Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 60


__ADS_3

"Wajar kok sayang udah pas itu waktunya dengan tempo segitu. Kamu begitu khawatirnya sayang?"


"Gak sih, malahan seneng bisa segera menikah dengan kamu, Mas."


"Terus, apa masih ada yang menggangu hatimu?"


"Aku masih kepikiran ayah, Mas." Alisa menyandarkan kepala di bahu Ray, terlihat ikut menikmati udara dingin malam bersamanya.


"Terkadang ayah bisa terlihat begitu keras padaku. Selalu bertentangan dengan apa yang aku impikan. Tapi disaat aku jauh darinya, Aku begitu merindukannya, Mas. Aku menyesal pernah bertengkar hebat dengan ayah," lirih Alisa mendekap erat lengan Ray.


"Masih ada waktu untuk menyenangkan harinya sayang, sebelum terlambat buatlah kejutan keajaiban untuknya nanti," balas Ray mengelus rambut Alisa.


"Tapi aku masih kepikiran satu hal mas. Ayah begitu menentang hubungan kita karena sebelumnya telah melihat foto syur kamu dengan Yuli. Tapi bagaimana bisa secepat itu dia setuju dengan lamaran yang ayah kamu sampaikan tadi."


"Ah aku tau, mungkin suap menyuap kali makanya langsung setuju," jahil Ray kembali.


"Tuh kan mulai lagi."


"Canda-canda. Kalau menurut aku sih mungkin beliau lelah menuntut kamu berjalan sesuai keinginan dirinya. Walau pada dasarnya seorang lelaki lebih menggunakan akal logisnya di banding perasaan, namun ada kalanya perasaan sayang beliau yang begitu kuat pada putrinya mampu mengalahkan ego pikiran tersebut. Nah jadi lah tuh seperti ini akhirnya. Kamu milikku dan aku milik negara," jelas Ray kembali.


"Milik negara atau milik Yuli?"


"Kenapa jadi bahas Yuli?" pekik Ray merinding mendengar nama tersebut.


"Et et et, belum sah belum sah." Rama kembali menghampiri menjahili.


"Anak kecil tidur sana, ini untuk Abang-abang, bukan Adik-Adik," singkat Ray.


"Iya iya." Rama kembali pergi.


"Malam ini kita tidur bareng keliatannya. Ya walaupun dengan berat hati karena terpaksa, Aku ikhlas kok tidur bareng," lanjut Ray menatap Alisa.


"Kamu ini Mas, kebelet bener sih. Udah ah aku masuk dulu mau istirahat tidur, bye," balas Alisa beranjak masuk ke dalam rumah.


"Kok gini gini kali lah hidupku, dia gak tau apa sakitnya menahan pemberontakan itu seperti apa? Andai sedikit aja kamu mengerti Lisa, pasti yang itu itu bakal terjadi," gerutu Ray kembali meminum kopi.


Tanpa terasa 2 hari berlalu begitu cepat. Keadaan sekitar area rumah terlihat mulai ramai, tak lama setelahnya rombongan keluarga Alisa tiba. Setelah kedua keluarga saling menyambut, memperbincangkan banyak hal sembari menunggu Ray dan Alisa selesai berbenah diri.


Dikamar hias Ray bersama Alisa.


"Kamu kenapa Mas, kok diem aja aku liat dari tadi?" tegur Alisa.


"Biasa itu mbak, mungkin si masnya lagi gugup, kan mau jadi pengantin," sahut penata rias pengantin yang sedang merias wajah Alisa.

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya seperangkat sholat tunai," cetus Ray menghafal ijab.


Melihat kelakuan dirinya, Alisa serta penata rias tersebut tertawa receh.


"Jangan pada ketawa, serius ini. Saat ini aku berasa jadi panglima perang yang harus maju di barisan paling depan," lanjut Ray.


"Ntar pasti bisa kok Mas, jangan di bawa gugup terus," sahut Alisa.


"Nah si mbaknya udah cakep, tinggal pakai gaun terus jadi deh," ujar perias tersebut.


"Mas giliran kamu duduk sini biar di poles dikit terus jadi seimbang sama Rahul," lanjut Alisa kembali.


"Dengan mahar seratus ribu di bayar, kok di bayar pulak? Kayak jual beli barang dagangan aja," gumam Ray.


"Mas ih, buruan nanti terlambat loh," pekik Alisa berdiri mencubit pinggul Ray.


"Iya iya, sabar," balas Ray beranjak ke kursi rias.


"Dari tadi ntah mikirin apa aja," pekik Alisa duduk bercermin di atas ranjang.


"Ya mikirin kalau salah ucap terus di ulang-ulang kan gak enak sayang. Jadi harus di ingat di hafal terus menerus biar gak lupa," jelas Ray.


"Pernikahan bukan sebatas mengucap atau sekedar hafal menghafal wahai calon suamiku. Tapi pernikahan itu tentang memberi ketulusan dan bertanggung jawab penuh dari dalam sini," balas Alisa menunjuk dada kiri Ray.


"Nanti kalau udah selesai dan sah, bebas mau tamboh juga boleh. Udah ah jangan ngbrol terus, ntar gak siap-siap," ketus Alisa.


Selesai berhias diri, Ray dan Alisa bersamaan keluar dari ruang rias pengantin. Suara yang cukup menakutkan sedikit terdengar dari kerumunan ibu-ibu tetangga.


"Wah sudah cakep ya."


"Iya, serasi bener."


"Pengantin pria keliatan gugup."


"Jadi pengen nikah lagi."


"Ganteng pisan mirip bojo ku neng omah."


Ray perlahan duduk di samping pak penghulu berhadapan dengan Ayah Alisa bersiap menjabat tangan.


"Baik, semuanya mohon sedikit tenang, acara akan segera kita mulai," ujar Pak penghulu.


Melihat kiri dan kanan, air keringat terus mengucur deras di wajah Ray saat itu. Gugup karena pertama kali dalam hidup mengucap janji sehidup semati.

__ADS_1


"Waduh, sampai gemetaran begitu sih Ray, Bu," ujar Ibu Alisa tersenyum bahagia pada Ibu Ray.


"Iyakan Bu. Katanya anak laki anak muda mumbai tuh Bu bilangnya, eh begitu aja udah loyo," balas Ibu Ray menjahili Ray.


"Jika hidupmu merasa tak berguna, ingatlah bahwa masih ada orang tua yang akan selalu membanggakan anak tetangga," batin Ray menjahili diri sendiri.


Menarik nafas panjang, menghembuskan penuh ketenangan dengan tegas Ray menjabat tangan Ayah Alisa.


"Saya sudah siap, Pak. Sangat siap, cukup siap dan siap kali."


Bukan kata-kata yang akan ia ucapkan yang membuatnya gugup, namun makna di balik kata ijab tersebut itu yang membuat gugupnya kian tak meredah. Ketika menerima segalanya, maka segala perbuatan yang Alisa lakukan di kemudian hari mau itu baik ataupun buruk kelak mutlak menjadi tanggung jawab Ray sebagai seorang suami.


"Baik, Bapak mempelai wanita bisa mengikuti apa yang saya sampaikan, mohon di ucapkan kembali," lanjut penghulu memberikan intruksi.


"Ray Al karim."


"Iya pak."


"Saya nikahkan engkau dengan putri ku."


(Sensor).


(sensor).


"Saya terima nikah dan kawinnya Alisa."


(Sensor)


"Gimana para saksi, Sah?"


"Sah."


"Sah."


"Alhamdulilah yes!" Ray berdiri seperti memenangi pertandingan sepak bola.


"Gimana Bu? Mantab kan sekali ucap gol," pekik Ray menatap Ibu.


"Iya iya, jagoan deh udah," balas kedua Ibu kompak.


Melihatnya terlalu bersemangat membuat Alisa segera menarik-narik tangan Ray karena malu bahagua di hadapan banyak orang. Kelakuan Ray tersebut mengundang sedikit banyak gelak tawa riang mencairkan suasana tegang kala itu.


***

__ADS_1


Sampai di sini dulu kakak, tadinya mau langsung di lanjut, tapi cuaca agak agak mau ujan. Jadi udah di putuskan untuk angkat jemuran dulu. Makasih tetap baca kisah ini kak, lanjut.....


__ADS_2