Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love stroy 31


__ADS_3

Setelah melanjutkan perjalanan pulang, karena terlalu mengkhawatirkan Ray, Fendi dan Fii ijin tidak masuk kantor.


"Jadi kemana kau semalaman?" ujar Fendi.


"Gak ada kemana-mana."


"Amak, mabuk berat kau pasti semalam ya? Bau kali alkohol minuman itu ah," sahut Fii mengendus Ray baru menyadari.


Tersenyum menyengir menatap mereka, "Jadi gimana hubungan kalian, Mia, Erlin udah kalian miliki belum?"


"Kisah ku gak berjalan mulus Ray, beda sama ni anak, mulus aja gak ada rintangannya," pekik Fendi menunjuk Fii.


"Erlin bukan gadis biasa yang mudah di taklukan hatinya, harus banyak belajar kau sama ku," sahut Fii.


"Kok gini gini amat lah hidupku. Apa jodohku udah meninggal waktu masih bayi ya?" ujar Fendi bingung.


"Jalani aja dulu Fen jangan menyerah. Bagaimana mungkin bisa memiliki sang pujaan hati kalau dengan yang biasa aja, lututmu tak mampu berdiri bertahan lama," cetus Ray melihat kiri jendela mobil.


"Ampun master dari segala master. Jadi menurut pak Ray yang di muliakan kaumnya, apa yang harus hamba lakukan demi memenangkan hati Erlin? Wahai panutan kaum lelaki sejati," sindir Fendi.


"Beri dia uang, kau akan memenangkan dirinya. Beri dia perhatian penuh, pahami segala sisi sudut pandangnya, jangan pernah memaksa meminta ia mencintaimu, maka kau akan memenangkan hatinya," jelas Ray.


"Seperti itu ya?" tanya Fendi masih berfikir.


"Bersikaplah sewajarnya meski kau menyukai Erlin Wanita seperti Erlin itu bukanlah wanita yang hanya memikirkan kebahagiaan saja. Coba perhatikan wajahnya begitu dekat, kau akan tau wajah-wajah yang merindukan adanya cinta," lanjut Ray kembali menasehati.


"Denger itu Fen kalau lord Ray sedang bersabda," sahut Fii yang sedang menyetir mobil.


"Wanita yang pernah tersakiti, lebih tau apa itu cinta. Sama seperti kata bang Rahul khana, walaupun sang pecinta telah mati dan yang di cintai juga mati, namun cinta mereka akan tetap abadi. Sudah paham sejauh ini kira-kira belum, Nak?" sambung Ray masih menatap bahu jalanan.

__ADS_1


"Udah pak, cukup paham," jawab mereka berdua.


"Bagus, pak supir cari warung bakso. Panas-panas begini sepertinya bagus untuk nambah energi. Fendi ulang tahun jadi kita bakal di traktir ni," ujar Ray kembali.


"Siap tuan Ray yang di muliakan kaumnya," sambut Fii.


"Asik ulang tahun aja aku bah tiap bulan, kasih arahan dikit terus bakso, rokok gak sekalian biar ku masukan kartu keluarga ku kalian?" gerutu Fendi memanyunkan bibir.


"Fendi, Fendi, Fendi, Ingat. Manusia yang paling istimewa itu ialah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya," balas Ray terus menjahili.


"Siap komandan, tapi bantuin aku miliki Erlin ya?"


"Aman itu," lanjut Ray memudahkan segala urusan.


Tanpa menghiraukan perasaan dirinya yang saat itu remuk, Ray mencoba tampil tetap berdiri tegar di hadapan mereka berdua.


Di sisi lain, Mia menghampiri Alisa melihatnya termenung sendiri di ruang tamu.


"Aldo juga mengajakku jalan Mia, aku bingung belum menjawab pertanyaan darinya."


"Kamu masih kepikiran sesuatu ya?" pungkas Mia.


"Iya say, kemarin Ray mengirimi aku pesan, sebuah puisi yang sangat bagus sekali, tapi aku masih gak ingat apapun tentangnya," jelas Alisa menunduk.


"Di lain sisi, Aldo dan keluarganya akan datang melamar ku besok di gedung hotel yang telah ia siapkan," lanjut Alisa kembali.


"What? melamar Lis, aku gak salah denger ini?" tanya Mia terkejut.


"Gak kok gak salah denger, aku lihat Aldo sudah matang dengan rencananya memilihku."

__ADS_1


"Terus kamu gak kepikiran Ray?"


"Aku sudah berusaha keras mengingatnya, tapi yang ada di kepalaku tidak ada lelaki selain Aldo, Mia."


"Coba kamu pikir kembali pelan-pelan Lis masalah lamaran Aldo, jangan terlalu buru-buru gegabah ya."


Mendengar itu, Alisa tertunduk melamunkan hal yang begitu membingungkan.


"Yasudah kalau gitu aku mau keluar dulu ada urusan bentar," ujar Mia.


"Iya say, ya sudah deh hati-hati di jalan."


Mia bergegas pergi seraya menghubungi Fii untuk mengatur tempat agar bertemu dengan Ray. Tak lama setelahnya Mia sampai di tempat yang ia janjikan.


"Erlin kok gak di bawa, Mia?" ujar Fendi menoleh kanan kiri sisi Mia.


"Gak bang, dia ada urusan penting."


"Ada apa ingin bertemu denganku, Mia?" tanya Ray menatap lembut.


"Aku mau beri tahu kamu sesuatu Ray," balas Mia terlihat cukup serius.


"Kelihatannya penting bener Mia, bilang aja apa itu." Ray semakin penasaran.


"Besok Aldo akan melamar Alisa di sebuah gedung hotel, J Mariot."


Ray yang mendengar berita dari Mia saat itu, sudah menebak apa yang akan Aldo lakukan ketika mendapatkan kesempatan.


***

__ADS_1


Sampai disini dulu ya kak...


Jangan lupa Fav bila suka alur ini ya, makasih.


__ADS_2