihat sendiri kan yang menjemput Alisa itu Ray, bukanya langsung mengantarkan Alisa malah pergi keliling ntah kemana. Hasilnya yang begini jadinya," lanjut Aldo.
"Sudah, jangan di teruskan," sahut Mia bersuara kecil menghentikan laju tangan Erlin yang ingin menampar Aldo.
"Ray? Dimana dia sekarang? Benar, ini pasti karena dia, karena dia putriku celaka," lanjut sang Ayah mengepal tangan mata memerah menekuk alis wajah.
Dilain sisi, Ray telah terbangun dari istirahat panjangnya karena pengaruh obat penenang.
Kondisinya yang sedikit lebih baik dari Alisa, membuatnya sudah bisa berjalan kembali meski merasakan sakit di lengan kiri terasa seperti patah.
Dengan menopang lengan kiri ke leher, Ray berjalan mencari dimana kamar rawat Lisa berada.
"Lisa sayang..Alisa." Berjalan terbata-bata keluar dari ruang rawat.
"Aku mau mencari menemui Alisa."
"Ray jangan memaksakan diri dahulu, lebih baik kamu istirahat," lanjut Fendi menghalangi.
Ray tetap melanjutkan berjalan meski sedikit goyah tak menghiraukan perkataan Fendi.
"Ray jangan bandel gini dong, kayak anak kecil tau gak," gumam Fii dari belakang.
Sigap Ray berbalik arah, "Apa? anak kecil! siapa yang anak kecil, ha? Siapa!"
Melihat emosi menguasai Ray kembali, Fii memalingkan pandangan bermaksud tak ingin memperkeruh keadaan.
"Kalian itu sahabatku, kalian gak tau kan seperti apa perasaan ku ke Alisa? Gak tau kan ha, gak tau kan?" pekik Ray kembali.
__ADS_1
"Aku cuma punya kalian, aku gak punya siapa-siapa di kota ini. Tapi kenapa kalian justru terlihat menghalangi ku bertemu Alisa," lirih Ray tersandar di dinding merintih pilu nada bicara kian meredup.
Fendi mendekati merendahkan tubuh memegang pundak Ray, "Bukan begitu, kami hanya ingin'-
"Jangan-jangan Alisa? Gak, gak, gak mungkin. Alisa gak mungkin ninggalin aku. Aku harus mencarinya." Ray beranjak kembali, membayangkan hal buruk tentang Alisa." (Meninggal)
"Ray, hei, Ray...." Fendi menarik Ray.
Dengan kasar, Ray menghempaskan tangan Fendi mendorongnya, "Apa lagi ha!"
"Fen, sudah," ucap Fii menopang tubuh Fendi.
"Coba halangi aku sekali lagi, jangan harap kita masih bisa saling mengenal." Kecam Ray menunjuk mereka berdua.
Ray kembali berjalan membelakangin Fendi dan fii. Tak begitu jauh,...
"Lisa masih hidup, tapi belum sadarkan diri. Dokter bilang dia mengalami keterbelakangan ingatan. Kalaupun dia sadar belum tentu dia mengenalimu. Semua kenangan tentang hidupnya mungkin hanya beberapa ingatan saja yang dia ingat. Dokter jug bilang seperti terjebak mundur ke masa lalu. Berbeda dengan amnesia, yang Alisa alami jauh lebih berat," tegas Fii membocorkan rahasia yang seharusnya mereka tetap merahasiakan dari Ray.
"Gak, itu gak mungkin, Aisa pasti mengingatku," jelas Ray panik tak tentu arah.
Meski langkah tertatih-tatih, Ray terus berjalan menyusuri seluruh ruangan kamar hingga akhirnya sampai di ruangan rawat Alisa. Ray mengetahui ruangan itu milik Alisa ketika ia melihat Mia dan Erlin berdiri dari balik jendela transparan.
"Lisa....Alisa....ini aku Ray."
Mendengar Ray berucap dari luar saat hendak memasuki ruang rawat Alisa dan pintu masih terbuka lebar. Ayah Alisa bangkit dari tempat duduk segera menghampiri. Tanpa banyak kata berbasa-basi, sang ayah langsung menghempaskan satu pukulan keras tepat di wajah Ray.
Bruuaak..........
Terkapar Ray di lantai mendapatkan pukulan dari Ayah Alisa yang tak mampu lagi menahan emosi.
***
__ADS_1
Sampai disini dulu kak, mau olahraga mata dulu biar gak pegel natap layar terus. Sekarang jam dimana penjual gorengan tebar pesona...nanti lanjut lagi, makasih...