Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 76


__ADS_3

"Kenapa dia bisa tau jika seluruh karyawan di nonaktifkan? sedang dia uda gak kerja disini lagi," tanya Ray dalam hati.


"Jangan pada heran begitu dong, nikmati aja nasib sebagai babu, hahahaha," ujar Aldo kembali masuk kedalam mobil.


"Bajingan!"


"Ray, jangan," sahut Fendi menarik menghentikan langkahnya.


"Emosi aja bawaan mu itu Ray," sambung Fii menggelengkan kepala.


"Kalian liat sendiri bukan seperti apa sikap dia tadi? Begitu merendahkan, belum lagi satu hal yang membuatku bingung, dia bisa tau apa yang kita alami?" Menghela nafas tak beraturan.


"Iya juga sih Ray, kok dia bisa tau ya," jawab Fendi.


"Apa jangan-jangan?" Fii menoleh menatap Ray.


"Sudah pasti ini ada kaitan dengan dirinya, em sudah kuduga," sahut Fendi kembali.


"Aku juga gak begitu yakin, tapi firasat ku tentangnya gak pernah sedikitpun meleset," jelas Ray kembali.


"Jadi kek manalah nasib kita ini Ray?" pekik Fendi bingung.


"Entahlah, cuma bisa cari informasi dimana ada tempat kerja baru yang bisa kita lakukan untuk saat ini."


"Jangan lupa beri kabar ke kalau ada job baru ya," singkat Fii.


"Yaudah kalau begitu aku balik duluan," jelas Ray berjalan melambaikan tangan menghentikan laju angkutan umum.


Merenung di dalam angkutan umum saat perjalanan pulang, penasaran dalam diri terus bertanya kenapa hidup serumit mencari kitab suci sun gokong.


Flash back 1 hari sebelumnya disisi Aldo sesampainya di kediaman Robi malam hari setelah selesai melakukan transaksi.


"Permisi Paman."


"Akhirnya sampai juga kamu. Gimana hasilnya? Lancar bukan?"


"Lancar paman semuanya beres. Sekarang tinggal menunggu panggilan dari mereka yang butuh berapa banyak barang itu," jelas Aldo perlahan duduk.


"Bagus, bagus, ini baru keponakan saya yang hebat. Oh iya Aldo, ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan."


"Apa itu, Paman?"


"Pemilik perusahaan tempat kamu bekerja dahulu telah berhutang banyak padaku. Aku ingin kamu menarik paksa aset perusahaan tersebut. Lokasi itu sangat bagus dan cocok tuk mendirikan bisnis baruku nanti."


"Beneran, Paman?"


"Kamu ragu padaku?"


"Bukan begitu Paman, hal ini terlihat cukup membingungkan. Bukankah pemilik perusahaan tersebut salah satu orang yang cukup kaya, kenapa bisa terlibat utang dengan Paman?"


"Yang kamu tau selama ini sebatas dia kaya raya Aldo, kamu gak tau seberapa banyak dia terlibat judi denganku," jelas Robi tertawa.


"Judi?"


"Dia termasuk salah satu penggila judi kelas atas, sama sepertiku."


"Aku baru tahu jika pak William seperti itu, Paman."

__ADS_1


"Kamu tau kan Aldo, jika aku sudah menginginkan sesuatu, apapun ceritanya harus tercapai?"


"Siap Paman, pasti perintah dari Paman akan ku tuntaskan secepatnya."


"Aku ingin besok pagi mendengar kabar baik darimu. Kosongkan wilayah tersebut ketika berhasil mendapatkan surat kepemilikan," jelas Robi kembali.


"Kalau berhasil, pasti seluruh pekerja akan di berhentikan, bagus, bagus. Ray, Ray, malang kian nasibmu," batin Aldo merenung.


"Kenapa diam Aldo?" ucap Robi kembali.


"Ah, maaf Paman tadi sedikit melamun tentang kehebatan Paman, Aku takjub. Kenapa gak dari dulu aja ya aku bergabung dengan Paman," balas Aldo mengacungkan 2 jempol.


"Terlalu cepat kagum seperti itu. Oh iya, kamu keberatan melakukan apa yang saya perintah tidak? Karena yang saya tau di sana ada teman kerjamu."


"Justru aku sangat senang Paman, dengan begini penderitaan mereka akan bertambah." Tersenyum tipis tertawa kecil.


"Baguslah kalau kamu gak keberatan. Aldo, Ini untuk hasil kerja kerasmu, jangan lupa berikan sedikit bagian juga untuk anggota yang selalu menemani kamu selama ini." Melemparkan uang cukup banyak di atas meja.


"Ini beneran segini, Paman?"


"Iya, terlalu sedikit?"


"Bukan Paman, justru banyak sekali."


"Uang segitu belum terlalu banyak. Ingat, dalam hidup jangan pernah cepat merasa puas," pungkas Robi.


"Terimakasih Paman, kalau begitu permisi pamit." Berlalu pergi meninggalkan ruangan pribadi milik Robi, segera pergi menuju pemilik perusahan tersebut.


Setelah sampai di kediaman William Sutanto pemilik perusahaan tersebut.


"Kita tunggu sampai pukul enam pagi besok, sekarang kita pantau dahulu dari sini."


"Baik Tuan."


Malam berlalu, waktu menunjukkan tepat pukul enam pagi. Bergegas turun dari mobil berjalan menuju pintu gerbang.


"Maaf Pak, ingin bertemu siapa ya?" ujar satpam menghentikan langkah Aldo.


"Aku ingin bertemu dengan William.",


"Maaf Pak, beliau sedang istirahat, tidak bisa di ganggu," jelas satpam tersebut.


"Aku ingin bertemu!" Bentak Aldo menarik kera baju satpam tersebut.


"Tapi Pak..."


"Tidak ada kata tapi atau kau ingin aku bersikap lebih kasar?"


"Bukan begitu, Pak..."


"Halah, habisi!" Mendorong menjatuhkan penjaga tersebut.


"Siap, Bos."


"Pak, jangan..."


Bugg...

__ADS_1


Baggg..


Buggg...


Mendengar keributan, beberapa satpam lainnya menghampiri, namun Alfred dan Erik membumkam langkah mereka dengan menarik pistol di punggung, sedang Aldo terus melangkah tenang menuju pintu masuk.


Tok tok tok..


Tok tok....


Ting.....tung...


Mengetuk pintu berulang kali, sesekali memencet bel namun tak ada sambutan apapun terdengar.


Brukk...


Membuka paksa pintu tersebut lewat tendangan. Masuk mendongak ke atas mendapati William berdiri baru keluar dari pintu kamar.


"Hey kamu! Kenapa tidak sopan seperti itu? Bukan seperti itu cara bertamu!" pekik Wiliam menatap Aldo dari atas.


"Aku tidak punya waktu berlama-lama disini. Aku kemari hanya ingin menagih hutang."


"Hutang?"


"Masih ingat dengan nama Robi?"


"Saat ini aku belum bisa membayarnya, sampaikan pada beliau, secepatnya akan saya bayar."


"Dia tidak punya waktu lagi untuk menunggu, jika tidak ada hari ini, Aku akan bermain kasar!"


"Jangan macam-macam kamu Aldo, akan saya telepon polisi jika kamu melakukan hal tersebut."


"Papa." Istri William menghampiri.


"Tenang Ma, jangan takut," singkat Wiliam merangkul istri.


"Telepon saja, kamu pikir polisi bisa menghentikan kami? hahahaha. Cepat bayar! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi disini. Kami akan menyita paksa perusahaan itu jika kau tak bisa membayarnya sekarang!"


"Tuan, kami sudah mengamankan keadaan luar," bisik Alfred menghampiri Aldo.


"Bagus."


Putri William yang tak tahu ada keributan, keluar dari kamarnya menatap bingung.


"Cantik sekali," gumam Aldo berjalan mendekati.


"Nara, masuk ke kamar kamu." Tegas William.


Dengan sigap sang putri berlalu pergi masuk kembali ke kamar.


"Ayo dong Tuan William yang terhormat, janganlah bersikap seperti itu. Aku begitu tertarik pada putrimu ketika melihatnya pertama kali," lanjut Aldo bergimik bengis.


"Dasar bajingan kamu." William menuruni anak tangga perlahan menghampiri Aldo.


***


Sampai disini dulu para penerus bangsa. Maaf belum bisa crazy up 20 bab/hari ya kak, ada beberapa kesibukan author masih cukup padat di real life. Makasih untuk yang terus mengikuti kisah ini, jangan lupa fav komen apalah itu namanya semua. Kita lanjut..

__ADS_1


__ADS_2