Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 108


__ADS_3

Disisi lain Tomi menghadap Deny.


"Permisi Tuan," ucapnya berdiri di hadapan Deny.


"Iya."


"Saya ijin ingin pergi keluar sebentar, ada hal yang harus saya selesaikan."


"Yasudah jika seperti itu."


"Ini kunci mobilnya, Tuan." Meletakkan kunci mobil di meja Deni yang lagi bersantai.


"Kenapa kamu kembalikan? Mobil itu saya beri khusus untuk keperluan kerja kamu sebagai pengawal pribadi Novi."


"Tapi Tuan, bukankah terlalu cepat bagi Tuan untuk mempercayai aku yang baru bergabung bekerja di sini?"


"Kamu bukanlah orang pertama yang saya pekerjakan di sini. Hanya dengan melihat gerak gerik orang saja, saya bisa tau dia berbohong atau tidak. Satu yang saya pinta, jangan pernah mengecewakan dan menghancurkan kepercayaan yang telah saya beri," jelas Deni.


"Tapi Tuan..."


"Sudah pergi, bawa mobil itu dan jaga baik-baik kepercayaan dariku."


"Terimakasih, Tuan."


"Hanya melihat gerak gerik seseorang? Yang benar saja. Jangan samakan aku dengan pemain amatir lainnya, Deni," pikir Tomi berjalan menuju mobil.


Tomi berniat menemui ayahnya setelah membuat janji di suatu tempat. Demi menjaga rahasia serta rencana yang telah ia rencanakan bersama Deki.


Pukul 20 : 45.


Setibanya di lokasi sebuah bar.


"Anakku." Sambut Deki merentangkan tangan.


"Ayah." Memeluk tubuh Deki.


"Maafkan ayahmu ini karena tidak bisa tinggal bersama denganmu," ujar Deki melepaskan pelukan kemudian memeluk kembali.


"Aku paham yah. Situasi ini belum memungkinkan kita untuk bisa tinggal bersama."


"Loh, wajah kamu kenapa memar begini?" lanjut Deki menyentuh bagian memar di wajah Tomi.


"Aw, biasa Yah."


"Siapa yang berani melakukan hal seperti ini padamu Nak? Cepat katakan biar ayah habisi orang tersebut!"


"Santai yah, ini tuh aku sendiri yang buat demi melancarkan rencana yang telah ayah lakukan," jawab Tomi mulai duduk.


"Iya, tapi kenapa harus sampai seperti itu? Terlalu berlebihan, Tomi."


"Ini semua aku lakukan demi keberhasilan rencana kita dan sekarang aku berhasil masuk ke dalam keluarga Deni."


"Dari dulu kamu memang gak pernah mengecewakan ayah." Menepuk lembut bahu Tomi.


"Oh iya, mendadak menyuruhku datang kemari ada hal apa, Yah?"


"Jangan terburu-buru, lebih baik kita makan dulu. Kamu pasti lapar bukan? Ayah sudah pesan makanan favorit kamu."

__ADS_1


"Emm. oke."


Sementara itu di kediaman Ray Alisa.


Alisa menghampiri Ray yang sedang menonton di ruang tamu sembari membawa segelas teh hangat.


"Seru banget kelihatannya." Meletakkan gelas tersebut di meja perlahan duduk menemani Ray.


"Kalau bang Rahul yang jadi aktor mah pasti selalu seru, Sayang."


"Sejak kapan kamu suka film beginian?" lanjut Alisa menekuk alis.


"Sejak pertama kali aku melihat bidadari di wajahmu." Menyibakkan rambut yang menutupi telinga Alisa.


Alisa terdiam sejenak mendengarkan ucapan Ray. Pandangan tersebut berbalas menatap mata yang kian sendu. Memperpendek jarak tatapan kedua insan begitu dekat. Tubuh Alisa kian menyandar di lengan kiri Ray dan tangan kanan Ray mulai menyentuh lembut bibir Alisa.


"Sampai detik ini, Tuhan begitu sayang padaku. Kebahagiaan terus Ia beri lewat hadirmu," lanjut Ray mengangkat sedikit naik dagu mungil Alisa.


Ketika hendak menciptakan romansa malam.


"Bang, minjam handphone bentar bisa? Rusak punyaku gak bisa nyala layarnya," ujar Rama berdiri dari lantai atas.


Ray dan Alisa yang terkejut langsung berpura tak sedang ingin melakukan apapun.


"Memang adik gak ada otak," batin Ray menggerutu pandangan menunduk menghela nafas.


"Ini nah." Mengambil ponsel di saku menyodorkan ke arahnya.


Dengan cepat Rama menuruni anak tangga mengambil ponsel dari tangan Ray, kemudian kembali masuk ke kamarnya.


Mendapati hal seperti itu, Alisa tertawa ringan menganggap kejadian tersebut begitu lucu.


"Mas, emang kamu gak lagi kecapean? Kan seharian kerja," balas Alisa mengetahui maksud dari Ray.


"Em..." Terduduk kembali.


"Gitu aja merajuk, memanglah anak muda satu ini," pekik Alisa memencet hidung Ray beranjak berjalan menuju kamar.


"Berangkat .." sambut Ray menuntun Alisa berjalan.


Satu jam setelahnya, Alisa telah tertidur dalam dekapan Ray.


Tok...


Tok..


Tok...


"Bang, udah tidur belum," ucap Rama mengetuk pintu kamar.


"Bentar." Berdiri memakai baju menutupi sekujur tubuh Alisa dengan selimut.


Klek....


"Ha, kenapa?"


"Ini ada pesan masuk." Menyodorkan ponsel ke Ray.

__ADS_1


"Yaudah, tidur kau jangan banyak begadang," balas Ray kembali menutup pintu berjalan menuju ranjang tidur menyalakan layar ponsel.


"Novi? Ada apa malam begini kirim pesan?" pikir Ray membuka pesan tersebut.


"Besok ayah akan membawamu ke beberapa perusahaan milik ayah Leon sekaligus memperkenalkan kamu sebagai calon penerus tunggal."


"Secepat ini?" kejut Ray.


"Mas, jangan lakukan itu, jangan tinggalin aku." Alisa mengigau.


Menoleh kearah Alisa sembari mengelus kepala mencium lembut keningnya.


"Apa yang harus kulakukan?" batin Ray perlahan membaringkan badan mulai memejamkan mata.


Keesokan harinya.


"Berangkat dulu ya sayang." Mencium kening Alisa di depan pintu luar rumah.


"Hati-hati mas."


"Kak, pamit ya," sambung Rama menyalim tangan Alisa.


"Iya, belajar yang bener," jawab Alisa tersenyum.


Kegiatan Ray di pagi masih sama seperti biasa, sebelum ke kantor wajib mengantar Rama terlebih dahulu.


"Bang, ada kabar gembira hari ini kan?" cetus Rama dalam perjalanan.


"Kabar gembira apa?"


"Yang kemarin loh! Handphone baru," lanjutnya.


"Walah lupa abang, kemarin capek kali jadi langsung tidur kakakmu," jelas Ray.


"Putus sudah harapanku. Teruntuk sang pujaan hatiku, Rina. Jangan katakan aku tak berjuang, terlalu sakit untukku menggapai mimpimu tanpa ponsel baru," cibir Rama memukul dada menundukkan pandangan.


"Yaudah sore nanti kita singgah ke counter, nanti biar abang bilang ke kakak."


"Tadinya aku hampir menyerah, namun angin pagi ini berbisik lembut padaku untuk kembali mengejar mimpi itu," sambung Rama kembali mendengar ucapan bahagia Ray.


"Nurun siapa lah kau ini," pekik Ray menggeleng.


"Jangan samakan aku samamu nang. Sekarang levelku satu tingkat berada di atasmu," jelas Rama memangku tangan mengangguk-angguk.


"Kiri bang, berapa ongkosnya?" celetuknya ketika sampai depan gerbang sekolah.


"Durhaka sama orang tua bah. Buruan turun sana."


"Pastikan kali ini jangan sampai telat menjemput saya, kalau telat, potong gaji." Tegas Rama ketika turun dari mobil.


"Suka kaulah mau bilang apa."


Ray melanjutkan kembali perjalannya dengan pikiran penuh tanya campur aduk memikirkan masalah apa yang telah kembali menantinya. Mengingat pesan Novi sebelumnya, membuat akal pikirnya tak menemui jalan keluar.


"Apa aku harus jujur aja pada ayah Novi? Setidaknya jika aku berkata yang sejujurnya, masalah ini tidak akan mengganggu hidupku," gumam Ray berhenti di lampu merah.


"Apa mungkin resikonya cuma putus kerjaan? Kalau cuma putus kerja ya tinggal cari yang baru. Tapi jaman sekarang cari kerjaan susah, Ah....." lanjut Ray menggaruk kepala.

__ADS_1


***


Sampai disini dulu kak, tanpa banyak iklan kita langsung lanjut. Karena iklan belum bayar pajak. Makasih kak...


__ADS_2