
Ray masih menatap Alisa di luar area cafe.
"Apa yang harus aku jawab padanya?" lamunnya dalam hati menatap Alisa.
"Mas kok diem aja, jawab dong. Kenapa? Gak bisa jawab kan?"
Menghirup udara cukup banyak, menghela nafas perlahan mulai menjawab pertanyaan Alisa.
"Malam itu aku frustasi tentang pertunangan kamu dengan Aldo. Hatiku begitu remuk hancur melihat kalian berdua bersanding di atas tempat yang sangat megah. Saat itu aku berusaha ingin meraih menggenggam tanganmu kembali, namun kilauan cincin di jari manismu menghentikan langkahku," jelas Ray mengusap wajah memangku kedua tangan di pinggang.
"Tapi kamu tau kan aku melakukan itu karena aku gak ingat apapun tentang kamu, Mas," pekik Alisa berpaling pandangan.
"Aku tau gak seharusnya aku pergi untuk minum bermabuk-mabukan hanya karena tentangmu. Tapi aku gak tau lagi harus berbuat apa dan harus lakuin apa aku gak tau. Ketika aku terbangun pagi hari, Yuli telah berada di sampingku. Dalam keadaan mabuk yang cukup berat, harusnya kamu tau aku gak bakal bisa melakukan apapun apalagi melakukan hal aneh terhadap Yuli," lanjut Ray menceritakan hal sebenar mungkin.
"Kenapa kamu jadi seperti itu sih mas? Kemana mas Ray yang dulu? Mas Ray yang gak pernah menyerah untuk meraihku. Kenapa hanya karena aku gak mengingatmu, kamu terus menyerah dan ingin melupakan semuanya tentang kita?
"Aku bukanlah super hero yang mampu bangkit meski berkali-kali terjatuh Alisa. Tanpa suport dari sang wanita, lelaki bagaikan daun kering yang mengalir di atas sungai kecil tak mampu melawan arus," balas Ray tersenyum memegang lembut kedua pipi Alisa.
"Tapi aku masih bingung harus percaya siapa mas. Foto itu jelas kamu loh, bukan orang lain," lirih Alisa terlihat sedikit kesal.
"Aku gak memaksa kamu untuk mempercayaiku Alisa, tapi apa yang aku ucapkan barusan itu tadi adalah fakta sebenarnya," jelas Ray terus meyakinkan Alisa.
"Kamu harus buktikan mas bahwa apa yang kamu ucapkan itu memang benar adanya jika aku begitu berarti untukmu!"
"Untuk sebuah perasaan, aku gak pernah main-main." Membujuk Alisa untuk masuk ke dalam cafe berbicara lebih santai.
Di dalam cafe setelah memesan minuman pelepas dahaga.
"Gimana kabar ibu dan bapak, sehat?" lanjut Ray memantik api menghisap rokok sedikit tenang.
__ADS_1
"Mereka sehat mas, tapi..."
"Tapi apa? Tapi ini bukan?" Ray menunjukan sepucuk undangan di tangannya.
Alisa langsung merampas undangan tersebut.
"Kamu dapat dari mana mas?"
"Aldo memberikan ini ke Fendi untukku, seminggu lagi kamu akan menjadi nyonya Aldo, selamat ya."
Perlahan mata Alisa kembali berlinang. Wanita yang begitu dalam menggunakan perasaan, hingga hal sekecil apapun akan membuat hatinya tersentuh begitu rapuh.
"Sebenarnya mas, pernikahan itu hanya tinggal 3 hari lagi. Ayah sangat marah kepadamu ketika Aldo menunjukan foto kamu bersama Yuli," ucap Alisa terbata-bata.
"Kamu terlalu indah untuk bersedih Alisa. Jangan menangis terus ntar diliat orang gimana? Pasti aku dianggap lakuin KDRT ke kamu."
Sedikit canda Ray kembali membuatnya tersenyum meski sebenarnya hati Alisa tetap bersedih.
"Mereka benar Lisa, tidaklah mudah memenangkan hati ayahmu, tapi mulai saat ini akan berbeda ceritanya. Sang lelaki biasa ini tak akan membiarkan sang kekasih terus bersedih." Menghapus linangan air mata Alisa melupakan sejenak pertentangan dari sang ayah.
Suasana hening seketika.
"Mas, bawa lari aku, aku gak ingin menikah dengan Aldo," cetus Alisa.
"Kamu mau kan mas? Kita pergi sejauh mungkin demi kebahagiaan kita," lanjut Alisa kembali.
Hem......Huuu......(Hela nafas).
"Bukan seperti ini cara mewujudkan impian, Nak. Tanpa restu kedua orang tuamu, bahagia memilikimu akan terasa kurang lengkap sayang. Kamu semakin ngaco ya, kamu demam?" Langsung memegang dahi Alisa.
__ADS_1
"Kan mulai lagi deh ah," gumam Alisa kembali merajuk.
Ray bangkit berjalan mendekati Alisa, berbisik lembut sembari melepaskan kalung di leher.
"Ini aku pasangin buat kamu, ingatlah bahwa lelaki biasa itu sedang berjuang merebut kembali sang putri tercinta," ujar Ray memasangkan sebuah kalung kesayangan miliknya ke leher Alisa.
"Ini kan kalung kamu dari semasa kuliah mas. Selama ini kamu terus memakainya pasti ada alasannya kan?" balas Alisa memandangi kalung tersebut.
"Anggap saja sebagai perantara disaat kamu merindukan hadirku nanti," jawab Ray singkat.
Alisa beranjak bangkit memeluk Ray tak menghiraukan meski suasana sore di cafe itu cukup ramai pengunjung. Bagi dirinya itu adalah cara terbaik seorang wanita mengekspresikan kerinduan.
Tak lama setelahnya Ray dan Alisa kembali berpisah, saling melangkah berlawan arah menjalani takdir Tuhan dalam kisah cinta penuh duka.
"Yang berkuasa atas hidupku, katakan padaku jika mimpi yang ku punya salah," batin Ray berbalik menatap Alisa.
Alisa yang juga berbalik arah ketika tepat di pintu mobil, tersenyum menatap Ray sebelum akhirnya pergi menjauh.
"Yang juga berkuasa atas hidupnya, bukankah ia berharap pada mimpi yang sama?" lanjut Ray berbalik arah.
40 menit berlalu.
Setibanya di penginapan, Ray terlihat lebih bersemangat karena kepercayaan Alisa sedikit kembali padanya.
Ceklek...
"Kok gak di kunci? Perasaan mereka bilang penginapan udah dikunci," batin Ray ketika membuka pintu.
***
__ADS_1
Sampai disini dulu ya kak, malam ini kopi dah habis jadi lanjut besok. Makasih buat yang tetap ikutin dan makasih buat yang dah mampir. Lanjut......