Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 12


__ADS_3

Setelah hubungannya dengan Alisa membaik seperti sedia kala. Alisa tak terlihat begitu memikirkan sedihnya lagi, perlahan mulai kembali melakukan aktifitas dengan semangat. Namun semua tak berhenti sampai disitu.


Sebulan kemudian,.


Kesedihan Alisa lebih buruk ketika mengetahui perusahaan milik keluarganya bangkrut. Hal itu terjadi karena korupsi yang di lakukan pihak manager keuangan.


Perusahaan yang ia rintis bersama sang ayah hancur seketika, belum lagi terlilit hutang yang tak sedikit nominalnya.


Dengan meminta maaf kepada seluruh karyawan termasuk Ray, ayah Alisa terpaksa memberhentikan semua pekerja di kantor itu. Kabar itu seketika membuat semua pekerja terlihat murung dan sedih.


Hal yang wajar mengingat mencari pekerjaan baru bukanlah perkara mudah.


Ray yang tak bisa berkata apa-apa tuk membuat hati Alisa sedikit tenang agar keadaan terlihat lebih membaik, membiarkan Alisa terus menangis dalam dekapnya.


"Sabar sayang," ucap Ray mendekap Alisa.


Sehari setelah peristiwa itu, Ray melamar pekerjaan baru hingga tiga bulan penuh lamanya ia masih mengangur tak memiliki pekerjaan.


Bulan keempat pertengahan, Ayah ibu Alisa memilih pindah ke kota lain untuk mengurus bisnis yang masih sedikit mereka miliki di seberang kota yang cukup jauh dengan tempat Ray berada.


Sebenarnya Alisa menolak untuk ikut kedua orang tuanya, ia berusaha mencari pekerjaan baru yang tak terlalu jauh agar bisa selalu bertemu dengan Ray.


Namun hal itu tentu tidak di setujui kedua orang tua Alisa, sebab Alisa adalah anak tunggal mereka.


Berada jauh dari anak tentu berat bagi seorang ibu maupun ayah.


Wajar bila mereka mengkhawatirkan Alisa mengingat hidup di era pergaulan jaman sekarang bukanlah hal yang bisa disepelekan.


Sore itu Ray mengantarnya di sebuah stasiun kereta api terdekat sekaligus berpamitan.


Alisa berdiri di depan pintu masuk kereta menatap Ray dari kejauhan dengan tangan yang tak berhenti menghapus tetesan air di pipi.


Ray hanya bisa berdiri menatap, melambaikan tangan dengan terpaksa merelakan perpisahan tersebut.


"Teennnn, gejes gejes gejes."


(suara kereta api perlahan mulai berjalan).


Tangis Alisa semakin kuat, terlihat ingin melompat berlari menghampiri Ray yang masih berdiri menatapnya. Dengan sigap kedua orang tua Alisa langsung memegang erat badan serta tangannya.


Kejadian itu seperti memberi pesan bahwa mungkin dirinya takkan pernah kembali menemui Ray.


Meski saling memiliki kontak telepon, Ray merasa ada hal aneh pada perpisahan tersebut.


Setelah Ray kehilangan Juwita, kini ia kembali merasakan kehilangan yang lebih menyakitkan.

__ADS_1


"Jangan lupakan Aku." Pesan singkat Alisa ketika Ray berjalan menghampiri motor untuk kembali ke rumah.


"Hati-hati di jalan, jaga diri baik-baik disana, Aku tetep disini bersama mimpimu," balas Ray dengan penuh perhatian.


Seminggu berlalu sejak perpisahan singkat dengan Alisa. Setelahnya Ray mendapat tawaran bekerja di salah satu perusahan rokok.


Pekerjaan tersebut mengharuskannya pergi merantau ke kota meski harus berpisah dengan keluarga, teman-temannya baik Ezza atapun Suci.


Keadaan itu memaksanya pergi meninggalkan sebuah cerita lama dan memulai kisah yang baru.


Meski begitu, Ray masih tetap berkomunikasi dengan ketiga wanita tersebut.


Setibanya di lokasi kerja, semua interview berjalan lancar. Ray di terima bergabung di perusahaan yang baru.


Memperkenalkan diri di lingkungan kerja yang baru membuat Ray tak sedikit pun gugup, karena ia sudah terbiasa berbaur dengan cepat.


"Selamat siang. Perkenalkan, nama saya Ray Al karim. Saya senang bisa di terima bergabung di perusahaan ini. Saya yakin, dengan bergabungnya di perusahaan baru ini bisa menambah skill pengalaman di bidang yang saya geluti. Mohon kerja samanya kepada seluruh rekan-rekan kerja," tegas Ray memperkenalkan diri dengan singkat dan tenang.


"Tok tok tok," bunyi ketukan dari luar ruangan.


"Ya, silahkan masuk," jawab Bapak Manager divisi saat itu.


Seketika Ray tercengang ketika melihat lelaki yang barh masuk dalam ruangan kerja siang itu.


"Aldo? ngapain dia disini?" batin Ray menatap bingung.


Tentu Aldo mengenal Ray, hanya saja perkenalan mereka dahulu terbilang cukup buruk dalam segala hal.


***


Aldo Erlangga, pria berusia 27 tahun.


Memiliki wajah tampan, hidung mancung, berpostur tinggi membuatnya sempurna dikalangan wanita, terlebih lagi ia anak tunggal dari usahawan sukses sama seperti ayah Alisa. Namun Aldo berbeda dengan Ray, ia bukanlah lelaki yang mudah jatuh hati.


***


"Dia bekerja disini ya?" tanya Ray kepada rekan yang duduk disampingnya.


"Iya, dia salah satu kordinator lapangan disini."


"Oh," singkat Ray berpaling.


***


Perkenalan mereka bermula ketika saling memperebutkan Allisa semasa kuliah.

__ADS_1


Hingga sampai terakhir sebelum Aldo menghilang, ia mengingatkan satu hal kepada Ray bahwa ia akan tetap mencintai Alisa dan menunggu cintanya terbalas meski harus menunggu sampai seumur hidupnya.


Ray tau meski Alisa dan aldo tak pernah bertemu, namun mereka berteman walau hanya sekedar berbalas pesan.


Hingga saat jam makan siang tiba, Ray berjalan ke kantin belakang.


"Hei."


Suara panggilan tersebut membuat Ray berbalik arah dan,.


Bhrukkkkk...


Ray tersungkur keras ke tanah karena mencicipin pukulan keras dari Aldo.


Tak hanya diam, bergegas bangkit langsung membalas pukulan Aldo, hingga membuat kehebohan di hari pertama bekerja.


Kedua satpam dari kejauhan berlari dengan cepat langsung mendekap tubuh mereka.


"Keparut kau, bangsat," ucap Aldo dengan wajah memerah sembari tangan masih mengepal.


Ray diam terus memikirkan apa yang ia lakukan hingga membuat Aldo marah? Sedang mereka sudah hampir tiga tahun tak bertemu, bahkan tak saling berkomunikasi.


"Berani kau ya sakiti dan buat Alisa menangis," gerutu kembali memandang Ray sinis.


Saat itu Ray mulai mengerti dan menebak. Hal itu pasti ketika Alisa membuat puisi, Alisa juga curhat kepada Aldo.


"Bubar, bubar, udah bubar!" Bentak satpam saling menjauhkan keduanya.


"Tunggu ya tunggu, Aku gak bakal diam!" Ancam Aldo jari tangan menunjuk ke arah Ray.


"Aku tunggu kapanpun kau mau. Bahkan bila perlu sampai kiamat sekalipun ku tunggu," kecam Ray tersenyum mengacungkan jempol ke arahnya.


"Dia pikir dia siapa, berani main belakang doang. Ah amjir, sakit juga pukulannya," gumam Ray mengelus bibir bawah yang luka.


Disisi lain,.


***


"Beruntung ada yang melerai, kalau tidak udah habis kau ku buat Ray. Jangan berbesar kepala hanya karena Alisa memilihmu. Terus bukan berarti kau bisa bebas menyakiti mengabaikan perasaan sayangnya sesuka hati," pekik Aldo berjalan menuju ruang klinik pengobatan segera mengobati sedikit luka yang ia terima.


"Liat saja nanti, Aku pastikan kau akan menyesal Ray," umpat Aldo masih terlihat kesal.


***


"Gila gila gila, apes bener hari pertama kerja ini. Baru juga masuk kerja sudah buat onar, apa coba tanggapan bos nanti kalau tau kami melakukan perkelahian, bisa di pecat terus nganggur lagi Aku. Kalau uda nganggur mana bisa beli kuota untuk streaming anime lagi," gerutu Ray masih memegang bibir.

__ADS_1


***


Sampai di sini dulu ya kak, jangan lupa ajak satu kampung kumpul bersama untuk dukung author satu ini dengan cara ketik reg, eh bukan, Fav terus komen apalah itu, tips apa lah pokok nya gitu kak, makasih tetap baca kisah ini kak. Lanjut..


__ADS_2