
"Marah terus, marah lagi, marah marah dan marah aja taunya. Suami capek itu harusnya di tanyai di layani kek. Mas sudah pulang? Pasti capek ya kerjanya hari ini? Sini aku pijitin kamunya mas, gitu dong harusnya. Ini malah di ajak ribut melulu, kamu berubah lah, beginilah, rahasia-rahasia lah, ntah apa-apa aja yang di bilang," gerutu Ray membalikkan badan.
"Tidur ajalah udah kalau gini ceritanya," lanjut Ray memejamkan mata.
Keesokan paginya setelah selesai berbenah diri berdiri di depan meja sarapan.
"Oh masih merajuk ya?" ucap Ray melihat sarapan pagi tak tersedia di atas meja makan.
"Maaf Den, tadi si Non bilang kalau hari ini Non yang bakal nyiapin sarapan spesial buat si Aden. Tapi mbok liat dari tadi si Non masih mengurung diri di kamar ibu," ujar mbok menghampiri.
"Yaudah gak apa-apa mbok, ntar bilang aja ke Alisa tetap jaga kesehatan agar kandungannya selalu sehat. Bilangin juga jangan terlalu banyak pikiran ya."
"Iya Den."
Menekan emosi dengan tenang Ray berjalan menuju mobil, terus berfikir untuk tak saling meributkan hal sepele.
"Maaf karena terlihat menyakitimu, tapi yang kulakukan kemarin hanya sebatas kewajiban dalam bekerja." Mengirim pesan singkat ke Alisa segera menjemput Fendi dan Fii.
"Lama bener pak supir ini," sapa Fendi memasuki mobil.
"Kalian udah sarapan belum?" balas Ray.
"Kenapa?" sahut Fii.
"Tanya aja, lapar soalnya," jelas Ray kembali.
"Lah tumben pagi buta kelaparan kau. Oh ini pasti hasil dari romansa kisah kemarin kau sama Novi sampai larut malam kan?" pekik Fii.
"Bukan, Alisa cuma lagi gak enak badan, terus si mbok lagi pulang kampung."
"Ray, Ray. Kau itu kok pinter kali berbohong. Jujur aja kan enak, ya gak Fen?"
"Yoyoy."
"Pake acara si mbok pulang kampung segala lagi," balas Fii tertawa kecil.
"Ingat kau itu seorang suami, harusnya ketika ada masalah di selesain baik-baik, bukan saling memusuhi," sahut Fendi.
"Pada ngomong apa sih?"
"Udahlah Ray akui aja, kami tuh bukan baru sehari kenal kau. Gak di buatin sarapan pagi saat suami mau pergi bekerja seperti ini tuh udah bukti yang sangat akurat tajam dan terpercaya," jelas Fii kembali.
"Aku cuma nanya kalian udah sarapan belum, bukan mau debat ngurusin hal-hal yang aneh gak jelas begini. Kan udah ku bilang kalau gak ada terjadi apa-apa," balas Ray memandang lurus jalanan menekan laju mobil.
"Pala marah Ray, biasa aja loh," jawab Fii.
"Iya, agak emosian sekarang ya," sahut Fendi nyengir.
"Ya udah ayok cari sarapan kami temenin," lanjut Fii kembali.
"Udah kenyang, seleraku dah ilang ini."
"Terus merajuk kayak cewek. Suka di beliin pulsa lima ribu dulu baru abis itu gak ngambek lagi," pekik Fendi.
__ADS_1
"Udah sarapan dulu, kalau kau gak sarapan ku pukul ini Fendi," balas Fii merangkul Fendi dari belakang.
"Tolong Ray selamatkan aku. Tolong Ray cuma kau yang bisa selamatkan nyawaku, please help me," pinta Fendi berakting sebagai sandera memohon.
"Nah gitu dong senyum lagi, kan makin tampan jadinya," lanjut Fii melihat Ray kembali tersenyum menggeleng kepala.
"Nah itu warung depan manteb juga kayaknya," lanjut Fii menunjuk satu warung.
"Mantep yang jualan?" sahut Fendi.
"Ya lontongnya lah," jelas Fii.
"Kirain yang jualan," singkat Fendi.
"Kau itu, kepala isi kebanyakan mesum," gumam Fii.
"Ya biar, namanya manusiawi masih normal."
"Ngelawan aja dikasih tau," gerutu Fii.
"Biarin, gak senang main kita."
"Males sih, masih normal aku gak doyan laki, doyannya perempuan," jelas Fii.
"Udah?" sahut Ray melirik.
"Kami adalah kepompong merubah ulat jadi kupu-kupu, Ray," jawab bersamaaan.
"Kupu-kupu malam? Asik ribut aja dari tadi."
"Syukurlah kalau dia masih hidup, kalau dia mati, Alisa bakal menjanda terus memohon samaku agar aku menikahinya. Hahaha."
"Alisa? Macem kenal suara ini, gak asing suaranya," pikir Ray meletakkan sendok menghentikan makan.
"Ray," pekik Fendi mengangkat alis memberi kode mendengar cetusan dari ruang dalam.
Ray menoleh kearah kerumunan dalam, bangkit penuh emosi ketika ia mengetahui suara tersebut ialah Aldo seperti yang ia pikirkan sebelumnya. Aldo bersama dua temannya terus mencibir Alisa penuk gelak tawa. Ray terus berjalan sembari menggegganm sendok garpu.
"BAJINGAN!!!" Emosi meluap-luap menggenggam erat garpu mempercepat langkah bermaksud mengakhiri hidup Aldo.
Tanpa sempat menjawab peryataan Ray sedikitpun padanya, Aldo tersungkur mendapati pukulan bertubi-tubi.
BUG.....!!
BAG...!!
BUG...!!
"BANGSAT!!" Mengangkat garpu di tangan hendak menghunuskan ke dada Aldo yang cukup berada dalam jangkauan.
Saat hendak menancapkan ke tubuh Aldo, dengan sigap kedua rekannya menerjang Ray dari belakang. Perkelahian semakin kacau ketika Fendi dan Fii ikut serta meramaikan perkelahian pagi hari.
"Tolong, tolong...." Teriak sang pemilik warung tempat makan tersebut berlari ke pinggir jalanan.
__ADS_1
Perkelahian berhasil di hentikan tak lama setelah beberapa warga dan juga polisi datang menghampiri.
"BUBAR..!!!"
"Cuih, beruntung karena nyawamu masih terselamatkan," pekik Ray meludahi Aldo yang masih terkapar nafas terengah-engah.
"Hehe, Ray, Ray," ujar Aldo tertawa kecil bangkit berdiri dengan bantuan rekannya.
"CUKUP!" Bentak polisi berada di tengah melerai.
"Kenangan baru darimu ini, dalam cepat kau akan menerimanya juga," pekik Aldo menunjuk.
"Banyak cerita."
BUG......
Mendaratkan satu pukulan kembali membuat Aldo tersungkur.
"KAU BISA DI BILANGIN BAIK-BAIK GAK?" Bentak polisi menarik kera baju Ray.
"CEPAT PERGI!"
Bruk (Menyepak kaki Aldo yang masih terjatuh).
"Ini Bu, maaf untuk kekacauan yang telah terjadi," lanjut Ray memberikan beberapa uang lembar ratusan sebagai ganti kerusakan yang ia perbuat.
Ray pergi berlalu meninggalkan Aldo dengan baju sedikit robek juga kotor.
"Sial!" umpat Ray memukul-mukul setir mobil.
"Sabar Ray," sahut Fendi.
"Beruntung dia karena polisi cepat melerai, kalau gak mungkin udah lewat nyawanya."
"Belum tentu juga. Tadi aku melihat anak buah Aldo seperti ingin mengambil sesuatu di punggung yang tertutup jaket, tapi gak jadi karena polisi cepat tiba. Pasti dia mau mengeluarkan pistol dan mengakhiri hidupmu duluan Ray," sahut Fii.
"Tapi tinggal sedikit lagi aku berhasil mengakhiri hidupnya terlebih dahulu."
"Darimana ceritanya pistol dengan garpu yang kau pegang lebih cepat garpu?" pekik Fii.
"Sekalipun aku mati gak masalah, yang penting dia juga mati."
"Justru kalau polisi lambat sedikit saja, mungkin nyawa kita semua melayang Ray. Pikirkan dulu dengan kepala dingin," balas Fii kembali.
"Aku gak perduli! Selama ini cukup sabar aku dengan sikapnya tapi makin lama semakin menjadi. Kalau sudah membunuhnya pasti hidupku damai."
"Kau bisa gak perduli. Tapi apa kau gak perduli juga dengan Alisa dan bayi dalam kandungannya? Jawab!" Bentak Fii mulai emosi.
"Sudah, kenapa jadi kita yang harus bertengkar seperti ini," sahut Fendi.
"Kau pikir Alisa bakal senang jika melihatmu masuk penjara karena telah membunuh? Atau jika kau mati apa itu yang diharapkan Alisa, Hah? Jawab! Kenapa diam?" lanjut Fii tak terkendali.
***
__ADS_1
Cuma mau bilang, sampai disini dulu kak, makasih kak. Udah gitu aja, kita lanjut...