Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 130


__ADS_3

"Baik, Bu," jelas Ray berlari menuju mobil mempersilahkan Novi.


Ketika dalam perjalanan, keduanya terlihat canggung seperti pertama kali bertemu. Novi yang terlihat jutek dan galak di kantor, berbeda dengan pribadinya ketika berada di luar kantor.


"Halo yah, ini Novi lagi jalan menuju rumah Leon," singkat Novi memberi kabar sang ayah melalu panggilan telpon singkat.


"Kira-kira seperti apa ya rumah Leon?" batin Ray melamunkan hal yang belum ia ketahui.


"Gimana kabar Alisa?" pekik Novi memasukkan ponsel kedalam tas.


"Alhamdulilah baik, Bu."


"Hem?" Mengerenyitkan dahi.


"Alhamdulilah baik, Novi."


"Oh, syukurlah," singkat Novi menganguk memandang sisi bahu jalan.


"Boleh aku tanya sesuatu?" lanjut Ray melirik Novi kemudian kembali melirik jalanan.


"Apa?"


"Apakah Leon juga berkecibung di dunia yang sangat gelap dan kelam?"


"Maksud kamu? Aku gak ngerti."


"Hanya dari beberapa waktu menjalani kisah sebagai Leon, Aku bisa menilai kalau dunia sekelilingnya penuh dengan dendam dan permusuhan."


"Sebenernya Leon bukan pemuda yang seperti kamu pikirkan dan mereka pikirkan," singkat Novi menyandarkan badan menatap kosong langit mobil.


"Terus?"


"Perlu kamu tau Ray, Leon itu seorang konglomerat yang tampil seperti pemuda biasa. Walau kehidupannya bergelimang harta, sedikitpun dirinya gak bangga akan hal tersebut. Baginya, bisa menjalani hidup dengan tenang dan cara yang sederhana, itu jauh lebih baik."


"Masih ada ya jaman sekarang pemuda seperti itu?"


"Banyak dari mereka mengira Leon terlalu munafik sebagai manusia. Tapi bagiku, dia lelaki sempurna."


"Jika memang seperti itu, kenapa terlalu banyak bahaya yang antri mengintai dirinya menginginkan nyawanya?"


"Bahaya?"


"He,em."


"Bahaya gimana? Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa ada bukti jika kehidupan yang Leon jalani penuh dengan bahaya?"


"Gak tau kenapa, tapi ketika pertama kali mendengar kisah Leon, ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku," jelas Ray tersenyum santai.


"Hanya beralaskan perasaan kamu? Itu bukan bukti kuat, Ray," balas Novi menggeleng.

__ADS_1


"Ya bebas sih boleh percaya atau gak. Tapi dari dulu, firasatku sebagai seorang lelaki selalu benar dan gak pernah meleset."


"Kamu berhak memuji diri sendiri," sindir Novi.


"Kamu tau Robi?" lanjut Ray menghentikan laju mobil memakirkan pinggir jalan tuk sekedar membeli air mineral.


"Om Robi, kerabat dekat ayah? Kenapa dengannya?"


"Tunggu sebentar."


Ray bergegas keluar mobil, berjarak lima menit kembali dengan membawa 2 botol air mineral, kemudian melanjutkan perjalan kembali.


"Dari pertama aku bertemu dengannya, gak tau kenapa dia terlihat sangat kaget dengan wajah yang kumiliki," sambung Ray kembali melanjutkan perjalanan.


"Wajar kalau seperti itu. Bukan hanya dia, yang lainnya juga pada kaget menganggap Leon kembali hidup."


"Iya tapi jelas terlihat kalau...."


"Udalah Ray, ngapain sih bahas itu melulu!" pekik Novi.


"Iya iya."


Hampir tiga jam lamanya sebelum akhirnya Ray juga Novi tiba di kediaman keluarga Leon. Ketika Ray hendak keluar mobil membuka gerbang, Novi menghentikannya dan menekan klakson mobil.


Berselang hitungan menit, dua orang security membuka gerbang dari dalam halaman rumah. Ketika Ray menurunkan kaca mobil tersenyum menyapa, kedua security tersebut terbengong penuh tanya.


"Kok mereka?" ujar Ray memasuki halaman rumah megah.


"Gila, halamannya aja panjang bener begitu uda berasa di bandara ini," batin Ray melirik area sekitar.


"Rumah yang sangat megah bak istana, cukup kehilangan kemewahannya sebab tak lagi berpenghuni," lanjut Novi tersenyum ketika mobil melaju pelan melewati area taman.


Ray cukup paham akan hal yang membuatnya tersenyum, yaitu tentang tempat kenangan dirinya bersama Leon.


Setelah sampai di halaman parkir kendaraan, Ray dan Novi berjalan beriring menuju ruang istana tersebut.


"Ini yakin kita masuk hanya berdua?" ucap Ray menghentikan langkah.


"Terus mau bareng siapa lagi?"


"Kita belum ada melapor loh."


"Melapor ke siapa? Pak Hendra, Bu Melda dan Leon? Mereka udah gak ada, Ray," jelas Novi.


"Ya pinomat ke satpam, gitu. Ntar nih ya, kalau misalkan kita di grebek di kira sedang lakuin jungkat jungkit, apa gak bahaya? Padahal kan kita gak ada lakuin itu."


Novi memangku kedua tangan, menatap tajam pandangan Ray," Masuk atau kembali?"


"Siap, Bos."

__ADS_1


Disisi lain Aldo yang telah bersiap membantai habis satu keluarga seorang perwira polisi.


"Ampun, Tuan, Ampun," lirih sang istri melihat suami telah terkapar lemah tak berdaya.


"Tempat kalian bukan di dunia ini, melainkan akhirat. Perlu kalian tau, tempat itu lebih pantas bagi kalian yang sok bersikap suci dan sengaja memancing keributan berseteru dengan Robi," jelas Aldo menodongkan pistol ke tubuh perwira.


Bukan hanya rombongan Aldo saja, melainkan ada beberapa pejabat pemerintah yang menyaksikan acara pembantaian tersebut.


DOR....


DOR....


Setelah satu keluarga tewas menelan 6 korban.


"Terimakasih atas kepercayaan yang telah anda berikan pada pihak kami yang langsung di bawah pimpinan saya," jelas Aldo berjabat tangan.


"Sama-sama. Oh iya bung, tolong sampaikan salam saya pada Robi, jika butuh berapapun harga yang harus pihak kami sediakan, pasti akan di penuhi."


Setelah menjadi tangan kanan Robi secara resmi dan mengatur sebagian besar anggota, Aldo semakin memantapkan diri tuk meraih mimpi mengikuti jejak sang paman memiliki kelompok gengster yang cukup besar.


Pertemuannya dengan pejabat pemerintahan tersebut, bermaksud menjalankan bisnis ilegal baru dimana mereka harus bekerja sama menguasai beberapa pulau terpencil demi meraup keuntungan yang sangat besar, setelah berhasil membantai keluarga sang perwira yang hampir berhasil menggagalkan rencana mereka.


Setelah menyerahkan urusan narkoba, perdagangan wanita dan jenis obat-obatan lainnya pada anggota, Aldo kini berfokus bermain di bidang yang lebih besar.


"Dengan begini, siapapun dari mereka, bahkan maut sekalipun bakal enggan menyentuhku," batin Aldo tersenyum tipis akan impian hidupnya.


"Yasudah kalau begitu saya ijin permisi dulu. Senang bekerja sama dengan anda," lanjut Aldo berlalu pergi meninggalkan ruangan lengkap dengan keenam bodyguard.


Setelah memasuki mobil, Aldo beserta para rombongan menuju satu titik pulau meninjau area strategis tersebut.


Kembali ke sisi Ray yang sedang berada di dalam ruangan istana.


Setelah memasuki ruangan, Ray terus berjalan hingga akhirnya dirinya terpisah dengan Novi dan masuk di dalam satu kamar yang kebetulan kamar pribadi Leon.


"Ternyata benar ya? Wajar sih jika semua orang mengira kalau kamu masih hidup, Leon," ujar Ray menyengir memangku kedua tangan di pinggul memandang foto Leon di dinding ruangan kamar.


Ray kemudian berjalan santai memperhatikan seisi ruangan. Melirik ke atas, ke bawah, kiri dan kanan lalu terhenti saat ia melihat sebuah koper usang berdebu di bawah meja kamar.


"Apaan itu?" lanjut Ray berjalan mendekati.


Kemudian Ray mengembus membersihkan koper tersebut dari kelapnya debu, setelahnya langsung membuka, "Arsip lawas? Foto?"


Ray hanya mengambil selembar foto keluarga jadul tersebut dimana ia sangat penasaran dan cukup lama memperhatikan foto tersebut.


"Kok kaya gak asing ya?" pekik Ray terus mengingat wanita di dalam foto tersebut.


Foto tersebut ialah foto sepasang suami istri yang sedang menggendong kedua bayi kembar putra.


***

__ADS_1


Sampai disini dulu kak, maaf masih slow respon mengenai up. Tapi perlahan bakal kita lancarin lagi kak....


__ADS_2