Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 52 (Takdir Tuhan Takdir Alam)


__ADS_3

Dilain sisi Yuli yang tak menyendari bahwa dua orabg pemuda mengikuti langkahnya.


"Akhirnya selesai juga, moga aja kiriman paket buat besok berjalan lancar."


Tak perlu menunggu waktu yang lama, kedua pria tersebut mendekap sisi kanan kiri Yuli.


"Jangan teriak, sedikit saja kamu bicara pisau ini akan menembus mendinginkan perutmu," bisik salah satu seorang pria menempelkan pisau begitu dekat kearah pinggul Yuli.


Mendapati situasi bahaya akan dirinya, Yuli terdiam tak ingin melakukan satu kesalahan fatal yang mungkin merenggut nyawanya.


"Terus jalan seperti biasa jangan bersikap gugup dan masuk dalam mobil di ujung sana. Jika tidak melawan, kamu akan selamat," kecam kembali pemuda tersebut.


Ketakutan yang begitu dalam membuat Yuli mengikuti semua perintah. Ketika berada di dalam mobil...,


"Siapa kalian? Kenapa menculikku? Jangan bermain main dengan ku!" ujar Yuli memberanikan diri.


"Diam kamu, sebaiknya jangan berkata apapun. Jika ingin selamat lebih baik diam!" Bentak salah satu dari kedua pemuda yang berada di sebelah Yuli.


"Jalan," lanjutnya menyuruh sang rekan menjalankan mobil.


Dengan cepat Yuli mengambil ponsel di dalam tas.


"Sini ponsel kamu," pekik pemuda tersebut merampas secara paksa ponsel Yuli.


"Tolong lepasin aku, tolong," ujar Yuli mulai panik tak beraturan.


Plakkkk.......(Tamparan sedikit keras).


"Diam, jangan berisik!" Menempelkan kembali pisau tajam ke arah tubuh Yuli.


Disisi lain Ray yang penasaran akan hubungan Yuli dengan kedua pemuda yang baru saja Aldo temui tersebut, tanpa ragu terus mengikuti hingga akhirnya Ray mengerti jika Yuli adalah target korban penculikkan.


"Yuli di culik?" ketus Ray berlari menuju mobilnya langsung mengejar arah mobil kedua pemuda tersebut sembari menelpon darurat polisi.


"Halo pak polisi, ada kasus penculikan di jalan merdeka menuju sudirman dengan plat kendaraan BK 1001 WB."


"Siap Pak, terima kasih atas laporannya. Kami akan segera menuju lokasi tersebut."


Setelah memberitahukan polisi atas kejadian tersebut, Ray terus mengikuti penculikan itu hingga akhirnya mobil tersebut memasuki area sunyi jalanan dan berhenti di tepat di sebuah gudang kosong.


Meberi jarak, Ray keluar dari mobilnya. Mengintai dari kejauhan, mengirim update lokasi perhentian kasus tersebut ke polisi.


"Tolong lepasin aku, tolong," teriak Yuli terlihat sangat ketakutan.


"Teriak saja sepuas hatimu!" ujar penculik kembali.


"Gimana bro? Boleh juga ni cewek bodynya, cicipin kagak?" sambung salah satu bermaksud melakukan hal keji terhadap Yuli.


"Jangan, Aku mohon jangan lakuin itu padaku," pinta Yuli merintih menangis.

__ADS_1


Kedua pemuda tersebut menyeret paksa Yuli berjalan memasuii dalam gudang dan Ray tetap mengintai tanpa mereka sadari.


Setibanya di area dalam gedung, dengan sigap mereka mengikat tangan serta kaki Yuli di kursi yang sudah mereka siapkan dengan matang, hanya membiarkan mulutnya terbuka. Tangisannya yang tak berarti, Yuli memberanikan diri dalam setiap perkataan.


"Siapa yang menyuruh kalian untuk menculikku? Aku salah apa?"


"Kamu tidak perlu tau manis," jawab salah satu pemuda menyentuh dagu Yuli.


"Jangan sentuh aku, cih," pekik Yuli meludahi wajah pemuda tersebut.


Plaaaak......


"Aw..." rintih Yuli mendapatkan tamparan.


"Dasar wanita kurang ajar kamu, berani sekali meludahiku. Kamu tidak sadar posisi kamu saat ini ha? Kamu liat baik-baik," balas pemuda tersebut mencekam kedua sisi pipi Yuli.


"Wanita seperti kamu harus di beri pelajaran," ujarnya kembali langsung merobek sisi baju Yuli sebelah kiri.


"Jangan, tolong jangan lakukan itu, Aku mohon jangan," rintih Yuli.


Cukup jelas lekukkan sisi kiri tubuh Yuli terlihat oleh kedua pemuda tersebut. Dengan cepat membangkitkan birahi keduanya.


"Teryata bagus sekali kulitmu," sahutnya mulai meraba Yuli mencumbu area pundak.


Meski Yuli merintih terus menangis meminta ampun, mereka tetap mengabaikan permohonan tersebut dan perlahan mulai melepas kancing baju yang Yuli kenakan.


Ketika hampir berhasil membuka seluruh pakaian Yuli yang sedikit sobek berantakan,.


Kedua pemuda tersebut yang melihat Ray muncul tiba-tiba langsung bersikap siaga mengeluarkan pisau.


"Siapa kamu, jangan ikut campur atau kami akan membunuhmu?" balas salah satu dari mereka.


"Bunuh saja, Ibu ku di rumah pasti bangga kalau aku mati dalam keadaan benar," singkat Ray mengeluarkan rokok di saku memantik korek api kemudian menghisapnya.


Ray yang bersikap menantang kedua pemuda tersebut bukan karena ingin terlihat seperti jagoan, melainkan hanya trik mengulur waktu agar bantuan polisi segera tiba tepat pada waktunya


"Gila aja, kalau di film-film pasti aku yang menang ini lawan mereka. Tapi masalahnya ini bukan di film, kalau di sini duel pasti terkapar beserak aku. Malah mereka bawa pisau lagi," batin Ray terus menghisap rokok.


"Gede juga nyalimu barusan, kita habisin saja lelaki sok hebat ini." Perlahan mendekati Ray penuh hati-hati.


"Sabar dulu dong. Gak liat apa aku baru hidupin rokok? Tenang aja, disini cuma kita dan gak ada siapa-siapa lagi," balas Ray terus mengulur waktu.


"Lama kali polisi itu sampai sini ah, keburu mati aku," batin Ray kembali.


"Ah banyak bicara, sikat!" Berlari mendekat langsung memulai perkelahian.


Bruuk...


Bug...

__ADS_1


Bag...


Big....


Bog...


"Untung masih hafal jurus ayam menciduk cacing aku," ujar Ray yabg berhasil menumbangkan satu pemuda tercengir melihatnya terkapar.


Bag...


Bugg.....


"Aduh bajingan," pekik Ray terkapar mendapat balasan pukulan keras dari belakang.


"Rasain tuh apem gua," balas pemuda tersebut puas mendaratkan pukulan.


"Amjir gantian dong jangan main keroyokan," cetus Ray mengelus kepala.


"Kita sedang duel, bukan main catur," sambung kembali pemuda tersebut langsung mengarahkan pisau ke tubuh Ray berniat menusuk.


Ray berhasil menghindari pisau tersebut langsung membalas menendang keras wajah pemuda dengan sepatu boothnya.


Bughggg.....


"Rasain tuh sepatu dewa gua," pekik Ray menertawakan kemudian bangkit berdiri.


Hu....ha...hu ha....hu ...ha....(Menghindari tebasan pisau mengarah ke leher Ray).


"Jangan bergerak!" Rombongan polisi yang baru tiba langsung menodongkan pistol menghilangkan fokus Ray berpaling arah.


Jlebbbbb... (Pisau menusuk perut).


"Effpppp," lirih Ray melihat tubuhnya tertusuk belati penuh darah bercucuran.


Door......


Door.....


Dua tembakan polisi mengarah tepat ke arah kedua penculik langsung melumpuhkan keduanya. Polisi


segera berlari menghampiri dan memborgol pelaku, sedang Ray terjatuh berbaring di lantai.


"Mas Ray, Mas!" Teriak Yuli menangis melihat Ray terjatuh bersimbah darah.


Perlahan Ray menutup mata tersenyum melihat Yuli akhirnya selamat.


"Terima kasih Tuhan, semoga aku masuk syurga walau aku seorang pendosa," batinya pasrah.


***

__ADS_1


Sampai di sini dulu kak, jangan lupa fav komen apalah itu semuanya untuk terus dukung karya ini kakak, makasih.


Lanjut... Slebew.


__ADS_2