Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 128


__ADS_3

"Kenapa enggak, Mas? Aku hanya ingin memenuhi hari-hariku."


"Iya aku paham, tapi aktifitas berlebih justru bisa membahayakan kamu juga kandungan kamu sayang."


"Kamu gak perlu khawatir mas, lagian cuma melihat-lihat keadaan kantor aja kok. Nanti ketika udah waktunya tiba, Aku bakalan fokus lagi ke kamu dan juga junior mas," jelas Alisa.


"Yasudah kalau kamu ingin seperti itu dan ingat selalu pesen aku, jaga kondisi kamu," balas Ray kemudian berdiri setelah selesai menyantap hidangan pagi.


Rama yang telah selesai berbenah diru terlebih dahulu, menunggu Ray di halaman depan.


"Aku antar kamu setelah kita mengantar Rama," lanjut Ray berjalan mendekati Alisa.


"Iya sayang."


Ray, Alisa dan juga Rama bergegas kembali menjalani aktifitas seperti biasa. Bedanya, Alisa kini mulai aktif kembali sebagai wanita karir yang akan teramat sibuk dengan dunia barunya turun tangan memimpin perusahaan almarhum sang ayah.


"Oh iya mas, sudah sebulan lebih semenjak kepergian ibu, apa kamu gak kepikiran sedikit bantuin aku urus perusahaan ayah?" ucap Alisa di dalam mobil.


"Mungkin belum saatnya sayang, lagian aku juga masih berfokus belajar memimpin di perusahaan yan sekarang aku kerjakan," singkat Ray.


"Posisi kamu memangnya sudah naik jabatan ya mas?"


"Enggak kok, masih sama seperti kemarin."


"Terus darimana ceritanya kamu bilang memimpin seseorang?" pekik Alisa menekuk alis menghadapkan tubuh ke sisi Ray.


"Ada sayang, itu apa payah aku sebutinnya."


"Kamu sembunyiin sesuatu dari aku mas?"


"Bang, gang depan belok kiri berenti ya," sahut Rama bersantai di bangku tengah.


"Iya, Tuan," singkat Ray.


Setelah mengantar Rama, Ray berputar balik mengantar Alisa menuju lokasi kantor sang ayah.


"Kamu gak lupa dengan pertanyaan aku barusan kan mas?" lanjut Alisa kembali.


"Terlalu panjang dan rumit jika aku jelasin sekarang sayang, tapi intinya gak ada hal aneh apapun kok," ucap Ray bersikap santai.


"Gak aneh sayang, tapi selalu di hantui maut," batin Ray menghela nafas.


"Apapun itu yang penting aku gak mau kamu berurusan kembali dengan Aldo atau hal-hal lain yang berurusan dengan keselamatan kamu mas."

__ADS_1


"Iya-iya."


Dreeett......


Dreeet.....


"Siapa sayang?" tanya Ray menghentikan laju mobil di lampu merah.


"Gak tau mas."


Alisa mengambil ponsel di saku tas miliknya, kemudian mengangkat panggilan tersebut.


"Halo."


"Alisa, gimana kabar kamu, sehat?"


Mendengar suara yang cukup Alisa kenali, seketika membuat pikiran penuh tanya akan nomor baru tersebut hilang.


"Paman, kok gak kabarin sebelumnya kalau ganti nomor ponsel?"


"Iya maaf, akhir-akhir ini terlalu banyak masalah yang harus aku hadapi. Lagian kamu tau sendiri bukan tugas aparat negara itu seperti apa sibuknya."


"Iya deh iya. Oh iya paman, kapan bermain kemari? Sudah hampir 5 tahun loh belum main kemari lagi. Alisa udah kangen, bahkan di hari pernikahan Alisa dan mas Ray, paman juga gak hadir loh."


"Iya iya maaf dan maaf banget untuk yang lalu-lalu. Oh iya Alisa, maaf juga untuk kesalahan terbesar karena belum bisa melindungi ayah dan ibu kamu. Bahkan jika harus mengutuk diri ini sekalipun, nyawa mereka takkan pernah kembali."


"Bahkan, untuk mendampingi mereka ke peristirahatan terakhir, aku gak bisa," ketus sang paman menghardik diri sendiri.


"Sudahlah paman, takdir telah terjadi seperti itu, kita yang masih hidup hanya bisa selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka agar tenang di alam sana," balas Alisa kembali menitihkan air mata.


Ray tak mengetahui pasti isi percakapan Alisa, sedikit terlihat bingung ketika sang istri mengisak tangis.


"Sayang," ujar Ray mengelus lembut pundak Alisa sembari melanjutkan kembali perjalanan.


"Sampaikan salam buat suami kamu ya, bilang kalau paman belum bisa dateng kunjungi kalian. Tapi mungkin sebentar lagi aku akan menetap di kota yang sama dengab kalian."


"Serius paman?"


Mendengar ucapan tersebut, Alisa sangat bersenang hati. Setelah kepergian sang ayah dan ibu, Alisa hanya memiliki Ray dan Rama.


Satu-satunya keluarga yang masih Alisa miliki ialah adik kandung dari sang ayah yang bertugas sebagai seorang kepala polisi.


Menjadi seorang aparat negara mengharuskannya berpindah-pindah tugas dalam jangka waktu yang sangat lama.

__ADS_1


Meski berselisih usia 5 tahun lebih tua dari Alisa dan berbeda dengan Alisa yang cukup bijak dermawan, sikap pemberontak dan keras kepala sang paman tersebut menjadi penyebab dirinya sering berseteru dengan sang ayah semasa hidup.


"Iya, yasudah kalau begitu baik kamu maupun suami kamu harus sehat-sehat disana dan nanti aku beri kabar ketika sudah bertugas disana."


"Iya paman. Paman juga itu, harus tetap jaga kesehatannya. Ingat, jangan terus berfoya menghabiskan uang. Jangan bandal terus mentang masih muda dan belum menikah," pekik Alisa.


"Cerewet kamu nampaknya sudah mulai nurun dari orang tua kamu ya."


Mengakhiri panggilan tersebut, Ray dan Alisa tiba di kantor sang ayah.


"Bentar sayang," ucap Ray berdiam diri di dalam mobil memberitahukan Novi bahwa dirinya ijin telat masuk.


"Siapa tadi?" lanjut Ray menoleh menatap Alisa.


"Paman Saddam mas," singkat Alisa.


"Oh paman yang gak pernah ada untuk keluarga kamu?" pekik Ray.


"Kok gitu ngomongnya mas? Biar sebandel apapun dia, tetep aja kan dia satu-satunya keluarga yang aku miliki."


"Yah gimana gak coba. Kita menikah, dia gak hadir. Ayah meninggal, dia juga gak ada. Bahkan ketika ibu meninggal, dia sanggup gak datang sekalipun. Dia sanggup disiplin tugas sebagai aparatur negara dan dia selalu ada untuk orang yang membutuhkannya, Tapi apa dia ada sedikitpun untuk keluarga kita? Apa dia ada untuk ayah dan Ibu? Gak kan?" umpat Ray sedikit kesal.


"Tapi kan kita gak tau mas apa kesibukan yang dia lakuin disana. Bisa jadi mungkin tugas yang dia emban mengharuskannya ikhlas berbesar hati, Mas."


"Belain aja terus paman kesayangan kamu itu," ucap Ray keluar mobil berjalan membukakan pintu Alisa.


"Mas, Aku tau kamu kecewa dan marah dengannya. Tapi, sedikit aja coba berbesar hati dan pahami dia," lirih Alisa keluar mobil mengelus pundak Ray.


"Bukan perkara mudah bagi seorang lelaki sayang. Oke aku hargai karena dia paman kamu. Tapi di mataku, dia telah lama mati!" kecam Ray.


"Mas...."


"Sudah cukup sayang, hentikan perdebatan ini dan anggap hal ini gak pernah terjadi. Sekarang biar aku antar kamu kedalam setelah itu aku pergi masuk kantor, jam sudah telat," jelas Ray tersenyum menunjukkan waktu di jam tanggannya.


Disisi lain ruangan kantor polisi pusat.


"Cie ceritanya keponakan nih," ujar seorang rekan menghampiri Saddam.


"Iya begitulah, udah cukup lama aku gak liat keponakan ku satu-satunya. Dia uda sebesar apa ya sekarang?" ujar Saddam tersenyum melamunkan Alisa.


"Selamat karena bentar lagi kamu akan bertugas di pusat kota, Dam."


"Seenggaknya kemanapun kita bakal selalu berada di tempat yang sama," jelas Saddam menoleh santai.

__ADS_1


***


Sampai disini dulu kak, atok, uwak, kakek dan nenekm otor baru bisa up lagi setelah terkurung terpenjara dalam gua hukuman para dewa. lanjut...


__ADS_2