Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 104


__ADS_3

"Halo, ini aku, Fendi."


"Kau rupanya, kirain siapa. Kenapa itu?"


"Ini hari kami berangkat kerja sama orang Mia, Erlin. Kau gak usah pala jemput ke kos."


"Tumben, memangnya mau ada acara apa?"


"Sekalian nemenin Mia mampir mau cari gaun."


"Yaudah hati-hati kalian dijalan," singkat Ray menutup panggilan.


"Siapa Mas?" ucap Alisa menemani di meja makan.


"Bukan siapa-siapa, cuma Fendi ganti nomor. Oh iya berangkat dulu ya sayang."


"Iya mas, hati-hati."


"Bu, berangkat."


"Kak, Tante," sahut Rama mengangguk.


Setibanya dikantor, rutinitas Ray masih sama seperti biasa, berbeda dengan Rama yang menjalani pengalaman baru di sekolah.


"Aku bersumpah tidak akan menjadi lelaki yang lugu dan cengeng lagi," batin Rama berdiri menatap gerbang sekolah setelah Ray pergi melanjutkan perjalanan kembali.


"Jadi lelaki paling tampan adalah moto hidupku yang utama. Orang ganteng bukan manusia lagi namanya, manusia biasa saja bisa menjadi dewa, apalagi orang ganteng," lanjut Rama merapikan rambut.


Rama kembali berjalan memasuki halaman sekolah. Meski gugup, mencoba tenang saat melewati sekumpulan wanita yang sedang bermain bola tenis mengenakan rok pendek serta baju ketat teramat tipis.


"Anjir, ini baru namanya sekolah," pekik Rama menghentikan langkah melihat kumpulan wanita bermain.


"Hoi, lagi apa kamu!" seru salah seorang wanita berlarian menuju ke arah Rama.


"Gawat, pasti dikira lagi ngintip," lanjut Rama memicingkan mata.


"Loh, kok?" pekik Rama ketika sekumpulan wanita tersebut melewatinya yang berdiam diri langsung menoleh kebelakang.


"Coba mana sini ponselmu!" ucap salah satu dari wanita tersebut.


"Kalian salah paham, Aku gak sedang mengambil gambar yang aneh dari kalian. Aku hanya sedang mengirim pesan," jelas seorang anak lelaki berkacamata.


"BOHONG! Mana mungkin mengirim pesan dengan cara memegang ponsel seperti itu."


"Kalian salah paham," jawab lelaki tersebut.


"Makanya, mana sini ponsel kamu!" lanjut sekumpulan wanita membentak.

__ADS_1


"Dibandingkan orang bego ini yang main asal mengeluarkan ponselnya begitu saja, dosaku pasti jauh lebih besar," batin Rama berbalik berjalan kembali dengan tenang.


"Kamu ini Rama ya?" ujar salah seorang wanita menghentikan langkah kakinya.


"Iya."


"Wah, bener dia murid pindahan baru yang guru bilang kemarin akan masuk hari ini." Berbicara pada temannya.


"Ah, jangan-jangan kamu tertarik sama tenis ya? Mau main bareng?" tambahnya kembali menyodorkan raket.


"Eh, bukan."


"Apa benar rumor kalau di sekolah yang dulu nilai kamu selalu dapat seratus?"


Perlahan keenam wanita tersebut membuat Rama berada dalam lingkaran surga.


"Kemarin guru juga bilang bahwa kamu suka bermain sepak bola. Keren banget kamu."


"Apa aku bilang, respon wanita ke orqng ganteng mah pasti beda," batin Rama tersenyum ceria.


"kalian terlalu memujiku. Justru lihat kalian serius banget latihan di pagi hari, Aku malah jadi kagum," jelas Rama kembali tersenyum sembari merapikan rambut yang menutupi dahinya.


"Selamat latihan kembali ya," lanjut Rama berjalan meninggalkan mereka.


"Kerennya, jadi suka ih." Suara kecil terdengar dari mereka.


"Kak Alvin mau menyatakan cinta? Ke putri sadis?"


"Kayaknya kali ini bakal luluh. Dia boleh saja sadis, tapi kak Alvin orangnya benar-benar keren."


Terdengar percakapan-percakapan saling bersahut-sahutan di kumpulan siswa siswi tersebut.


"Ah itu dia!" ucap seorang siswa menunjuk ke atas atap bangunan sekolah.


"Akhirnya kau muncul juga Cinderella manis ku yang pemalu. Jangan sungkan, Aku sudah terbiasa di saksikan banyak orang. Tolong kasih jawaban disini sekarang juga," ujar seorang pemuda berdiri di tengah keramaian merentangkan tangan mendongak ke atap bangunan.


"Kebetulan kalau begitu." Suara wanita terdengar menggunakan mic cukup keras dari atas.


"Ada apa ini?" batin Rama bingung mendekati kerumunan tersebut.


"Teruntuk kak Alvin dari kelas 3 B, terimakasih sudah menawariku menjadi pacarmu," jelas wanita tersebut.


"Menembak di depan umum?" batin Rama kembali.


"Karena ini, Aku meminta pelayan setiaku untuk memeriksa latar belakangmu," lanjut wanita tersebut dengan mic di genggamannya bersiap membaca secuil lembaran kertas.


"Eh?" kejut Alvin.

__ADS_1


"Belum lama ini kamu membeli sebuah buku di toko dekat stadiun bola kaki. Astaga, buku cara membesarkan kelamin lelaki? Selalu kamu sembunyikan di balik buku pelajaran sekolah?" pekik wanita tersebut membaca selembar kertas di tangannya.


"Kelamin lelaki?" cetus para siswa terlihat cukup heran.


"Selain itu, Aku rasa kebiasaan suka memandangi area dada adik kelasmu bukanlah hobi yang positif. Belum lagi ketika jam pelajaran usai, diam-diam pergi ke warnet membuka situs dewasa," tambah wanita tersebut masih membaca isi teks kertas.


Sekumpulan siswa-siswi yang berkumpul dihalaman sekolah segera memberi jarak menjauhi Alvin.


"Ehh, tunggu." Alvin menoleh kebelakang.


"Itu begini." Menoleh sisi kanan.


"Kalian salah paham." Menoleh sisi kiri.


"Satu lagi, kamu juga mempunyai sehelai rambut yang menjulur panjang dari tahi lalatmu di dada," jelas kembali wanita tersebut.


"Dengan ini, maka akan ku beri kamu nama panggilan." Menghentikan laju bicara, menoleh ke pengawal yang berada di sampingnya bersiap membentangkan baliho panjang.


"TOMPEL." Tulisan bentangan tersebut.


"Anjir, sadis bener, tidak ada ampun," pekik Rama menelan ludah melihat Avin terjatuh tertunduk lemah.


Seketika keramaian tersebut bubar, kembali Rama berjalan menuju ruang sekolah di lantai 2.


"Sekolah ini horor, horor banget," gumam Rama menaiki anak tangga.


"Sebentar, aku tidak boleh gentar hanya karena masalah ini." Mengepal tangan sejajar dada.


"Perjuanganku baru akan di mul..."


Wanita sadis tersebut menghentikan pikiran Rama ketika berselisih. Tatapan sadisnya menatap tajam pandangan Rama, segera memalingkan pandangan masuk ke dalam kelas.


Ketika selesai memperkenalkan diri, Rama langsung mengikuti pelajaran pertama. Saat jam istirahat tiba, Ia hanya termenung di dalam kelas hingga tak sadar diri kebablasan tidur.


"Ah, gawat. Aku kecolongan." Terkejut bangun mendapati ruangan sekolah telah penuh siswa dan seorang wanita berdada besar berdiri di hadapannya.


"Siang Rama, sepertinya tidurmu pulas banget," ujar wanita tersebut.


"Melly si ketua kelas rupanya," batin Rama mendongak melihat wajah Melly.


"Berarti kamu sudah bisa beradaptasi dengan kelas ini dong. Sebagai ketua kelas, Aku jadi lega melihatnya," tambah Melly kembali tersenyum.


"Hehe..hehe...hehe." Menyengirkan senyuman.


"Jadi, kalau orang ganteng dimaafkan meski tidur sampai keluar iler nih?" batin Rama nyengir memejamkan mata.


***

__ADS_1


Sampai sini dulu kak, makasih tetap setia ikutin ray dan lainnya. Untuk yang gift, like, komen jangan semangatya, tetaplah putus asa. Kita lanjut kalau cuaca hari ini mendukung kak, kalian biasa membaca.


__ADS_2