Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 39


__ADS_3

"Cepat kamu beritahu saya atau saya tidak akan merestui pernikahan kalian?" ancam sang Ayah ingin mengetahui apa yang terjadi.


"Jadi gini nih pak, dengan berat hati saya harus mengatakan ke bapak karena saya sangat mencintai Alisa putri Bapak dan gak mau dia jatuh ke pelukan lelaki yang salah. Selama ini Ray telah menghianati cinta Alisa Pak, berselingkuh dengan gadis lain. Kini alisa telah mengetahui kebenaranya, nah karena tadi rasa kecewa Alisa yang begitu besar gak sanggup menahan kesedihan atas sifat buruk Ray, jadi lah tuh ponsel ku sasarannya."


Mendengar peryataan Aldp, wajah ayah Alisa semakin memanas. Aldo hanya perlu menggeseknya dengan sedikit kata-kata lagi.


"Lelaki pecundang seperti Ray gak cocok mendapatkan cinta tulus milik Alisa," ujarnya mengatur semua rencana.


"Pernikahan kamu dengan Alisa akan saya percepat, biar Alisa menjauh dari lelaki sialan itu, kamu mau kan mempercepat pernikahan dengan putriku?"


"Yes, bagus dengan begini gak ada lagi yang bisa menghalangiku. Ray Ray, sekarang kamu tau kan siapa aku? Aldo gitu," batin dalam hati.


"Jika itu keputusan terbaik demi kebahagiaan Alisa, saya siap Pak, dengan Ikhlas hati saya akan mempercepatnya."


"kalau begitu 3 hari ke depan acara pernikahanmu dengan Alisa akan dilaksanakan."


Sang ayah bergegas pergi menuju kamar Alisa seperti ingin memberitahukan sesuatu. Aldo yang tak ingin mencampuri perihal mereka, beranjak pergi meninggalkan kediaman tersebut.


Dengan penuh bahagia Aldo tertawa kecil di sepanjang jalan pulang menuju rumah.


Disisi lain Ray yang masih terbaring bermain jari tangan melamun.


"Dokter bilang kau sudah bisa pulang hari ini Ray," ucap Fii menemui menutup pintu ruangan.


"Syukurlah kalau begitu. Udah gak sabar ingin cepat-cepat bertemu Alisa."


"Sabar dulu bosku, ulet kali sih mau buru-buru aja kayak kebelet kawin kau," balas Fii duduk di samping Ray.


"Bukan gitu, aku harus bisa lebih meyakinkan Alisa untuk menolak pernikahannya dengan Aldo. Kamu tau sendiri kalau Alsdo memanfaatkan kondisi tak berdayanya ingatan Alisa. Sampai saat ini aku terus berharap jika berusaha sedikit lebih keras pasti bisa membawa ingatan Alisa kembali."


"Dewi fortuna berpihak padamu nak. Setelah kejadian kemarin semua ingatan Alisa tentangmu kembali. Bahkan ketika melihatmu dalam masa kritis, seharian penuh Alisa menjagamu bercurahkan air mata." Menepuk lembut bahu Ray.


"Kau gak lagi berbohong kan Safiiludin? Gak lagi bercanda kan?"


"Untuk sebuah perasaan, aku gak pernah bercanda yang mulia kakanda prabu," balas Fii menunduk tangan di dada bersikap hormat.


Mengetahui kabar ingatan Alisa telah kembali,

__ADS_1


bahagia Ray tak tertahankan langsung memeluk Fii sekuat mungkin.


"Eg-eg-hg-eghh, uhuk, Ra-y, R-ay se-sak i-ni," ujarnya menahan dekapan.


"Maaf kebablasan aku." Melepas pelukannya.


"Gila kau ini mau bunuh aku apa gimana, sakit kali susah nafasku," ujar Fii kesakitan.


"Iya iya maaf, aku seneng aja dengar apa yang aku nantikan selama ini akhirnya kembali."


Gedebruk...


(Suara pintu terdorong begitu kencangnya, mendapati Fendi tergesa-gesa dengan nafas berantakan).


Ray melihat Fendi memegang sepucuk surat undangan, tanpa berkata sedikitpun, Fendi menyodorkan undangan itu kepadanya.


"Aldo, Alisa?" lirih Ray membaca kertas tersebut.


Dengan cepat Fii mengelus lembut pundak Ray bermaksud menenangkan hatinya yang baru pulih.


Kembali kekediaman Alsa.


Menghampiri sang putri di kamarnya, sang ayah ingin memberitahukan bahwa hari pernikahan dengan Aldo akan di percepat.


Tok tok tok...


"Alisa, Lisa, buka pintunya, Lisa!"


Alisa terus berdiam diri berbaring di kamarnya, masih tak menyangka atas apa yang Aldo tunjukan kepadanya.


Mendengar suara Ayah begitu keras, sang ibu mendekati ayah Alisa.


"Ada apa ini Yah, kok teriak-teriak?"


"Ini loh Bu, anak mu ini masih mengurung diri menangisi lelaki gak penting seperti si Ray, apa hebatnya coba lelaki seperti itu," ujar sang Ayah penuh kesal.


"Memangnya kenapa dengan Ray?" tanya sang Ibu mengelus menenangkan ayah.

__ADS_1


Setelah menjelaskan semuanya kepada sang Ibu, Ayah Alisa beranjak meninggalkan kamar tersebut.


"Urus anakmu itu, kasih tau dia mana lelaki yang bener sama enggak."


Mendengar penjelasan itu sang ibu menggelengkan kepala kemudian mencoba berbicara dengan Alisa.


Alisa yang mendengar percakapan kedua orang tuanya, segera bangkit membuka kunci pintu kamar kemudian kembali berbaring.


"Alisa, Nak, Ibu masuk ini."


Ceklek.


"Kamu masih memikirkan si Ray?" ujar Ibu menatap Alisa terbaring berlinang air mata berjalan mendekati terduduk di sebelah Alisa.


"Bu, mas Ray gak mungkin seperti itu kan Bu,?" ucapnya perlahan duduk memeluk Ibu.


"Ikhlaskan jika sudah seperti itu takdirnya sayang. Sebagai manusia yang lemah, kita hanya bisa berdoa," ujar Ibu mengelus kepala Alisa.


"Tentang pernikahan kamu dengan Aldo, ayah bilang barusan setuju untuk mempercepatnya, Aldo juga setuju," lanjut Ibu menghapus air mata Alisa.


"Tapi kan Bu, kenapa gak tanya keputusan Alisa dulu? Kenapa ayah langsung buat keputusan begitu saja? Kan yang menjalani kelak Alisa, Bu."


"Maafin Ibu, jika ayahmu sudah membuat keputusan ibu gak bisa membantahnya."


"Ayah sama Ibu sama aja gak perduli perasaan Alisa, kenapa gak ada yang ngertiin Alisa sih Bu? kenapa?" pekik Alisa kembali menangis.


Ibu hanya bisa memeluk Alisa, mustahil bagi seorang ibu tak mengetahui perasaan anaknya.


Hanya saja terkadang seorang istri tak bisa membantah perkataan suami. Hal yang wajar karena memimpin keluarga adalah tugas seorang ayah.


"Yasudah Ibu ada keperluan bentar, kamu istirahat saja dulu, apapun yang terjadi nanti Ibu akan selalu mendukung kamu sayang. Pikirkanlah kembali baik-baik keputusan mana yang harus kamu pilih."


Ibu beranjak meninggalkan Alisa sendiri di kamar, sedang Alisa masih bingung harus berbuat apa atas pilihan hidupnya. Terus menangis memandangi foto kenangannya bersama Ray sesekali mendekap foto tersebut.


***


Sampai disini dulu kak, tanpa iklan langsung lanjut... Makasih.

__ADS_1


__ADS_2