
"Oh iya Paman, apa ada hal yang bisa aku lakukan kembali untukmu? Aku ingin menjadi Bos besar sepertimu."
"Kamu yakin ingin mengenal bisnis ini lebih jauh? Apapun resikonya?"
"Iya paman, uang mengatur segalanya bukan?" pekik ku.
"Baik jika kamu mau, barang haram itu sedikit terkendala ketika memasuki beberapa daerah, coba kamu selesaikan masalah tersebut dan ingat, jangan pernah ada kata gagal sedikitpun." Menunjuk kearah salah satu jenis narkoba berdosis tinggi.
"Baik, Paman."
"Satu lagi, kamu bawa beberapa anggota untuk pergi bersamamu. Terus berapapun kamu butuh uang untuk memuluskan jalanmu, sebutkan saja nominal itu padaku," jelas Robi meletakkan kedua kaki di atas meja.
"Laksanakan. Oh iya Paman, tolong selalu rahasiakan dari ibu jika aku bekerjasama dengan paman."
"Aldo, Aldo, kamu itu masih sama polos lucunya seperti dahulu, gak berubah sedikitpun." Tertawa kecil menggelengkan kepala.
"Namanya masih baru bergelut disini, Paman." Menggaruk kepala.
"Iya iya, identitas kamu disini akan terjaga."
"Kalau begitu aku permisi dulu Paman, salam buat Tante dan Risti di rumah."
"Ya ya ya." Mengibaskan tangan menyuruh Aldo segera pergi.
Setelah menutup pintu.
"Hey kalian bertiga, ikut bersamaku dan bawa jas hitam itu," ujar Aldo memberi perintah.
"Siap, Tuan muda."
"Enak bener ternyata jadi bos, cukup menggerakkan jari telunjuk semua urusan beres," batin Aldo.
Berjalan melewati lorong panjang di dampingi beberapa anggota menuju mobil. Memakai jas hitam lengkap kaca mata membuat tingkat bajingan dlaam dirinya kian bertambah.
Kembali ke sisi Ray ketika menyantap hidangan malam bersama.
"Ibu duluan ke kamar ya," ujar Ibu selesai menyantap hidangan.
"Iya, Bu," balas Ray tersenyum.
"Biar Lisa antar ya," sahut Alisa berdiri menuntun Ibu yang masih lemah.
Tak lama setelahnya nada panggilan dari orang tua Ray di kampung masuk.
"Halo Bu, Assalamualaikum."
"Waalaikum'ssalam, tolong sampaikan maaf dari ayah ibu disini karena gak bisa hadir melayat ke tempat mertua kamu ya Nak. Disini ada halangan sedikit jadi gak bisa datang."
"Iya Bu ntar aku sampaikan, maaf juga karena jarang memberi kabar ke Ibu dan ayah di sana."
"Iya gak apa-apa, sudah biasa kalau kamu lupa."
"Jangan dikutuk ya Bu."
"Gak, ntar kalau dikutuk gak ada lagi yang beliin tuperware buat Ibu disini. Yasudah kamu lanjut lagi ya, Assalamualaikum jaga kesehatan kamu di sana."
"Iya Bu, waalaikum'salam," jelas Ray menutup telepon menoleh kearah Fendi yang tersenyum melihatnya.
"Kenapa kau senyum-senyum?" lanjut Ray.
__ADS_1
"Romantis sekali hubungan ibu dengan anak lelakinya ini, jadi pengen punya mertua lucu."
"Ntar lagi kau juga bakal dapat orang tua Erlin, mungkin suka humor."
"Belum ketahuan sih, semoga beda dengan.." ujar Fendi melirik kearah Fii.
"Apa? Mau kena ini?" Mengepal tangan kearah Fendi.
"Gak jadilah, baperan kali anak satu ini, Ray. " Tertawa kecil menatap Ray.
Plak (Pukulan kecil Fii kearah kepala Fendi).
"Kalian berdua bisa temani aku besok?" lanjut Ray mengetuk ketuk meja makan dengan jari.
"Kemana Ray?" sahut Fendi.
"Ada yang ingin aku cari tahu. Dari sekian banyak kejanggalan pembunuhan ayah, pasti masih bisa menemukan sedikit informasi."
"Kemanapun kau pergi, kami akan selalu ikut wahai saudara," jelas Fii.
"Yaudah kalau gitu bentangkan dulu matras disitu, biar baringan kita dibawah," lanjut Ray melirik Fendi bermaksud memerintah.
"Aku batuk," balas Fendi melirik Fii.
"Mentang-mentang paling muda kena suruh terus, ngalah iya ngalah awak," gumam Fii berdiri menyiapkan matras tidur.
"Jangan ngedumel begitu, ilang tampannya loh," cetus Fendi tertawa.
"Jangan kuat-kuat ketawamu, dengar nanti sampai keatas," sahut Fii membentangkan matras tersebut.
"Oh iya, lupa." Fendi menutup mulut berjalan mendekati Fii langsung membaringkan badan.
"Memang anak ini gak ada akalnya," ketus Fii berdiri memangku kedua tangan di pinggul menatap Fendi yang berbaring.
"Nah gini, pengertian langsung tau," sahut Fendi.
"Udah buruan tidur, istirahat kumpulin tenaga buat besok," jelas Ray menutup malam.
Suara adzan pagi kembali berkumandang membangunkan tidur nyenyak mereka. Ray perlahan membuka mata terduduk menoleh kearah Fendi dan Fii.
"Bangun, bangun." Membangunkan Fendi dan Fii yang masih tertidur pulas.
"Em..."
"Buruan bangun terus mandi setelah itu langsung sarapan," lanjut Ray kembali.
"Iya, iya." Fendi beranjak berdiri dengan tubuh sempoyongan.
Ray berjalan menuju kamar tuk segera berbenah diri.
Ceklek.. (Pintu terbuka).
Melihat Alisa sedang melaksanakan sholat subuh, Ray berjalan pelan mengambil handuk langsung menuju kamar mandi.
Tak lama setelah selesai membersihkan diri.
"Sayang, kenapa kamu gak bangunkan tidurku tadi?" ujar Ray mengusap handuk ke kepala.
"Tidur kamu pulas terjaga oleh sang Kuasa, Mas. Aku gak tega membangunkan kamu yang kelelahan seperti itu," balas Alisa.
__ADS_1
"Lain kali, bila itu kewajiban jangan ragu ya sayang." Tersenyum menatap Alisa yang sedang melepas mukenah duduk di ranjang.
" Iya Mas," balas Alisa berjalan menyiapkan baju Ray di lemari.
"Kamu mau pakai yang mana, Mas?"
"Yang mana aja bebas, Sayang."
"Aku letak disini ya, Aku tinggal dulu bantuin bibi nyiapin sarapan buat kamu." Meletakkan pakaian di ranjang.
"Makasih ya." Menghampiri Alisa mencium kening.
Meninggalkan Ray dikamar yang sedang berbenah diri. Tak lama kemudian bergabung menuju ruang makan bawah.
"Fendi dan Fii sudah selesai mandi?" ujar Ray menatap Alisa merapikan dasi.
"Mungkin udah Mas, mereka di kamar belakang, jadi gak begitu tau," jawab Alisa.
"Sini aku bantuin biar rapi," lanjut Alisa merapikan dasi Ray.
"Apa malah lanjut tidur di kamar belakang ya?" gumam Ray kembali.
"Nah, gini lebih cakep," singkat Alisa selesai melayani Ray.
"Ibu mana?" Menoleh kearah meja makan.
"Ibu sudah sarapan kok Mas, begitu selesai langsung kembali beristirahat dikamar."
"Oh." Mengangguk-angguk.
"Ini sarapan kamu, buruan di isi tenaganya biar semangat hadapin hari," ucap Alisa kembali menghidangkan sarapan pagi.
Lagi menyantap hidangan...
"Huuuh, dingin bener," pekik Fendi gabung di meja makan.
"Makan yang banyak, jangan di tahan," sahut Ray.
"Siap Bos."
"Mana Safei?"
"Masih pakai baju, bentar lagi juga nyusul," singkat Fendi menuang nasi ke piring.
"Kelihatan sedang buru-buru, emang pada mau kemana sih, Mas?" sahut Alisa.
"Ada sedikit kerjaan, Sayang."
"Gak lagi merencanakan ingin berbuat hal yang aneh kan Mas?"
"Gak kok, kamu jangan khawatir ya." Tersenyum menatap Alisa.
"Setelah kehilangan ayah, Aku gak ingin kehilangan kamu, Mas," lirih Alisa.
"Sudah jangan mikir yang aneh terus, lagian aku gak punya musuh kok sayang."
"Awas kalau bohong," gerutu Alisa berlalu menuju dapur.
"Amak, udah ketinggalan aja aku bah," cetus Fii menghampiri meja makan.
__ADS_1
***
Sampai disini dulu ya kak, makasih tetap mengikuti kisah ini, gak bisa bilang apa-apa lagi, cuma bisa bilang kita lanjut,.. Eh tapi kalau mau fav komen apalah itu author tetap welcome ya kak, hehehe