
Ray yang telah mendengar kabar pernikahan Alisa dan Aldo dari Fendi, ia mencoba menghubungi Alisa, namun hal itu tidak membuahkan hasil. Alisa yang mengetahui kebenaran Ray dari Aldo mengabaikannya.
Bergegas menyelesaikan segala urusan rumah sakit berencana untuk mengunjungi Alisa ke rumah barunya.
"Ray, Ray tunggu mau kemana?" ujar Fendi menarik tangan menghentikan langkahnya.
"Aku buru-buru Fen, aku harus menemui Alisa sekarang sebelum semuanya terlambat."
"Udah tau rupanya alamat baru Alisa berada?" tanya Fendi.
"Ya belum tau sih, kan baru sembuh."
"Makanya itu sabar dulu, ini alamatnya," jelas Fendi menunjukkan sebuah alamat Alisa yang baru.
"Sankyu....aku duluan."
Karena terburu-buru berangkat, Fendi lupa memberitahukan sebuah rahasia penting tentang Aldo dan Yuli kepada Ray.
"Semangat anak muda memang tidak bisa kita pahami Fen," ujar Fii merangkul Fendi menatap Ray yang perlahan semakin menjauh.
"Sok udah tua kau, kita pun samanya," balas Fendi.
"Ada acara gak? Dobel date yok?"
"Gayamu itu, ayok lah," jawab Fendi penuh semangat.
Mereka berdua pergi untuk merencanakan sesuatu demi masa depan bersama Erlin dan Mia.
Karena rasa senangnya ingin berkencan bersama, tanpa sadar Fendi melupakan sesuatu yang seharusnya bisa membantu Ray memperjuangkan Alisa.
Dalam perjalanan ke tempat Alisa, Ray terus mencoba menghubunginya.
Rasa bahagia Ray yang kembali menjalani hidup, bercampur aduk dengan besarnya kecewa Alisa tentang sebuah penghianatan.
Hal itu memaksa Alisa terlihat cuek dan seakan tak perduli lagi tentangnya. Hingga akhirnya Alisa menyerah dan mengangkat telepon dari Ray.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Alisa kenapa baru di angkat? kamu udah ingat aku kan?"
"Iya aku ingat, mas Ray seorang cowok playboy yang tidur dengan wanita lain."
"Kok gitu? Kamu ngomong apa sih, aku gak ngerti."
__ADS_1
"Udah deh mas gak usah berbohong lagi, aku kecewa sama kamu. Aldo sendiri yang telah menunjukanku foto kamu tidur bersama Yuli."
Jelas saja ia terkejut dengan apa yang Alisa ucapkan.
"Kenapa Alisa bisa tau dan seberapa jauh langkah Aldo mencegahku merebut kembali Alisa?" batin Ray terdiam sejenak.
"Ini semua gak seperti yang kamu bayangin Lisa, aku ingin kita ketemu di cafe biasa," lanjut Ray menambah laju kecepatan mobil.
"Aku lagi sibuk mas, maaf."
"Jika seburuk itu aku yang kamu nilai, ijinkan aku melihatmu untuk yang terakhir kali sebelum akhirnya kamu menjadi istri sah Aldo. Hanya untuk kali ini ijinkan aku merindumu."
Alisa terdiam sejenak sebelum akhirnya menyepakati pertemuan tersebut.
Ray yang lebih dulu sampai di cafe yang telah di janjikan, memesan minuman sembari menunggu kedatangan Alisa.
"Kenapa kamu rahasiakan hal sebesar itu darinya sayang?"
"Aku gak ingin dia menyukaiku karena terpaksa, Dhea."
Terdengar percakapan 2 orang gadis tepat di belakang Ray. Awalnya ia mengabaikan percakapan itu sebelum akhirnya ia mendapati suatu rahasia tersendiri.
"Kamu harusnya beritahu dia bahwa kamu udah mendonorkan darahmu untuk hidupnya, Suci," lanjut percakapan itu.
Mendengar nama Suci, leher Ray terasa begitu berat untuk menoleh berbalik melihat apa yang terjadi di belakangnya.
"Aku tau aku salah, tapi aku juga gak mau egois memberitahukan itu ke mas Ray. Ketika operasinya berjalan lancar, hanya nama Alisa yang berulang kali ia sebut, Dhea."
Mendengar begitu jelas namanya disebutkan, Ray bangkit berbalik arah.
"Suci?"
"Mas Ray," balasnya menghapus air mata.
"Kenapa kamu sembunyikan hal sebesar itu dariku?"
"Maaf mas," lirih Suci menundukkan pandangan.
Tak sanggup menahan kesedihannya, Suci bangkit mendekat langsung memeluk Ray melepaskan semua tangis yang ia tahan selama ini.
Alisa yang baru tiba dan masuk ke dalam cafe tersebut mendapati kenyataan pahit ketika melihat Ray sedang memeluk Suci. Ray yang mengetahui kedatangan Alisa, segera melepas pelukan Suci tersebut.
"Alisa," ucap Ray datar.
__ADS_1
Melihat pelukan begitu mesranya, dengan raut wajah yang cukup kesal, Alisa berbalik arah meninggalkan tempat tersebut.
Suci yang paham akan gelisah di wajah Ray antara ingin pergi mengejar Alisa atau tetap menemaninya, berbesar hati mendorong lembut Ray untuk segera mengejar Alisa.
"Mas, aku sangat seneng bisa mengenalmu selama ini, kejarlah impian kamu, Mas. Jika aku gak bisa memilikimu, setidaknya akan ku anggap kita bersaudara, seperti abang ku sendiri," ujarnya tersenyum berlinang air mata.
Sekejap Ray terdiam melihat kebesaran hatinya yang begitu mulia.
"Makasih atas perhatian kamu yang tulus untukku. Hatimu yang begitu lembut dan baik akan mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku," balas Ray tersenyum kembali memeluk Suci dan beranjak mengejar Alisa.
Ketika berhasil mengejar Alisa...
"Lisa, Lisa tunggu, ini semua gak,-
Keteplak (Tamparan Alisa)
"Kamu jahat mas, kamu jahat! Tega kamu permainkan aku. Baru kamu lelaki yang paling jahat yang pernah aku kenal."
"Tenangin diri kamu dulu, Lisa tenang," ujar Ray menenangkan Alisa yang terus memukuli dada Ray perlahan memeluk dan menangis.
"Kamu jahat, Mas, jahat," lirihnya perlahan mendekap.
Ray yang mengerti akan rindu Alisa teramat besar terhadap dirinya dan tak mampu ia menahan rasa tersebut karena suasana hati yang kurang baik, membuat Alisa sedikit kehilangan ketenangan.
"Alisa dengar aku. Gadis yang tadi kamu lihat itu bernama Suci. Dia adalah gadis yang mendonorkan darah untukku," ujar Ray menatap lembut.
"Kebohongan apalagi yang ingin kamu tunjukkan padaku Mas? Apa kamu berharap aku masih bisa mempercayaimu setelah aku liat foto kamu tidur dengan Yuli?"
"Kamu harus percaya mas Ray, Mbak. Meski dulu aku memiliki rasa yang kuat padanya, tapi perasaan yang dia miliki lebih kuat terhadapmu. Kini aku telah memutuskan bahwa hubungan kami hanya sebatas seorang kakak adik, tidak lebih dari itu. Meski bukan hal yang mudah melepaskannya, apapun itu demi impiannya aku rela agar mas Ray hidup bahagia bersamamu,"" sahut Suci berjalan mendekati.
Mendengar peryataan itu, Alisa mengusap linangan air matanya menoleh menatap Ray kembali menoleh menatap Suci.
"Aku harap kalian berdua bisa selalu bahagia. Untuk kamu Mas, jadilah lelaki yang lebih baik di masa mendatang, aku pamit dulu," lanjut Suci kembali berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Peryataan Suci tersebut telah sedikit membantu menenangkan pikiran Alisa terhadap Ray.
"Sekarang kamu udah percaya kalau aku dan Suci gadak hubungan apapun kan, Sayang?"
"Oke aku percaya kalau kamu tidak ada hubungan apapun dengan Suci. Tapi, apa yang akan kamu jelasin tentang foto itu?" ujar Alisa menanyakan sebuah foto mantab-mantab Ray bersama Yuli.
Dengan menghela Nafas, Ray memandang langit penuh tanya.
"Aku hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menikah terus punya dua orang anak, satu lelaki dan satu wanita, terus menikmati masa tuaku dengan berduduk santai di depan rumah melihat istri menyiram tanaman. Tapi kenapa terlalu sulit memimpikan hal semudah itu?" batin Ray terdiam kembali menatap Alisa bingung harus menjawab apa atas peryataan tersebut.
__ADS_1
***
Sampai di sini dulu minnasan, Fav, vote komen buat dukung author satu ini ya. Makasih...