
"Serius kau ini gak lagi bercanda?" balas Ray menoleh mengambil rokok yang terjatuh.
"Gak Ray, kedua orang tuaku ingin aku segera menikah, karena mereka ingin segera punya cucu," jelas Fii.
"Berarti yang kemarin sore kau bilang itu beneran? Mia gak lagi mengandung saham darimu kan?" sahut Fendi.
"Ya gak lah, kau pikir aku cowok apakah hamilin anak orang duluan," jelas Fii kembali mengunyah bakwan.
"Dimana ntar malam kalian rencananya kencan bareng?" tanya Ray kembali.
"Di cafe biasa kita nongkrong, bentar aja habis itu pulang langsung nemui orang tua Mia," tegas Fii.
"Bagus kalau gitu. Kau Fen mau ikutan sekalian lamar Erlin juga?" Ray melirik Fendi.
"Gambaran ke depan masih gelap, belum nampak ini jalan ke rumah Erlin," pungkas Fendi meniup kopi panas.
"Tapi Ray bantuin aku lah, gugup kali aku loh sumpah. Belum lagi ayah Mia galak apa kagak," ucap Fii terlihat serius.
"Yang penting kau bawa duit kan?" Ray mulai menatap Fii serijs.
"Ya bawa, terus apa hubungannya?" jawab Fii bingung.
"Buat jaga-jaga mana tau pulang dari sana pengen singgah di cafe baru itu, ya nggak Fen?" Melirik Fendi licik.
"Yoi mamen," sahut Fendi.
"Aku kalau nengok kalian ah, udalah aman itu, yang penting acara ku sukses malam ini," singkat Fii.
Setelah memberitahukan kepada Ray perihal Fii ingin melamar Mia, mereka bertiga kembali melanjutkan aktifitas. Tak ada yang berubah hingga malam hari yang telah ditunggu tiba.
"Gugup kali aku," ujar Fii di dalam mobil.
"Nih permen kiss," sahut Fendi memberikan ke Fii.
"Apa hubungannya Fendi!" Tegas Fii.
"Lu resek kalau lagi lapar," ucap Fendi nyengir.
"Aku nengok kau ah, malah iklan lagi," balas Fii.
Berjalan perlahan menuju ke rumah Mia, saat itu mereka membatalkan kencannya, berganti dengan langsung bertemu dirumah Mia.
Bukanlah acara lamaran yang besar, melainkan Fii hanya meminta restu kepada orang tua Mia untuk meminang sang putri. Erlin menemani Mia malam itu, begitu juga dengan Alisa yang turut hadir.
Namun kedatangan Alisa tak sendirian, sebab Aldo meminta kepada ayah Alisa untuk ikut dengan alasan menjaga Alisa dari Ray. Hal yang wajar sebab mereka telah bertunangan.
35 menit berlalu dan tiba di kediaman Mia.
Ketika turun dari mobil, Ray langsung melihat Aldo yang saat itu berada di samping Alisa berdiri di pintu masuk.
__ADS_1
Ray beserta Fii juga Fendi langsung berjalan menuju ruang tamu Mia, saat itu kedatangan mereka telah di tunggu keluarga Mia.
"Kamu terlihat cantik malam ini Putri," ujar Ray ketika berpapasan dengan Alisa.
"Mas," lirih Alisa.
"Tapi jika bersanding denganku," lanjut Ray kembali berjalan.
Alisa tersenyum melihat Ray yang tetap semangat meski mengetahui dirinya telah bertunangan dengan Aldo.
Ray kembali berbalik arah menghampiri Alisa.
"Untuk kamu, tolong jagakan tuan putri untukku, jangan sampai lecet sedikitpun," ujar Ray menunjuk rendah Aldo.
Aldo yang tak mampu menahan emosi langsung menarik kera baju Ray.
"Bagus ya kalau bicara," tegasnya.
"Eh tangan tangan, jangan buat keributan di rumah orang, tolong jangan anggap kayak di pasar," balas Ray tertawa kecil melihat Aldo.
Dengan cepat Aldo langsung melepas kedua tangannya kembali bersikap santai.
"Mas, udah dong jangan buat hal aneh," sahut Alisa.
"Siap putri," balas Ray mengedipkan mata sembari berjalan kembali memasuki ruangan.
Ketika duduk bersama di ruang tamu Mia, menyaksikan Introgasi ayah Mia ke Fii.
"Jadi kamu yang namanya Syafi'i? ucap Ayah Mia.
Paras ayah Mia yang sedikit seram seperti pak raden semakin membuat gugup Fii menjadi-jadi.
"Iiya ...Pak," jawab Fii menunduk.
"Yang kuat kalau bicara, kamu laki kan?" tegas Ayah Mia kembali.
"Iya Pak," jawab Fii kembali.
"Coba jelaskan maksud kedatanganmu kemari?" tanya Ayah Mia.
"Jadi begini, Pak."
"Iya."
"Begini, Pak."
"Iya."
"Kan aku kenal Mia ini, Pak."
__ADS_1
"Heeh, terus?"
"Kan sama-sama anak muda ini, Pak."
"Iya gak pala kamu bilang saya juga tau kalau kalian semua ini masih anak muda kemarin sore." Ayah Mia mulai terlihat kesal.
"Jelaskan dengan tegas jangan bertele-tele," lanjut kembali ayah Mia sembari memukul meja.
"Saya mencintai Mia setulus hati tak ingin menyakitinya sedikitpun dan ingin segera menikahinya Pak," ketus Fii dengan nada sedikit keras terkejut dengan bentakan Ayah Mia.
Fendi yang tak sanggup menahan gelak tawa menyaksikan hal itu hanya menyandar ke bahu Ray.
"Nah gitu kan bagus, lelaki itu ya harus seperti itu, sigap tegas jangan bertele-tele," jelas Ayah Mia sembari meminum teh.
"Kamu sudah makan?" ujar Ayah Mia kembali kepada Fii.
"Belum pak," jawab Fii polos.
"Kalau belum makan, pulang dulu sana makan," pekik Ayah Mia sedikit bercanda.
"Ayah, kasian bang Fii di ledekin terus," sahut Mia.
"Yasudah niat baik kamu sudah sampai kepada saya. Sebagai kepala rumah tangga, saya terima niat baik kamu meminang putriku," ucap Ayah Mia kembali menoleh ke arah Fii.
"Alhamdulilah sah," sahut Fendi.
"Sah gundulmu, belum ijab ini," pekik Ayah Lisa membuat suasana berubah menjadi canda tawa.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 22:00.
Aldo bangkit menarik tangan Alisa.
"Permisi semuanya, Bapak, Ibu, kami pamit duluan berhubung ayah Alisa tak mengijinkan Alisa pulang larut malam," ujar Aldo.
"Aww........Al, sakit," lirih Alisa menoleh menatap Ray dengan raut wajah bersedih.
Ray yang menghargai suasana indah milik Fii mencoba menahan emosi melihat perlakuan Aldo ke Alisa. Hanya menatap kesal melihat Aldo berjalan menarik Alisa menuju pintu keluar meninggalkan acara malam itu.
"Sabar Ray, jangan terpancing," ujar Fendi menepuk lembut bahu menenangkan darah muda.
***
Sampai di sini dulu kakak,
Fav, komen, like bila suka alur kisah ini ya.
kita juga menerima tips kak, ahehehe canda..
Makasih..
__ADS_1