Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 9


__ADS_3

Sabtu pagi 11 oktober 2017 kala sinar matahari menyinari seluruh alam, Ray terdiam melamun mendapati kenyataan yang tak ingin ia ketahui.


Juwita yang tak kunjung mendapat kepastian darinya, memutuskan untuk menerima lamaran lelaki pilihan sang ayah.


Berbagai cara telah Ray lakukan untuk menghalau pernikahan itu. Sekian banyak kata ia rangkum agar Juwita menolak pernikahan atas dirinya, namun semua usaha itu sia-sia.


Ray menyukai Juwita begitu sederhana, begitu pula dengan wanita lainnya. Perbedaan kasih sayang yang ia berikan di antara semua gadis yang ia kenal, tak sedikit pun berbeda di dalam hati.


Meski Ray terlihat begitu egois ingin memiliki semua wanita lain walau ia tau telah memiliki Alisa, dalam hatinya sedikit pun ia tak ingin kehilangan perhatian serta kasih sayang dari Juwita.


Tidak sampai disitu, Juwita juga mengharapkannya hadir di acara pesta pernikahan tersebut.


"Jangan lupa datang ya." Isi pesan singkat Juwita.


"Bagaimana mungkin Aku sanggup hadir melihatnya bersanding dengan lelaki lain menggunakan gaun cantik pernikahan?" gumam Ray.


Semangat Ray perlahan pudar mendapati situasi begitu rumit, meski kenyataannya ia memiliki Alisa.


Ray selalu berfikir dirinya tak bisa hidup di satu hati, bahkan jika harus memilih satu di antara beberapa wanita. Kepolosannya yang selalu terjebak pada satu, dua dan tiga kesalahan sekaligus ketika mencari arti sebuah pasangan.


"Aku tau kamu tidak menginginkan pernikahan dengan lelaki pilihan ayahmu itu. Karena Aku tau betul sikapmu selama ini dan Aku yakin kamu juga mengharapkan ku menjalani masa depan bersama," lanjut Ray masih menatap pesan tersebut.


Keadaan yang memaksa Ray tak bisa memberi kepastian serta perasaan ragu akan pemilik hati yang sebenarnya, membuat Juwita berpaling rasa.


Saat hari bahagia Juwita tiba, Ray tak menghadiri dan lebih memilih berkumpul bersama teman lainnya.


"Gak datang kau tempat Wita?" tanya Budi.


"Sudah tadi barusan," ucap Ray berbohong agar perbincangan tentang Wita tak berlanjut lebih lama.


"Cie cie, galau ini ceritanya? Anak muda india memang gitu, kalah dulu awalnya baru mati," sahut Ilham dengan tawa ngakak menyindir.


"Kenapa harus galau? Patah satu tanam lagi seratus agar tumbuh lebih banyak," jawab Ray seakan-akan tak memikirkan perasaan sendiri.


Obrolan tentang Juwita usai ketika Budi dan Ilham melihat Ray seperti tak memiliki perasaan menyesal sedikitpun tentang pernikahan itu.


2 jam berlalu tanpa terasa,.

__ADS_1


"Balik dulu lah, mau antar orang tua ke tempat keponakan," ujar Ray beralasan.


Setibanya di rumah, berjalan menuju kamar tidur, langsung menghempaskan badan di atas ranjang.


Sedang asik bermain facebook, Ray melihat foto bahagia Juwita di upload akun lain sebagai tanda ucapan selamat atas pernikahannya. Dalam sekejap langsung menutup aplikasi.


Hari ini semua kisah yang Ray jalani dengan Juwita berakhir. Tempat ia mulai bermimpi kini perlahan menjauh pergi bersama angin lalu.


"Eh, kok jatuh gini," ujar Ray dalam hati sembari tangan menghapus tetesan air mata.


Mulai duduk di depan layar komputer, "Menonton kembali episode kelanjutan anime favorit lebih baik dari pada terus meratapi kesedihan. Lemah kali masih gini doang mah kecil."


"Kame...hame...ha........!"


Saat pertarungan sengit anime favoritnya melawan sang rival.


"Bangunlah wahai ksatria, sudah terlalu lama kau tertidur." Salah satu teks dalam adegan kala itu seakan memberi tahu bahwa ia harus kembali bangkit menjalani hidup seperti biasa.


"Dreetttt." (Nada getar ponsel berbunyi).


"Malam ini kamu ada acara gak Ray?" tanya Ezza dalam pesan chat.


"Ntar malam temenin jalan yuk, Aku lagi bosen di rumah, kali aja dengan jalan bareng kamu bisa ngilangin rasa bosan ini," balas Ezza kembali.


"Boleh, kalau kamu beneran mau ntar malam Aku kabarin."


"Bener ya, Aku tunggu loh ntar malam. Awas kalau bohong ya."


"Oke, siap." Mengakhiri pesan.


Saat itu juga Ray langsung menelpon Alisa, beralasan menunda niat menemui agar bisa berjalan bersama Ezza.


"Maaf ya sayang kalau gak ada kabar seharian. Lagi gak enak badan ni lagi gak fit, drop karena


kemarin kecapean kerja. Aku mau berobat dan beristrihat di rumah full malam nanti, ketemuan kita di tunda dulu ya."


Lisa yang saat itu mendengar kabar bahwa Ray sakit, perhatiannya meningkat tajam melakukan aturan seketat mungkin.

__ADS_1


"Yasudah jangan kamu paksain dulu ke rumah Mas, istirahat saja dulu yang cukup, terus makan yang banyak, obat tetap di minum, jangan merokok dulu, hindari angin malam, pakai jaket tambah selimut saat tidur biar badan Mas hangat, satu lagi, perbanyak minum air putih ya Mas," balas Alisa seperti memperingati hari sumpah pemuda.


"Wanita sebaik Alisa menyukaiku seperti ini, apa lagi yang Aku cari dari wanita lain? tapi ya belum tentu juga kita bisa bersama, jalani saja lah," batin Ray tersenyum mengangap semua terlihat mudah.


"Iya, terimakasih atas perhatian kamu selama ini. Aku bersyukur bisa memiliki wanita sepertimu. Hari ini Aku cinta kamu, besok kalau ada yang lebih tinggi dari kata cinta, Aku rubah."


"Ceritanya mulai gombal ini Mas?"


"Gak lah, dikira Aku lelaki apakah suka gombal begitu. Aku mencintaimu begitu tulusnya, sama seperti malam yang selalu menjadi tempat bintang bercahaya."


"Payah kalau Rahul dah kumat gini, bisa seharian ini gak sembuh-sembuh," ujar Alisa tertawa kecil.


"Tatap matamu mampu menghentikan garis tangan. Lembut tutur katamu selalu mendamaikan jiwa. Senyum manismu memberikan satu kenangan indah dalam lamunan hidup," lanjut Ray terus merayu.


"Udah deh Mas jangan muji terus, kan udah seharusnya begitu. Sebagai wanitamu Aku harus tetep berusaha mengingatkan, Mas," ucap Alisa kembali.


"Bukan memuji, itu tadi contoh kata-kata dari seorang cowok bermaksud meminjam uang kepada wanitanya," pekik Ray tertawa.


"Memanglah kalau lelaki yang satu ini, untung kamu Romeo ku Mas, kalau gak udah ku gadaikan tukar bubur. Tapi Mas, apa yang barusan ku ucapkan tadi beneran loh, bukan hanya kamu aja ataupun Aku aja yang berperan dalam hubungan itu, namun kita," ujar Lisa.


"Baguslah kalau kamu berfikir seperti itu sayang, yasudah kalau begitu Aku pamit istirahat dulu ya."


"Iya, ingat, jangan nakal."


"Siap bos. Oh iya, jangan lupa sampaikan salam pada ayah ibu di rumah dari calon menantu," singkat Ray sebelum menutup panggilan.


"Iya ntar Aku sampaikan. Sore nanti Aku jenguk kamu ya mas, Aku khawatir sama keadaan kamu saat ini," lanjut Alisa kembali mengkhawatirkan Ray.


"Jangan sayang, Aku gak apa-apa kok, lebih baik kamu selesaikan aja kesibukan di sana."


"Yasudah kalau kamu bilang seperti itu Mas, akan Aku turutin."


"Oke, bye sayang."


Menutup panggilan telepon, segera melanjutkan kembali menonton anime favorit memulai petualangan baru.


***

__ADS_1


Terimah kasih telah membaca kakak, jika suka langsung saja fav komen apalah itu semua namanya tips dan lain-lain untuk terus mendukung karya ini kak, tinggalkan saran serta kritik di kolom komentar juga boleh,sekalian sama nasi kak.


Makasih, lanjut..


__ADS_2