Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 33


__ADS_3

"Ray tunggu." Fendi mengejar menghampiri.


"Ada apa lagi Fen, sudahlah jangan mengasihi ku seperti itu."


"Aku hanya ingin menemani sahabatku," pungkasnya.


"Lebih baik kamu temenin Erlin Fen, aku baik-baik saja."


Dengan nafas terengah-engah, Fii juga menghampiri, "Aduh, cepat kali nafas ku habis ah."


"Sebaiknya kalian temani saja Mia dan Erlin, aku lagi ingin sendiri."


"Kami takut kau berbuat yang aneh-aneh Ray," lanjut Fendi mengkhawatirkan.


"Aku gak segila itu, jangan khawatir, aku pergi dulu."


Ray berjalan menjauhi untuk sekedar menenangkan pikiran di krpalanya.


"Malah rokok habis lagi, sial." Meremuk bungkus rokok yang kosong."


Fendi, Fii kembali menemui Mia dan Erlin yang masih berada di acara pertunangan Alisa. Sedangkan Ray pergi menuju ke sebuah cafe terdekat mencari minuman segar setelah ia membeli sebungkus rokok.


Di sisi lain,


"Kenapa gak kalian ikuti kemana Ray pergi, kalian gak takut terjadi apa-apa dengannya?" ujar Mia.


"Dia sudah bilang jangan mengkhawatirkan dirinya, kalau sudah berkata seperti itu pasti Ray gak bakal melakukan hal yang bodoh," jelas Fii.


"Terus bagaimana cara kita membantunya?" sahut Erlin.


"Bantu apaan Erlin?" sambung Fendi.


"Bantu ke timur tengah ikut perang. Ya bantuin dapetin Alisa kembali lah!" pekik Erlin memangku tangan.


"Aku juga gak tau harus berbuat apa Erlin, karena aku belum pernah merasakan berada di posisinya saat ini. Lagian emang ada gitu orang uda bertunangan terus pisah? Bisa-bisa nanti Ray malah kenak pidana alasan hancurin hubungan orang, Erlin," ucap Fendi terlihat murung dan bingung.

__ADS_1


"Tapi gak menutup kemungkinan sih terjadi, misalnya ketika ingatan Alisa pulih dan bisa mengingat semua ingatannya tentang Ray," sahut Mia mengambil segelas minuman.


"Tapi bagaimana caranya? Bertemu langsung dengan Ray juga gak membuat reaksi apapun dalam ingatan Alisa," gumam Fii.


"Tapi kecil sih kemungkinannya," lanjut Mia menoleh ke panggung Alisa kembali.


"Kalau dihitung, berapa persen kira-kira, Mia?" balad Fendi.


"Mungkin sekitar 2 %."


"Udahlah bagus sih Ray jadi duda ajalah suruh pasrah dia," jelas Fii mengelus dahi.


"Jangan ngomong gitu dulu kau, walau kemungkinannya kecil harus tetap di usahakan," balas Fendi memikirkan sesuatu.


Sesampainya Ray di cafe, terduduk mengotak-atik ponsel yang ia genggam.


Entah sihir macam apa yang Yuli gunakan, lagi-lagi dia melihat Ray dari kejauhan, "Mas Ray? Ngapain dia bengong sendiri disana? Aku samperin aja deh." Berjalan menghampiri.


Ray yang sesekali menoleh mngetahui Yuli berjalan mendekati, seketika langsung berpura tak mengetahui keberadaannya.


"Yuli, kenapa kamu bisa di sini?"


"Ini tuh cafe kesukaan aku dan sering mampir di sini kok. Tadi gak sengaja aku lihat kamu jadi aku samperin aja sekalian."


"Jangan beralasan, kamu gak puas ganguin aku terus?"


"Kok kamu gitu sih ngomongnya, Mas gak suka aku deket-deket ya?"


"Dari caraku memperlakukan kamu, harusnya kamu bisa mengerti, Yuli."


Yuli terdiam sesaat,


"Sialan ni cowok, semakin jual mahal aja. Tapi dengan kamu bersikap seperti itu, aku makin suka dan tergila padamu mas," batinnya.


"Boleh aku duduk sini, Mas?" lanjut Yuli duduk memesan minuman kembali mengajak Ray bercerita.

__ADS_1


"Kamu masih mikirin Alisa ya mas? Ngapain sih ngejar-ngejar Alisa terus kayak gak ada wanita lain aja. Dibandingkan dia kan lebih baik aku lagi."


Ray yanh tak menghiraukannya, tetap menatap layar ponsel.


"Lagian nih ya, dia kan lebih memilih Aldo dari pada kamu ma, itu tandanya dia gak suka gak sayang kamu lagi. Kalau sudah begitu ngapain kamu masih kejar dia, tinggalkan saja dia dan aku pasti menerima kamu mas," ujar Yuli menyentuh mengusap lembut lengan kiri Ray.


Yuli saat itu hanya mengetahui hubungan Alisa dengan Aldo sebatas pacaran. Dia masih belum mengetahui jika Aldo dan Alisa telah resmi bertunangan. Wajar saja karena hanya dia yang belum menerima kabar pertunangan tersebut.


"Dengar ya Yuli, sampai kapanpun aku gak akan membiarkan Alisa jatuh ke pelukan orang lain!" Melepaskan sentuhan tangan Yuli.


"Egois sekali kamu Mas, jelas-jelas sudah di campakkan."


"Alisa gak pernah mencampakkan ku, sedikitpun dia gak bakal menghianati hubungan kami!"


"Oh, kira-kira apa ya tanggapan Alisa jika mengetahui Foto kita ini," kecam Yuli menunjukan ke Ray foto yang ia ambil saat tidur bersama.


"Kamu mau mengancam ku? kamu pikir aku takut? perlu kamu ketahui Yuli, sampai kapanpun aku hanya mencintai Alisa. Jika Alisa mengetahui itu, aku pastikan kamu akan lebih menyesal dari ini," balas Ray menaikan sedikit nada.


"Omong kosong! Kalau kamu benar-benar mencintainya, mana mungkin kamu mau tidur dengan wanita lain. Dasarnya aja semua lelaki sama, mudah mengucap cinta sulit membuktikan perkataannya sendiri," pekik Yuli mengaduk minuman di meja.


"Kalau bukan karena kamu hadir dalam hidupku, semuanya gak bakal jadi seperti ini, jelas?"


"Kok kamu jadi salahin aku, Mas?"


"Lebih baik kamu pergi sekarang sebelum kesabaranku hilang!" Menatap Yuli penuh emosi.


"Tapi kan mas,-


"Lebih baik kamu urungkan niatmu untuk memiliki aku. Sedikit pun hati ini tak memiliki ruang untukmu berlabuh," jelas Ray meremas sebungkus rokok yang baru ia beli.


Dengan penuh kekecewaan, Yuli pergi meninggalkannya.


"Kamu liat saja nanti ya mas apa yang akan aku lakukan. Dan untuk kamu Alisa, jika aku tak bisa memiliki Ray, aku pastikan kamu juga tak bisa memilikinya," batin Yuli berniat melakukan hal gila.


***

__ADS_1


Sampai disini dulu kak, walau cuaca hujan terus tapi hati gak boleh basah ya. Makasih tetap ikutin alur ini. Lanjut...


__ADS_2