
"Udah kabarin Mia dan Erlin belum, Bunda?" lanjut Ray menoleh ke Alisa.
"Idih iiih, Bunda, Bun Bun." Manyun Fii meledek.
"Mana boleh iri bos."
"Udah kok Mas, mereka juga udah mau sampai kok di rumah."
Melewati sedikit perjalanan panjang, tiba di kediaman Alisa.
Ketika turun dari mobil...
"Ah sayang, gimana kabarnya," ujar Erlin memeluk Alisa.
"Sehat kok sehat, kalian sendiri bagaimana? Kangen kalian berdua," balas Alisa.
"Sehat juga," sahut Mia.
"Ih kami juga kangen bener tau, selamat ya udah jadi nyonya Ray Al Karim," lanjut Mia.
"Kalian tau dari mana?" ucap Alisa bingung.
"Orang tua kamu yang beritahu kami. Udah ah jangan di bahas, yang penting sekarang kamu bahagia sayang," jelas Mia kembali memeluk Alisa.
"Iya maaf. Oh iya, kamunya kapan jadi nyonya Safii?" balas Alisa.
"Tinggal bentar lagi kok say, noh yang belum mau jadi nyonya Fendi," jawab Mia melirik Erlin.
Melihat mereka bertiga bertemu kangen, Ray, Fendi dan Fii hanya memandang dari depan mobil.
"Kalau sudah punya anak, kita jodohkan yok," senggol Fii pada Ray melihat para wanita berkumpul.
"Bukanya gak mau, tapi lebih cocok kalau kau besanan sama Fendi," balas Ray.
"Bisa rusak keturunan ku nanti, gak gak," sahut Fendi.
"Ada rencana nikah aja belum kelihatan, akal-akalan rusak keturunan, pakis kebon," cetus Fii.
"Ya slow lah, namanya juga usaha mempertahankan garis keturunan," jawab Fendi memangku kedua tangan.
Melihat mereka berdua masih sama seperti sebelumnya yang selalu berseteru, Ray mengambil rokok memantikkan api.
Eits, hu. (Hela nafas menghembus).
"Lapar gak?" lanjut Ray melihat merela berdua.
"Gak lapar sih, cuma kalau di paksa ya pasti mau aku," singkat Fendi.
"Yaudah kalau gak lapar, biar makan sendiri aku."
"Please Ray please kali ini aja paksa aku kenapa," lirih Fendi.
"Makanya to the point aja Fendi," sahut Fii.
"Kau pun sama juganya, kaleng sarden," balas Fendi melihat Fii.
"Yaudah ayo masuk."
__ADS_1
Berjalan bertiga di belakang, sedang Alisa, Mia dan Erlin di depan memasuki rumah Alisa yang kian makin megah.
Ketika sampai di ruang tamu.
"Mas mau aku buatin minum apa?" tanya Alisa.
"Apa aja yang penting kamu yang buatin, Sayang."
"Sebentar ya mas. Mia, Erlin yok ikut aku," lanjut Alisa mengajak para wanita.
Berlalu meninggalkan ketiga lelaki tersebut di ruang tamu menunggu orang tua Alisa yang masih berbenah diri.
"Liat sendiri kalian berdua kan? Ini masih salah satu nikmat dari menikah, belum yang lainnya lagi. Nikmat mana lagi yang kau dustakan murid-murid," ujar Ray kembali menjahili mereka berdua.
"Iya lah iya. Tapi Ray, tentang malam pertamamu, Alisa menjerit gak?" bisik Fendi mendekati.
"Jerit dia, menjerit karena kakinya ke injak kakiku."
"Orang serius juga, kan aku penasaran sih."
Keteplak..
(Tangan Fii melayang pelan ke arah topi Fendi.
"Bodoh, em bodoh, entah apa-apa aja yang di tanya, kena tepok kau kan jadinya," sahut Fii yang mendengar bisikan Fendi.
"Kau pun ikut ikutan aja, Safei," ucap Fendi.
"Nikah kau makanya, perlu ku panggil Erlin ini?" jelas Fii.
"Udah jangan ikut campur rumah tangga orang kau, Safei," jawab Fendi.
Tak lama kemudian Ayah Alisa menghampiri mereka yang sedang duduk bercanda di ruang tamu.
"Selamat malam. Maaf ya ayah baru bisa bergabung." Perlahan duduk.
Ray, Fii dan Fendi langsung menyalim tangan ayah mertua yang baru bergabung bersama di ruang tamu.
"Iya Yah, kebetulan kami juga baru berkumpul," sahut Ray.
Tak lama setelahnya Alisa, Mia dan Erlin kembali menghampiri menyuguhkan minuman.
"Ibu mana Yah, kok belum kelihatan?" ujar Alisa ketika meletakkan minuman di meja.
"Ada, lagi beres-beres di kamar."
Hanya berselang beberapa menit, Ibu datang menghampiri kami.
"Wah udah pada ramai, maaf tadi Ibu ada kesibukan sedikit," jelas Ibu duduk di sebelah Ayah.
"Bu."
"Bu."
"Bu."
Bergantian menyalim tangan Ibu mertua, begitupun dengan yang lainnya.
__ADS_1
"Ini calonnya Mia bukan?" ucap Ibu kembali menunjuk Fii.
"Iya Bu, kebetulan takdir mempertemukan kami berdua," jawab Fii nyengir.
"Oh bagus kalau seperti itu. Ibu dengar dari Alisa, katanya kalian sudah lamaran ya?" tanya Ibu kembali.
"Iya Bu, mohon doa Bu biar di lancarkan," ujar Fii.
"Amin. Lah terus yang ini Nak Fendi kan? Kapan melamar Erlin?" lanjut Ibu kembali.
"Erlin lagi fokus karir Bu, Aku nunggu aja kapan Erlin siapnya," sahut Fendi menyeruput minuman.
"Oh balikan fakta ya, awas nanti ya," gerutu Erlin.
"Hayo, jangan bohong," ucap Ibu.
"Jadi Bu, udah kepingin punya cucu belum?" balas Fendi mengalihkan pembicaraan.
"Aww." lirih Fendi ketika kakinya terinjak kaki Ray.
"Sebenernya sudah dari dulu Nak, ya mudah-mudahan bisa cepat di beri cucu," jawab Ibu melirik Alisa.
"Yasudah kalau begitu Ayah Ibu pamit dulu ya, ada keperluan menemui seseorang, anggap aja rumah sendiri. Alisa ajak mas mu dan yang lainnya makan malam dulu," lanjut Ayah beranjak pergi bersama Ibu.
"Iya Yah."
Berjalan meninggalkan mereka yang masih terduduk bersama menikmati jamuan malam.
"Anggap rumah sendiri, jadi pengen punya mertua yang begini," gumam Fii.
"Kamu ngomong apa, Bang?" sahut Mia sedikit melotot.
"Canda beb, calon mertuaku paling the best kok, gak galak," jawab Fii tersenyum.
Ketika selesai menyantap jamuan malam, Fendi, Fii, Mia dan Erlin beranjak pamit berhubung jam telah larut malam. Mengantar mereka berempat sampai depan pintu halaman rumah.
"Jangan kasih kendor bos ku," bisik Fendi pada Ray sembari berjalan memasuki mobil.
"Udah buruan sana, apa aja yang di bilang."
"Tin." Suara klakson mobil.
Melambaikan tangan ke arah mereka yang berlalu pergi. Menarik tangan Alisa, menutup pintu ruang tamu, menggendongnya menaiki lantai menuju kamar baru.
"Mas, kamu yakin kuat? Gak mesti gendong juga gak apa kok," ujar Alisa merangkul leher Ray.
"Masak begini aja gak sanggup? Mana mungkin aku kalah sama bang Rahul khana yang bisa membuat Angelinya bahagia," jelas Ray menatap pandangan lurus.
Ceklek....... (Alisa membuka kamar dengan badan masih berada di pangkuan depan Ray segera menutupnya kembali).
Membaringkan tubuhnya di ranjang yang penuh taburan bunga, bersamaan dengan Ray yang berada di atas tubuh Alisa.
"Terima kasih telah memikirkan ku selama ini," ujar Ray ketika mencium kening Alisa.
"Terima kasih karena telah melihatku dan menata masa depan bersamaku," lanjut Ray kembali saat mencium kedua mata Alisa.
"Terima kasih untuk yang selalu rewel dan cerewet demi membuat sifatku semakin lebih baik," pungkas Ray kembali mencium bibir tipis merah Alisa.
__ADS_1
***
Sampai di sini dulu ya kak, sub komen apalah itu semua namanya, dilarang memberi tips jika tidak menyukai kisah ini kak, kalau suka sok atuh, makasih. Kita lanjut...