
Penuh emosi langsung memukul Aldo, "Bedebah!"
Buggg.....
"Jangan pernah tangan kotormu itu berani lagi menyentuh Alisa," kecam Ray menunjuk Aldo yang terkapar.
"Mas..." Berlari Alisa bersembunyi di belakang Ray.
"Ah....." lirih Aldo berdiri merasakan luka di bibir.
Ray masih memandang Aldo yang mengerenyitkan pandangan menganggukkan kepala.
"Hebat Ray, hebat. Dari dulu tekad mentalmu gak pernah berubah," ujar Aldo bertepuk tangan.
"Kau benar, tanganku ini tangan kotor yang telah membunuh banyak orang," lanjut Aldo menatap Ray sinis.
"Sudah berulang kali aku katakan, jangan pernah menggangu Alisa!" Bentak Ray menarik kera baju Aldo.
"Mas, sudah, ayo kembali," pekik Alisa sedikit ketakutan menarik baju Ray.
"Ingat ini baik-baik. Jangan sampai tangan ini membunuh untuk pertama kalinya," lanjut Ray mengecam Aldo.
"Membunuh? Hahahaha, Ray, Ray, kamu itu lucu ya. Ingin membunuhku? Ha..ha..ha," balas Aldo terbahak.
Seketika ekspresi wajah Aldo berubah.
"Jika aku ingin, malam ini ku sudah pasti membunuhmu terlebih dahulu. Kau belum tau siapa aku yang sekarang," jelas Aldo menarik kera baju Ray saling mengecam.
"Cukup!" sahut Alisa begitu depresi.
"Sebajingan apapun dirimu, secuilpun gak membuatku gentar, ingat itu," balas Ray melepaskan sedikit mendorong Aldo menjauh.
"Ayo sayang," lanjut Ray menggandeng tangan Alisa berjalan menuju mobil berlalu pergi meninggalkan Aldo yang masih berdiri menatap dari kejauhan.
"Mas, Aku mohon jangan melakukan hal yang bisa membuatku khawatir," pekik Alisa.
"Bagaimana mungkin aku bisa santai diam melihat kamu di sakiti?"
"Aku gak apa-apa Mas. Tadi salahku yang mudah terpancing menampar Aldo sehingga membuatnya begitu marah," jelas Alisa terlihat begitu takut.
"Dia berkata yang tidak-tidak tentang hubungan kita dan mengancam akan selalu menghantui keluarga kita karena dia masih dendam atas apa yang telah terjadi padanya," lirih Alisa pilu menutup Ray.
"Sayang, kamu jangan khawatir ya. Selama aku masih hidup, Aku gak akan biarkan apa yang di katakan sih biadab itu terjadi." Membelai lembut Alisa.
Setelah pergi meninggalkan lokasi, tak lama kemudian dua mobil melaju kencang menyalip langsung menghentikan laju mobil Ray.
Beberapa orang turun dari dalam mobil tersebut berjalan menghampiri memukul kaca mobil memaksa Ray segera keluar.
"Mas, jangan keluar," lirih Alisa berlinang air mata.
"Keluar, woy!" Bentak mendobrak kaca mobil.
"Kamu tunggu sini." Melepaskan tangan Alisa menghiraukan pinta darinya.
Ketika keluar dari mobil,.
"Ada masalah ap..."
Bug....!!
Bag....!
Bug....!!
Bag...!
"Mas...! Tolong....tolong." Teriak Alisa meminta bantuan ketika melihat Ray terkapar tak berdaya.
Mengetahui keadaan sekitar jalanan mulai sedikit ramai, para gerombolan tersebut bergegas pergi menjauh.
__ADS_1
"Cabut!"
"Mas," lirih Alisa bercucuran air mata.
"Mbak, ada apa kok bisa sampai begini?" ujar seorang warga membantu Ray yang terkapar membopong duduk di bahu jalanan.
"Kami gak tau mereka siapa pak, tiba-tiba menyerang kami," lanjut Alisa terbata-bata menangis.
Penuh lebam tak mampu membuat Ray melanjutkan perjalanan, seketika berbaring kembali perlahan mengatur nafas.
"Apa gak sebaiknya kita langsung bawa ke dokter saja?" pekik seorang warga menatap Alisa.
"Yaudah ayo kita angkat, nunggu apalagi," sahut warga lainnya membopong menuju mobil.
Setibanya di rumah sakit langsung menangani Ray bercucuran darah di kepala.
Sementara disisi lain Aldo.
"Gimana?"
"Sesuai perintah Tuan, kami berhasil menghentikan laju mobilnya, langsung menghajarnya sampai terkapar bercucuran darah."
"Dia masih hidup?"
Alfred dan Erick beserta anggota lainnya saling menoleh menatap bingung.
"Aku bilang, dia masih hidup tidak!" Berjalan menghampiri.
"Gak begitu tau Tuan, terakhir kami pergi meninggalkannya, dia terkapar," jawab Alfred menunduk.
"Goblok," pekik Aldo menendang jatuh Alfred.
Bruak....!
"Saya sudah bilang jangan sampai kalian buat dia mati. Aku ingin menyiksa mereka selama-lamanya, goblok," pungkas Aldo berbalik arah menopang kedua tangan di pinggul.
"Punya anak buah tolol semua," jelas Aldo kembali mengangkat tangan memerintah mereka agar segera pergi meninggalkannya sendiri.
***
Dirumah sakit.
"Mas, kamu sudah bangun?" ujar Alisa berada di samping menunggu Ray masih berbaring.
"Sayang, ah..." Merasakan perih luka memar hendak duduk.
"Jangan di paksain dulu," jepas Alisa menahan Ray tetap berbaring.
"Aku baik-baik aja." Terduduk di tempat tidur.
"Ray," sapa Fendi datang bersama Fii menghampiri setelah Alisa memberitahukan mereka atas apa yang terjadi.
"Yo." Mengangkat tangan kanan.
"Astaga, abis maling apa kau kok sampai babak belur begini?" sahut Fii mengusap dahi Ray.
"Biasalah, kenakalan remaja."
"Gak ada akal kau ah, orang lagi kena musibah malah di candain," pekik Fendi ke Fii.
"Menghibur dia loh biar gak terlalu merasakan sakit," gumam Fii.
"Siapa yang udah berani buat kau kaya gini, Ray? Siapa? Bilang samaku biar ku kasih pelajaran," lanjut Fendi sedikit kesal.
"Gak kenal pasti aku siapa mereka Fen, tapi aku yakin kalau mereka itu anak buah Aldo."
"Kenapa bisa berfikir kalau yang menyerangmu itu anggota Aldo?" ucap Fendi kembali.
"Sebelum pulang dari dinner, Aku sempat berseteru dengan Aldo. Mungkin dia ingin memberiku pelajaran."
__ADS_1
"Jadi, ini malam kau nginap disini?" tanya Fii.
"Gak, dokter bilang kondisiku hanya luka luar, jadi boleh pulang ketika siuman, sama ini udah di tempel juga tadi," jawab Ray menunjukkan bagian kepala.
"Syukurlah kalau begitu, yaudah biar kami antar kau pulang," sahut Fii.
"Aku tinggal dulu bayar kasir," sahut Fendi berdiri.
"Gak usah, biar aku saja," ujar Ray.
"Iya bang, gak usah," sahut Alisa.
"Biarin aku sesekali jadi orang yang berguna gitu, kita kan udah saudara bagai pinang di belah tiga," jelas Fendi.
"Banyak uang ni?" pekik Ray.
"Uang pesangon masih cukup, tenang aja." Fendi berlalu pergi keluar ruangan.
"Yaudah kalau begitu kita bergegas keluar." Fii menopang membantu Ray berjalan keluar.
Setelah melewati insiden yang terjadi segera bergegas untuk kembali pulang.
Setibanya dirumah.
"Besok kami akan jelasin ke kantor agar kau di beri ijin istirahat," ucap Fendi ketika menopang Ray berjalan masuk ruangan rumah.
"Ya Allah, kenapa kamu luka seperti itu, Nak?" Ibu berjalan menghampiri memegang wajah Ray di ruang tamu.
"Gak apa-apa kok Bu, ada sedikit masalah aja tadi," singkat Ray.
"Beneran kamu gak apa-apa? Lisa, apa yang terjadi pada suamimu?" tanya Ibu kembali menatap Alisa.
"Karena berusaha melindungi ku, Mas Ray jadi begini, Bu."
"Yaudah kalau begitu segera bawa Ray ke kamar untuk beristirahat," lanjut Ibu kembali.
"Iya Bu," jawab bersamaan berjalan ke kamar.
"Kalau begitu kami pamit dulu Ray biar kau langsung istirahat," jelas Fendi ketika membaringkan tubuh Ray di tempat tidur.
"Makasih ya buat kalian udah bantuin," balas Ray.
"Makasih ya bang Fendi, Bang Fii," sahut Alisa.
"Macam sama siapa aja pakai makasih, udah ah kami balik, dah," singkat Fendi melambaikan tangan.
"Istirahat yang cukup, minum obat, jangan begadang," sahut Fii.
"Macam emak-emak udahan ya," sindir Ray.
"Ayok sapi," pekik Fendi.
"Tunggu bentar," jawab Fii berjalan mendekati Ray.
"Kalau kau udah siap, kita balas dia gantian," bisik Fii ingin membalas perlakuan Aldo.
"Balik Ray, Lisa," lanjut Fii berlalu pergi.
"Istirahat ya Mas," ucap Alisa menyelimuti tubuh Ray sembari mencium keningnya.
Keesokan harinya pukul 3 sore terduduk santai di teras rumah di temani Alisa.
Tin..
"Mobil siapa bertamu itu, Mas?" ujar Alisa menatap mobil tersebut.
"Novi, ngapain kemari?" batin Ray mengetahui jika mobil tersebut milik Novi.
***
__ADS_1
Sampai disini dulu kak, jangan lupa fav komen vote atau apalah itu semua namanya yang penting kita lanjut..