
"Masih banyak lagi ini, pala takut kehabisan kau," balas Fendi mulut penuh makanan.
"Memang kaum Bani Israil. Makan dulu, habisin yang di dalam mulut, jangan mulut masih penuh makanan malah banyak cakap cakap," jelas Fii meminum teh hangat.
Setelah selesai sarapan pagi, mereka bertiga langsung menuju lokasi pembunuhan tersebut.
"Jaga diri baik-baik di rumah ya sayang, tetap temani ibu. Jika ada apa-apa langsung kabarin aku." Mencium kening Alisa saat berdiri di depan pintu.
"Iya Mas, hati-hati dijalan," balas Alisa mencium tangan Ray.
Membutuhkan waktu dua jam untuk sampai di lokasi tersebut, sebelumnya mereka bertiga ijin tidak masuk kantor.
"Oh jadi disini tempatnya," ujar Fendi menatap tempat tersebut dari dalam mobil.
Segera turun mencari beberapa petunjuk area sekitar yang telah di beri police line.
"Lokasi seperti ini petunjuk apa yang bisa di temukan, Ray?" gumam Fii berdiri menatap lantai parkiran.
"Malah restauran ini tutup lagi," sahut Fendi menoleh ke kanan.
Ray berjalan mengitari lokasi, melihat seorang karyawan mengemas peralatan tepat di halaman belakang, sekejap langsung menghampiri.
"Permisi, boleh minta waktunya sebentar?" sapa Ray lembut bertanya.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Kejadian pembunuhan beberapa hari yang lalu, kira-kira mas tau gak?" lanjut Ray menunjuk lokasi tersebut.
"Denger sih kasus yang itu Pak, cuma gak begitu tau konflik sebenarnya dipicu apa."
"Oh begitu ya." Memangku dagu.
"Bapak polisi ya?" tanya kembali pegawai tersebut pada Ray.
"Bukan Mas."
"Oh, sekilas kalau diliat dari postur badan juga penampilan mirip polisi penyelidik kasus gitu, Pak." Menyengirkan senyuman.
"Bukan kok mas, kebetulan ingin tau aja kejadian tersebut. Kalau begitu saya lanjut dulu, Mas."
"Iya Pak, maaf gak bisa membantu apa-apa."
Tersenyum dan berjalan kembali menghampiri Fendi dan Fii yang menunggunya di halaman depan.
"Gimana Ray, ada petunjuk?" sambut Fendi.
"Belum ada informasi apapun." Memangku kedua tangan melirik kearah kanan kiri.
"Fii mana?" lanjut Ray kembali.
"Masih keliling muter, bilangnya mau cari informasi tadi."
Tak lama setelahnya Fii kembali.
"Ada informasi baru gak?" tanya Ray.
__ADS_1
Fii mengangkat kedua tangan sejajar bahu. Memberi kode bahwa hasil masih tetap sama, belum mendapatkan info apapun mengenai kasus pembunuhan tersebut.
"Kenapa gak tanya mertua kamu aja sih, Ray?" pekik Fendi.
"Sebelumnya aku juga berfikir seperti itu, tapi kamu lihat sendiri kondisi beliau sekarang seperti apa. Aku gak ingin membuat pikiran beliau bertambah kacau. Lebih baik aku membiarkannya beristirahat penuh dulu," jelas Ray.
"Iya juga sih kalau dipikir-pikir," singkat Fendi.
"Ah, Aku ada ide. Bagaimana jika kita mengikuti langkah Aldo kemanapun dia pergi, kali aja bisa dapat info jika memang benar dia dalang di balik kasus ini," cetus Fii.
"Em ide bagus, yaudah kalau begitu kita segera bergegas," sahut Fendi.
"Tapi, saat ini dia sedang berada dimana? Semenjak berhenti dari pekerjaan yang sama dengan kita, jejak Aldo menghilang bagai di telan bumi. Dia kerja apa dan dimana tinggal juga kita gadak yang tau kan?" balas Ray memandang Fii.
"Ya jalan aja dulu kemana sekalian tanya-tanya. Siapa tau nanti dapat info dimana Aldo berada," jelas Fii.
"Pas itu," sahut Fendi berjalan bersama memasuki mobil.
"Ingat Ray apa kata istri, hati-hati bawa mobilnya, tetap fokus," pekik Fendi.
"Iya, iya."
Pritttt.......(Suara pluit).
"Kiri bang kiri terus, kiri." Kang parkir muncul terjun dari langit angkasa berjalan menghampiri Ray menyetir mobil.
"Ini, Bang." Memberikan biaya parkir.
"Lagi nyelidiki kasus pembunuhan ya Pak?" ujar kang parkir mengambil uang.
"Kalau yang saya tau kemarin itu sih korban sedang cekcok dengan seorang pemuda Pak di depan itu tuh," lanjut kang parkir menunjuk ke arah depan cafe.
"Ciri-cirinya gimana, Bang?" tanya Ray penasaran.
"Karena gak terlalu fokus, jadi cuma sekilas aja liatnya Pak. Pemuda itu agak tinggi segini nih, terus memakai topi berdandan kayak ketua ketua apalah gitu Pak, ketua preman mungkin," jelasnya kembali.
"Abang udah menginformasikan ke pihak berwajib atas kesaksian ini?" lanjut Ray.
"Ah males yang begituan Pak, kita bersaksi tapi bisa jadi tersangka, kan bahaya," jelasnya.
"Em, terus setelah itu?"
"Setelah itu gak terlalu merhatiin lagi sih Pak, begitu dengar suara tembakan, seseorang lari sekuat tenaga kearah situ masuk kedalam mobil hitam terus menghilang. Langsung saya teriak-teriak minta tolong kalau ada penembakan, Pak," lanjutnya kembali memberikan informasi kecil.
"Terus, ada lagi kira-kira?" tanya Ray masih penasaran.
"Cuma segitu doang yang ku tau Pak."
"Yaudah kalau begitu kami mau lanjut kembali, makasih infonya. Ini saya tambahin,"
"Wah makasih banyaj Pak, semoga lancar apa yang dicari."
"Sama-sama." Memutar mobil melanjutkan kembali perjalanan.
Ketika berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Enggak salah lagi, pasti Aldo," gumam Fendi menatap lurus jalanan.
"Gak bisa kayak gitu Fendi, kalau gak ada bukti kuat, malah gol kau nanti di jeruji atas tuduhan pencemaran nama buruk," sahut Fii.
"Nama baik, bukan buruk," balas Fendi.
"Aldo gak punya nama baik, nama buruk itu sesuai sama kelakuan dia yang sudah-sudah," jelas Fii.
"Bener juga sih, gak ada baik-baiknya tuh anak," singkat Fendi memvonis Aldo.
"Menurut kau gimana Ray?" Fii menoleh menatap Ray.
"Apa yang kau ucap barusan itu bener, Aku harus menahan emosi sebisa mungkin agar semua berjalan lancar," jelas Ray.
"Gimana kalau sekarang kita pergi ke rumah Aldo, kita pantau jarak jauh," sahut Fendi.
"Ide bagus tuh," sambung Fii.
"Yaudah kita ke sana." Ray memacu laju mobil.
Sekitar 40 menit berlalu dan tiba di kediaman Aldo.
"Tapi seriusan ini gak apa-apa? Kita terkesan seperti maling ini mengendap-endap," pekik Fendi.
"Udah gak masalah, aman itu," jawab Fii.
Memantau tempat tinggal Aldo dari sedikit kejauhan. Hampir 2 jam berlalu dan belum mendapatkan hasil atau gerak gerik mencurigakan apapun.
"Gimana ini? Lapar perut bosku," lirih Fendi.
"Itu di depan tuh ada warung nasi, gimana kalau kita makan sambil memantau dari sana?" sahut Fii.
Melihat Fendi merintih menahan lapar, mengiyakan untuk keluar dari mobil menuju warung makan yang tak berada jauh dari depan tempat tinggal Aldo.
"Bu, makan pakai ayam ini ya," ujar Fendi langsung memesan menu.
"Ah gini kan mantap," lanjutnya duduk.
"Aku pakai ini aja Bu," sahut Fii duduk di satu meja bersama.
"Kau gak makan Ray?" pekik Fendi melihat Ray berdiri memandang rumah Aldo.
"Belum selera, kalian makan aja dulu, nanti aku nyusul."
"Ini Mas pesanannya." Penjual warung menghidangkan makanan.
"Kami makan dulu ya," singkat Fendi.
"Iya."
Tak lama setelahnya, mobil mewah berhenti di seberang jalan di ikuti dengan satu mobil lainnya. Beberapa pria terlihat ketika kaca mobil di buka lalu turun sekedar merentangkan tangan. Gerombolan berparas sangar berpenampilan bak kumpulan gengster Yakuza atau T.R.I.A.D. (Mafia dunia).
"Aldo?" batin Ray melihat Aldo keluar dari mobil tersebut berlari masuk kedalam rumah.
***
__ADS_1
Sampai disini dulu kak, jangan lupa makan sebelum lapar...Makasih lanjut.