Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 82


__ADS_3

Setelah sampai di lokasi tersebut, segera turun dari mobil, takjub menatap gedung yang sangat megah.


"Ini beneran disini kantornya, Ray?" pekik Fendi.


"Ya bener disini," balas Ray melihat kartu nama tersebut.


"Biar lebih jelas langsung masuk aja, ayok," sahut Fii berjalan masuk kedalam.


"Permisi mbak, apa benar kantor ini sesuai dengan yang ditujukan alamat di kartu itu?" ujar Ray bertanya memberikan kartu tersebut ke salah satu pegawai di ruang tunggu.


"Benar, ini adalah alamat yang bapak cari. Bu Novi adalah anak dari pak Budi selaku pemilik perusahaan Investigasi Federal ini. Maaf apa sebelumnya sudah membuat janji?"


"Sudah mbak, cuma kemarin gak di kasih tahu jam berapa bisa menemui beliau, tapi disuruh datang," singkat Ray.


"Baik dengan bapak siapa ini?"


"Ray, Mbak."


"Kalau begitu mohon tunggu sebentar ya pak." Menunjuk kursi tunggu.


"Makasih mbak." Berjalan menuju kursi.


Tak lama setelahnya.


"Pak Ray."


"Ya mbak dengan saya sendiri." Kembali berdiri menghampiri.


"Ibu Novi menyuruh bapak beserta teman-teman lainnya untuk menuju ruang 15 lantai 4. Beliau sudah menunggu di sana," ujarnya tersenyum tipis.


"Terimakasih." Berjalan bersama Fendi serta Fii menuju ruang tersebut menggunakan lift kantor.


"Mari mbak"


"Mari."


Didalam lift.


"Kok gak terasa getar-getar ya?" pekik Fendi menatap tombol lift.


"Jangan kampungan kau, malu ada kamera pengintai ini," sahut Fii.


"Gitu aja ngegas. Eh tapi Ray, kemarin perasaan Novi gak bilang kalau perusahaannya bergerak di bidang intelejen begini," lanjut Fendi bingung.


"Iyakan? Sejenis detektif ini kayaknya," sahut Fii.


"Kalian nanya sama aku, terus aku nanya sama siapa?"


"Kali aja kau tau Ray," jawab Fendi.


"Tapi secara skill kita juga gak ada keahlian di bidang ini sih. Oh, paling jadi supir, kemarin dia cari supir," singkat Ray.


Setelah sampai di lantai 4, langsung berjalan menuju ruang 15 tersebut.


"Permisi." Ray menekan bel Nest.


Tak lama setelahnya pintu ruangan langsung terbuka.


"Wih canggih bener, Ray."


"Udah buruan masuk," sahut Fii melangkah.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu, silahkan duduk," ujar Novi menyapa.


"Terimakasih."


"Perusahaan ini berjalan di bidang penyelidikan baik itu korupsi, perdagangan manusia, narkoba, penyelewengan hak kuasa jabatan dan tindak kriminal yang merenggut nyawa seseorang," lanjut Novi menjelaskan.

__ADS_1


"Oh, kayak FBI gitu ya," balas Fendi mengangguk-angguk.


"Ya bisa di bilang seperti itu, bedanya perusahaan ini milik swasta yang bekerja sama dengan pemerintahan."


"Kalau seperti itu, kami belum ada pengalaman bekerja di bidang yang bergerak seperti ini, Bu," jelas Ray.


"Masing-masing bidang yang cukup penting dalam perusahaan ini sudah terisi penuh. Contohnya, Analisis Laboratorium Forensik, Ahli Digital Forensik, Dokter Forensik, Psikolog Forensik, Kriminolog dan Toksikolog," jelas Novi kembali.


"Bagus sekali jika bisa berada di barisan penting perusahaan ini," batin Ray melamun.


"Terus lowongan yang ada itu di bagian mana, Bu?" sahut Fendi.


"Dua di bagian penerima keluhan klien dan satu asisten sekaligus supir pribadi saya."


Fendi menoleh kearah Fii dan Fii menoleh kearah Fendi saling mengangguk.


"Baik, sebelum menemui kesepakatan, apakah ada hal yang ingin di pertanyakan?" ujar Novi kembali.


"Masalah gaji dan Fasilitas, Bu?" pekik Fendi.


"Sebentar." Novi berdiri menuju lemari di sudut ruangan mengambil berkas persetujuan perjanjian kerja.


"Silahkan di baca sebaik mungkin," lanjutnya memberikan masing-masing satu lembar.


"Jika setuju, kalian boleh langsung menandatangani berkas tersebut dan mulai besok pagi sudah bisa beraktifitas. Untuk kalian berdua akan saya taruh di posisi penerima keluhan," jelas Novi menunjuk Fendi dan Fii.


"Tawaran bagus ini, menjanjikan," balas Fendi masih membaca isi perjanjian kerja.


"Sedang kamu menjadi asisten sekaligus supir pribadi, gimana?" lanjut Novi menatap Ray.


Setelah membaca isi perjanjian beserta upah lengkap dengan fasilitas tersebut, tanpa berfikir lama ketiganya langsung menandatangani.


"Ini Bu." Ray menyetujui perjanjian tersebut menyodorkan berkas kembali.


"Ray?" lirih Fendi dengan kode alis naik turun.


Setelah saling menyepakati memberikan berkas indentitas lengkap serta pengajuan surat lamaran kerja.


"Sebentar ya," singkat Novi.


"Elly, tolong kemari sebentar," lanjut Novi memanggil salah satu pegawai melalui telepon kantor.


"Permisi Bu," sapa Elly memasuki ruangan.


"Ini segera kamu cetak kartu nama lengkap mereka dan urus segala keperluan mereka semua. Mulai besok mereka akan bergabung di perusahaan ini." Memberikan berkas tersebut kepada Elly.


"Satu lagi, suruh office buatin mereka minuman. Mau minum apa?" lanjutnya menawarkan minuman.


"Jus mangga ada Bu?" Jawab Fendi.


"Cappucino, Bu?" sahut Fii.


"Ada," balas Novi menatap Elly.


"Satu lagi?" ujar Elly menatap Ray.


"Saya apa aja, Mbak."


"Panggil Elly saja."


"Panggil juga Ray saja," balas Ray.


"Saya permisi dulu, Bu." Pamit kepana Novi, Elly berlalu pergi meninggalkan ruangan.


"Kalau begitu saya tinggal dulu sebentar ada klien yang harus saya temui, nanti saya kembali lagi," jelas Novi berdiri melangkah keluar.


"Iya, Bu," jawab bersamaan.

__ADS_1


"Ray, hey, Ray," ujar Fii memanggil Ray yang menatap seisi ruangan.


"Ha."


"Berarti bisa ini memata-matai Aldo," lanjut Fii kembali.


"Kita bukan bidang itu, dari awal sekolah dulu sampai kesini udah salah jurusan. Kau tau sendiri kan tadi tugasmu apa?"


"Iya sih, yah setidaknya kan dia bau-bau narkoba Ray," jelas Fii kembali.


"Gak semudah itu Fergusso."


"Tapi kan masih ada kaitannya."


"Iya lah iya."


"Kalau jadi intelejen, terus pakai seragam keren, terus punya inventaris mewah, terus pakai kacamata hitam, terus..." sambut Fendi berkhayal.


"Terus gelap pandangan mobil nabrak masuk jurang terus mati," singkat Ray.


"Gangguin orang aja pun kau. Menghayal itu kan wajar sih," gumam Fendi.


Plak....!!


"Bangun kau, jangan mimpi aja," ketus Fii memukul ringan Fendi.


"Hidup berawal dari mimpi cuy, jangan salah kau," jelas Fendi.


"Tapi mereka yang bisa bermimpi itu karena mereka sedang tidur Dora, kalau gak tidur gak bisa mimpi," balas Fii.


"Suka suka aku lah, kau pulak yang sibuk," pekik Fendi berpaling wajah membelakangi Fii.


"Udah tua jangan merajuk kau," ucap Fii.


"Kau pun tua juga," balas Fendi.


"Permisi," sapa office boy membawa minuman meletakkan di atas meja.


"Makasih bang," jawab Fendi langsung mengeksekusi minuman.


"Haus apa doyan?" sindir Fii melirik.


"Manapun jadilah," singkat Fendi.


Mendengar pertikaian yang tak henti, tanpa terasa satu jam telah berlalu.


"Maaf membuat kalian menunggu," ujar Novi berjalan menghampiri terduduk di kursinya.


"Setelah ini kalian sudah boleh kembali pulang untuk istirahat, mengingat aktivitas besok yang ya mungkin cukup sibuk," lanjut Novi kembali.


"Terimakasih Bu," jawab ketiganya.


"Satu lagi, nomor kontak saya boleh kalian save jika itu memang di perlukan," tegasnya.


"Perlu kali lah bu," sahut Fendi dan Fii mengeluarkan ponsel di saku.


"Sebelum kembali, apa ada pertanyaan lagi? Kalau ada yang ingin di tanya, silahkan," lanjut Novi senyum mengangkat kedua alis menoleh kearah Ray, Fendi dan Fii.


"Pertanyaan apapun itu, Bu?" sahut Fendi.


Novi mengangguk santai.


"Ibu sudah menikah?" tanya Fendi tak berdosa.


***


Sampai disini dulu ya pemirsa mitra olahraga anteve dimanapun kalian berada. Kalau cuaca gak ujan kita lanjut....Makasih kak.

__ADS_1


__ADS_2