
Jalanan yang ramai membuat sekitar area padat seketika membiarkan tragedi malam itu berlalu begitu saja.
(Di Rumah sakit)
Hampir 6 jam lamanya, hingga akhirnya Ray sadarkan diri dari tidur panjang.
"Iish...ahh, berat kali kepala ini," lirih Ray memegang perban di kepala.
"Alisa, sayang kamu dimana, Lisa," ujar Ray kembali panik mengingat tragedi malam berdarah yang ia alami.
Dokter segera menghampiri Ray bersama seorang perawat. Fendi dan Fii juga ikut masuk ke dalam kamar inap Ray, menyusul begitu mengetahui Ray dan Alisa mengalami tabrakan hebat.
"Dok, Alisa baik-baik saja kan? Dia gak apa-apa kan, Dokter?"
"Tenang, tenang dulu jangan panik," jawab Dokter.
Melihat Ray yang ingin lekas berdiri menghampiri Alisa meski keadaannya sendiri cukup parah, Fendi dan Fii mencoba menghentikan. Memegang menahan tubuh Ray sekuat mungkin agar fokus terlebih dahulu dengan luka yang ia alami.
"Ray sabar, Ray sabar tenang dulu," ujar Fendi memegang pundaknya.
"Fendi, Alisa mana? Alisa baik-baik saja kan? Jawab aku dimana Alisa!"
Melihat Ray bercucuran air mata merintihkan Alisa,
Fendi tak sanggup membendung simpati, dia juga berlinang air mata melihat Ray begitu depresi mengkhawatirkan sang kekasih.
"Kenapa ha! Kenapa gak ada yang jawab keadaan Alisa, kenapa!!!!"
"Ray, lebih baik kamu..." sahut Fii seketika berhenti tak melanjutkan perkataanya.
"Jawab!!!" Teriak Ray menatap Fendi.
Ray berbalik menoleh kearah Fii," Jawab! kenapa kalian semua diam ha!"
Ray yang tak mendapatkan jawaban apapun tentang Alisa, emosi akan dirinya kian memuncak menghancurkan seluruh benda yang ada di sekitar dirinya.
__ADS_1
Geprengggg....
Cetar.......
Beruakkk....
"Kenapa kalian semua diam, kenapa. Katakan padaku kalau Alisa baik-baik saja," lirih Ray mengisak tangis terduduk bersandar di ujung sudut ruangan.
"Suster," ujar Dokter mengangguk memberi isyarat.
"Iya, Dok."
Suster mengerti apa yang harus ia lakukan saat itu, dengan sigap menghampiri Ray menyuntikan obat penenang agar Ray tertidur untuk beberapa saat.
"Sebaiknya kita rahasiakan dulu semua ini darinya, agar kondisi pasien cepat membaik," ujar dokter kepada Fendi dan Fii.
Disisi lain ruangan rawat Alisa,...
"Kamu sudah kabarin orang tua Alisa kan, Mia?" ucap Erlin duduk berdua dengan Mia menjaga Alisa.
"Kenapa ya takdir bisa begitu kejam pada Alisa? Baru saja ia merasakan bahagia karena mendapat ijin orang tuanya untuk berada dekat disisi Ray, tapi malah jadi begini," lanjut Mia kembali menyentuh lembut pipi Alisa.
"Gak baik menyalahkan takdir seperti itu, Mia. Ini semua terjadi karena memang sudah takdirnya begini," jelas Erlin menoleh ke arah Alisa.
"Tapi takdirnya begitu berat, Erlin. Coba kamu bayangin jika kamu yang berada di posisi Lisa saat ini."
"Sudah sudah, lebih baik kita doakan yang terbaik buat Alisa," jelas Erlin.
"Kamu masih ingat yang dokter katakan tentang Alisa bukan?" lanjut Mia menitihkan air mata.
Mendengar perkataan Mia tersebut, Erlin diam tak melanjutkan pembicaraan sembari mengelus punggung belakang Mia.
Tiba-tiba,...
"Aldo ...."
__ADS_1
"Aldo...."
Suara lirih kecil Alisa yang belum sadarkan diri terdengar di telinga Mia dan Erlin yang saat itu masih berada di samping tempat tidurnya.
Sontak Mia dan Erlin kaget mendengar nama Itu,
karena yang mereka tau kekasih Alisa hanyalah Ray.
"Erlin," lirih Mia melirik Erlin kembali menatap Alisa menunjukan ekspresi bingung.
"Udah jangan mikir yang bukan-bukan."
Sebelumnya Dokter telah memberi tahu Mia dan Erlin. Jika Alisa siuman dari istirahat tidurnya,
dirinya akan mengalami keterbelakangan pikiran. Penyakit yang Lisa idap tersebut bisa membuat pikirannya terjebak dimasa lalu hanya mengingat beberapa orang saja. Dan kemungkinan terburuknya bisa melupakan orang yang sangat penting dalam hidupnya walau itu orang tua sendiri.
"Aldo siapa Mia?" lanjut Erlin perlahan melihat ke arah Mia setelah melihat Alisa kembali diam.
"Aku juga gak begitu tau, Er."
Tok tok tok...
Cekrek.....
Suara pintu ruang inap Alisa terbuka, seorang lelaki masuk mendekati Alisa yang masih terbaring tak sadarkan diri.
"Alisa, Lisa ini aku Aldo, bangun Lisa bangun. Kamu kenapa belum sadarkan diri juga dan kenapa bisa seperti ini?" ujar Aldo memegang tangan Alisa.
Mia dan Erlin terdiam tercengang mendapati pengakuan seorang lelaki menyebutkan diri bahwa ia adalah Aldo.
***
Sampai di sini dulu ya para fans ceritanya. Oh iya lupa belum punya fans, hehehehe...
Ayo dong jangan lupa di fav biar tau kalau udah update bab romeo kak. Kita rehat dulu ya kak, berhubung cuaca enak buat tidur nanti kita lanjutkan kembali. Makasih.......
__ADS_1