
"Ray..."
Ray yang tak menghiraukan perkataan Budi, bergerak cepat kembali ke tempat eksekusi untuk mencari tau kebenaran tersebut.
"BRENGSEK ENYAHLAH!!"
DORR!!!
"E-E-Eka?" cetus Ray melihat Eka membabi buta membunuh para komplotan tersebut.
"HOI MENUNDUK!!" Teriak salah seorang dari kejauhan.
DOR!!!
Seketika Ray menoleh ke sisi belakang melihat satu dari komplotan penjajah tersebut terkapar mendapati peluru telah menembus kepalanya.
"Benarkah ini?" Ray kembali menoleh kembali menatap depan.
"P-PU-PUTRA?" lanjut Ray melihatnya berdiri masih menodongkan pistol.
"Hanya berlima mampu membunuh hampir 20 orang?" pikir Ray.
Eka, Putra dan rekannya berjalan beriringan mendekati Ray. Kemudian berhenti tepat di hadapan menundukkan pandangan.
"Kapten, salah satu dari mereka mencoba kabur," ujar rekan Eka menunjuk bajingan berlari sekitar 150 meter.
"Wokeh," balas Eka membentangkan sebuah sniper langsung membidik dengan posisi bertekuk sebelah lutut.
"Jika meleset, jatah makan siangmu berkurang," pekik Putra.
"Berisik bajingan!" Bentak Eka.
DUASHH!!
Melihat kearah satu anggota komplotan yang berlari, sekejap langsung tersungkur dari kejauhan.
"Keren, kemampuan kapten tiada tanding," seru rekan Eka.
"Ya jelas, jika AS50 Sniper Rifle telah membentang, takkan ada yang selamat dari mautnya," jelas Eka kembali berdiri.
"Se-sejak kapan?" ujar Ray bingung menatap mereka.
"Hooh, Ray rupannya," seru Eka menatap Ray.
"Sudah dari tadi, bodoh!" sahut Putra.
"Hah, Aku hampir lupa, pisangku terjatuh dimana?" lanjut Eka terlihat bingung.
"Bukankah kapten telah memakannya sebelum menghabisi nyawa orang itu?" sahut rekannya menunjuk jasad pemimpin bandit yang telah mati.
"Ah syukurlah kalau udah ku makan."
"kalian baik-baik saja?" tanya Ray kembali.
"Bodoh! Justru harusnya kami yang bertanya itu padamu. Apa yang terjadi padamu sampai bisa berada disini?" jelas Putra.
"Kenalin, senjata pabrikan Inggris berkaliber 12,7 mm dengan jarak tempuh sejauh 1800 meter dengan berat 14,1 dapat menyimpan 5 putaran. Keren kan?" seru Eka mendongakkan pandangan memangku tangan kiri di pinggul.
"Terlalu panjang jika di ceritakan disini, lebih baik mencari tempat terlebih dahulu," jawab Ray memandang Putra.
__ADS_1
"Kalian tau, bukan sembarang orang bisa menggunakan senjata ini," sahut Eka kembali masih bergaya.
"Yaudah kalau begitu kita cari tempat," singkat Putra kembali berjalan bersama Ray meninggalkan Eka.
"Budi dan lainnya telah menunggu di tempat itu," jelas Ray menuntun arah.
"WOI BRENGSEK!! KENAPA MENGABAIKAN KU!" Teriak Eka terlihat kesal berlari menghampiri.
Sekejap berhenti, bersamaan berbalik arah menatap Eka yang terlihat kesal, kemudian lanjut berjalan menghampiri Budi yang telah menunggu.
"Sebelumnya kenalin, ini Ricko, Jhon dan yang paling garang ini Lucy." Putra mengenalkan masing-masing dari kerabatnya tersebut.
"Ah, salam kenal. Ray tadi ya?" ujar Ricko.
"Entah, mungkin bisa jadi bisa jadi," sahut Jhon.
"Sejenis manusia?" lanjut Ricko.
"Ya bisa jadi bisa jadi," balas Jhon.
"KALIAN!!" Lucy mengangkat tangan menggenggam tongkat pemukul baseball langsung menghantam kepala Ricko juga Jhon.
PELETAK!!
PELETAK!!
"Anjir........SAKIT!!!!"
"Hem." Lucy memalingkan pandangan mereka yang kesakitan kemudian menyodorkan tangan ke arah Ray.
"Lucy."
"Salam kenal Ray," sahut Jhon dan Ricko berjongkok merintih memegang kepala.
"Yo," singkat Ray nyengir menatap keduanya.
"BERHENTI!!!!!" Teriak Eka merentangkan tangan.
"Kapten!" sahut Ricko dan Jhon berteriak.
"Katakan siapa yang telah membuat kalian merintih seperti itu?" Tegas Eka menunjuk mereka berdua.
Ricko dan Jhon bersamaan menunjuk Lucy yang berdiam diri memangku tangan menatap Eka serius.
"Grrrr!" gumam Lucy.
"Jangan membuatnya marah. Bodoh, peletak," lanjut Eka memukul Ricko dan Jhon kemudian berbalik arah.
"Kenapa masih berdiam disitu?" ujar Eka kembali menatap belakang.
"Kau mau kemana?" balas Putra.
"Entah," singkatnya memegang dagu berfikir.
"Ahah, Aku sudah ingat. Kita harus pergi ke toko buah membeli pisang, ya ya ya , pisang," lanjut Eka mengangguk-angguk.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Ray melirik Putra.
"Semua bermula ketika desa tempat ia tinggal bersama keluarga kecilnya dilanda kelaparan yang cukup parah. Air yang tercemar dari limbah pabrik memaksa mereka mengkonsumsinya."
__ADS_1
"Terus?"
"Pemerintahan setempat tak memperdulikan nasib warga di tempat ia tinggal. Usaha demi usaha telah ia lakukan demi menyelamatkan keluarga kecil serta seluruh penduduk di desanya, namun semuanya sia-sia," jelas Putra.
"Separah itu?" lirih Ray.
"Kebiasaan anehnya itu bukanlah tanpa sebab. Buah pisang tersebut adalah makanan kesukaan anak lelakinya yang telah meninggal bersamaan dengan kakak ku," lirih Lucy.
"Kakak?" ucap Ray bingung.
"Lucy adalah adik tiri Ayu, ia sangat menyayangi sang kakak meski berbeda Ibu," sahut Putra kembali.
"Tidak adilnya sikap pemerintahan bukan hanya terjadi disini, tapi hampir merata di seluruh desa lainnya!" kecam Lucy.
"Demi ambisi seseorang yang berada di balik layar, pemerintahan ini tak mampu berbuat apapun selain mengikutinya. Meski kebenarannya belum pasti, firasat ini tak pernah meleset," jelas Putra melirik Eka yang bertingkah laku aneh.
"Akulah sang arjuna yang telah bebas dari gua hukuman para dewa. Ha..ha...ha," ucap Eka mengikat kain di kepala bagiakan Rambo.
"Jika mendengar serta melihat yang terjadi saat ini, mungkinkah ada hubungannya dengan petinggi Sastra Group?" batin Ray sejenak.
"Rasa lapar yang ia alami serta derita karena kehilangan istri sekaligus anak, membuatnya ingin menolong siapapun yang bertarung maut melawan kelaparan, meski jalan yang kami tempuh seperti ini. Sial," pekik Putra menghapus genangan air di bola mata.
"Wakil kapten," lirih Ricko dan Jhon menahan tangis menekuk wajah mendengar peryataan putra.
"Terus darimana kalian bisa mendapatkan senjata-senjata seperti itu? Bukankah senjata seperti itu sulit di dapatkan orang awam?" tanya Ray kembali.
"Nanti kau akan tau sendiri. Oh iya bagaimana kabar keluarga kecilmu di sana?" Putra Tersenyum.
"Keadaannya juga cukup rumit di jelaskan, tapi semoga tidak ada hal apapun yang membahayakan Alisa dan calon anakku," balas Ray.
"Hooh, sudah mau jadi seorang ayah kah?"
"Yah, Aku akan menyusul menjadi seorang ayah sepertimu yang terlebih dahulu menjadi ayah."
Seketika Putra menunduk kemudian mengangkat kembali tatapannya.
"Kenapa ekspresi wajahmu begitu?" tanya Ray kembali.
"Kami telah berpisah, Ray. Selama ini dia telah mengkhianatiku berselingkuh dengan lelaki lain dan anak itu bukanlah darah daging ku. Setelah membunuh pasangan pengkhianat itu, Aku melarikan diri meninggalkan anak tak berdosa tersebut bersama neneknya," jelas Putra kembali menatap Ray.
"Maaf atas pertanyaan ini," lirih Ray bersimpati.
"Sudahlah, sekarang aku lebih bahagia bisa bersama dengan mereka. Mereka adalah keluarga yang selalu membuatku tertawa dan tidak pernah mengkhianatiku," ujar Putra nyengir menatap Ricko dan Jhon.
"Wa-wakil kapten!" Ricko serta Jhon berlari memeluk Putra.
"Lucy, maaf kamu tidak bisa ikut berpelukan," sindir Jhon mengejek Lucy.
"Hem?" pekik Lucy memangku tongkat pemukul di pundaknya menekuk wajah.
"Wakil kapten," lanjut Jhon mengumpat di belakang Putra.
"HA...HA...HA..HA..HA." Tawa Putra terbahak.
"Meski dunia bersikap tidak adil pada kalian, namun kalian tetap menikmatinya. Benar kata Budi, jangan pernah membenci takdirmu karena itu adalah pasangan hidupmu," batin Ray melihat para sahabat tertawa cukup lepas.
***
__ADS_1
Sampai disini dulu kak, makasih masih membaca karya batagor author satu ini kak. Kalau mau komen vote atau apapun itu lainnya bakal tetep di terima ya kak... Kita lanjut..