Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 21


__ADS_3

Alisa Mendekap tubuh Ray begitu hangatnya, dalam sekejap rasa kantuk yang Ray alami menghilang bak di telan bumi.


Tanpa ragu Ray membalas perlakuan Alisa terhadap dirinya hingga membuat Alisa semakin tak bisa berbicara, membiarkan malam itu larut dalam kobaran panas api cinta.


Jari-jemari Ray perlahan mulai piknik dari wajah sampai ke lutut Alisa. Sedikit memberikan tekanan dalam sentuhan ke daerah mesin yang Alisa miliki menciptakan gelombang panas sekujur badan meluap-luap yang mengakibatkan efek pada kedua mata terbuka tertutup.


Lirih desah Alisa terdengar kecil merintih-rintih di telinga Ray terus meracuni akal sehat dirinya. Tubuh Alisa yang tak sejalan lagi dengan pikirannya terus menari-nari di atas pangkua Ray. Perlahan Ray melepaskan pakaian yang ia kenakan dalam sekejap membuat Alisa terlihat begitu semangat.


Keindahan dari sekujur tubuh Alisa membuat Ray tak mampu menahan gejolak sesak cinta di dalam dada. Putih mulus kulit di area semangka yang terlihat jelas, langsung memerah ketika Ray menstempel tak terkendali seperti mesin bubut ayam pak karni mencabuti habis setiap bulu ayam yang di segala sisi.


Semakin lama semakin betah setan nongkrong di kepala Ray sampai akhirnya Ray memutuskan untuk menyudahi malam itu tanpa saling silahturahmi kelamin.


"Kita tahan dulu sampai saatnya ya sayang." Tersenyum mengelus membelai kepala Alisa.


"Kenapa mas? Apa karena aku tak membuatmu tertarik?" lirihnya.


"Bukan seperti itu."


"Terus apa? Atau karena tubuh yang ku miliki gak semenarik wanita lain diluaran sana?"


"Jangan mengatakan yang bukan-bukan," balas Ray menempelkan jari tangan menutup bibir Alisa.


"Aku berhenti melakukan ini bukan karena hal yang kamu sebut barusan dan juga bukan karena gak sayang ke kamu. Aku memutuskan menyudahi karena aku ingin menjadi lelaki yang bisa di percaya kedua orang tuamu untuk menjagamu walau jauh dari mereka sayang," lanjut Ray tersenyum tipis.


Alisa hanya tersenyum mengangguk kembali memeluk Ray.

__ADS_1


"Nanti begitu saatnya tiba, jangan kasih kendor ya sayang? Kita ciptakan kesebelasan sepakbola," sambung Ray kembali tersenyum tipis.


"Wih...? Kucing kali apa dikira sampek segitu banyak."


"Yah buktinya orang-orang dulu bisa sampek segitu banyak anaknya, hayo."


"Yah itukan orang dulu mungkin karena penduduk sedikit, kalau sekarang kan udah banyak mas. Tapi ya gak tau juga sih kalau cuaca hujan melulu tiap malam," ujar Alisa melucu.


"Kamu ini ya, hem jadi mau," balas Ray mengecup kening kembali.


Jam menunjukan pukul 3:15.


Ray pamit kepada Alisa untuk bergegas pulang beristirahat sembari menyuruhnya juga beristirahat.


"Baru juga baikan, dah sindir sindir lagi."


"Becanda doang sayang, gitu doang mah sensitif bener kamu malam ini ya? Apa karena tadi gak jadi pilkada?" sambung Ray.


"Ih apaan, orang bukan karena itu kok. Lagian bisa aku kendalikan ***** aku kok mas."


"Masih ngeles lagi, dasar kamu ini."


"Namanya juga rindu berat pake kali pake cinta pake semuanya ke kamu mas. Kamunya aja yang gak seperti itu ke aku mas."


"Kamu adalah tuan di atas pikiranmu sendiri sayang. Meski ribuan kali aku jawab bahwa mencintai kaku lebih dari diri sendiri, kalau kamunya tetep mikir jelek ya hasilnya tetep jelek."

__ADS_1


"udalah tuh terus merajuk," balas Alisa mengecup pipi.


Satu stempel Ray kembali mendarat mulus di dahi Alisa, kemudian beranjak keluar kembali pulang.


"Mungkin aku adalah pria yang tingkat kewarasannya masih di ragukan. Buktinya aku selalu tersenyum apapun itu jika tentang Alisa." Pikir Ray sekilas tersenyum sendiri di sepanjang jalan.


Di sisi lain sebelumnya ternyata ibu kos melihat Ray keluar dari ruangan Alisa. Mengintip dari sela jendela kamar ketika Ray keluar menutup pintu ruangan.


"Em, anak jaman sekarang, kelakuannya sulit di cerna. Belum lagi ada sepasang remaja malam-malam main ke kebun pisang, nagapain? terus belusukan mainin pisang. Ada-ada ajalah pokoknya. Heran liatnya," batin ibu kos menutup tirai jendela kembali beristirahat.


"Jadi keinget masa muda, aih mas ngatno kapan kamu kembali menemuiku yang telah jadi seorang janda ini?" lanjut ibu kos berbaring di atas kasur.


Lamunan Ray terus berlanjut di sepanjang jalan tentang stempel mesra pertamanya untuk Alisa.


"Selamanya, aku akan mengingat dan takkan pernah ku lupakan kenangan kita hingga pikiran ini menua.


Selamanya, akan qku simpan di tempat yang ku beri nama mimpi di taman langit."


***


Sampai disini dulu kisahnya kak.


komen Fav atau apapun itu masih di terima untuk mendukung novel ini.


Rehat dulu sejenak sebelum lanjut....

__ADS_1


__ADS_2