Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 32


__ADS_3

"Terus aku harus lakuin apa Mia, kamu tau sendiri kan semua tentang ku udah gak ada lagi di dalam kehidupan Alisa," lanjut Ray memasrahkan diri.


"Jadi kamu gak akan melakukan apa-apa demi Alisa, Ray?" kecam Mia dengan wajah sedikit geram menatap.


"Mau bagaimana lagi, Ini udah jalan takdir yang harus ku jalani. Paling besok cuma tidur nonton anime doang di kamar," singkat Ray.


Ray berbohong atas apa yang telah ia ucapkan kepada Mia. Ray hanya tidak tau harus berkata dan berbuat apa dengan kabar yang Mia sampaikan padanya.


Mia bangkit berdiri terlihat kesal menatap Ray, tanpa kata...


Plakkkkk....... (Tamparan mia)


"Nyesel aku beritahu kamu, aku belajar banyak hal tentang perasaan dari kalian berdua, tapi apa yang terjadi sekarang? Seperti ini sikap kamu ketika mengetahui Alisa seorang wanita yang sangat mencintaimu akan bertunangan dengan pria lain?"


"Mia sabar," sahut Fii berdiri menenangkan.


"Ternyata hanya seorang lelaki pengecut dan gak punya perasaan. Jangan pernah menyesal dengan apa yang baru kamu ucapkan itu," ujar Mia pergi meninggalkan Ray yang masih menunduk memegang pipi.


Sebuah kata yang cukup keras dari Mia itu lebih keras dari tamparannya pada Ray.


"Yang barusan Mia bilang itu ada benarnya Ray, kenapa kamu jadi menyerah begini?" Fendi memegang pundak Ray.


"Mana Ray yang dulu, Ray yang selalu optimis bisa mendapatkan apapun yang ia mau?" sahut Fii.


"Udah ah jangan di bahas, cabut yuk, ngantuk aku sakit kepala mau istirahat," singkat Ray langsung berdiri.


Keesokan hari, Aldo telah berhias diri dikamar di temani sang bunda.


"Gimana Ma, anak laki mama ini sudah keren belum?"

__ADS_1


"Tampannya anak mama ini, Almarhum papa kamu pasti bangga melihat anak lelakinya setampan ini."


"Ayo Ma udah siap Aldo ini, kita berangkat."


Aldo beserta rombongan keluarga berangkat menuju hotel yang sudah di tentukan untuk melangsungkan pertunangan.


Sedang Ray masih berdiam diri di kamar termenung.


"Ahrggh, Aku harus hadir ke sana. Jika tidak ada aku, Aldo pasti mengira aku telah menyerah mempertahankan Alisa. Ya, aku harus datang, aku pasti sanggup menahan perasaanku."


Sementara itu, keluarga Alisa yang sudah sampai duluan di gedung hotel, sedikit sibuk melakukan persiapan acara.


Di dalam ruang kamar, Ibunda menemani putrinya berhias diri.


"Kamu yakin dengan keputusan ini?" ucap ibu memegang pundak Alisa.


"Aku gak begitu tau apa yang harus aku yakini, Bu. Mungkin ini sudah jalanku. lagian ini kan hanya pertunangan, Bu."


"Iya, iya, sudah cantik kan akunya, Bu?"


Ibu Alisa yang mengetahui hubungannya dengan Ray sebelumnya, sedikit bersedih jika mengingat perasaan sang putri kepada Ray dahulu. Wajar saja, sebab perasaan Alisa tentang Ray selalu ia bicarakan kepada sang Ibu.


"Kamu cantik kok, putri kesayangan Ibu kan paling cantik," balas ibunda tersenyum melihat Alisa.


Mia dan Erlin tiba di acara itu, bersamaan dengan Ray, Fendi juga Fii.


"Masih punya nyali kamu datang?" ketus Mia sinis menatap Ray.


"Mia, kok gitu ngomongnya?" sahut Erlin.

__ADS_1


"Maaf untuk yang kemarin, sekarang aku tau perasaanmu tentang apa yang aku alami dengan Alisa."


"Sudah, jangan pada ribut begini," gumam Fii.


Rombongan keluarga Aldo akhirnya sampai, berjalan masuk dan duduk di depan sembari menunggu Alisa keluar dari ruang hiasnya.


"Itu Lisa udah keluar Mi," ucap Erlin menunjuk.


Ray menoleh ke arah Alisa, melihatnya begitu cantik seperti putri mengenakan gaun putih yang indah lengkap dengan perhiasan di kerudung membalut kepala.


Ray terbengong melihatnya menghampiri Aldo dari sedikit kejauhan. Dengan nafas mulai sedikit tidak teratur, ia tetap tegar melihatnya.


Mengetahui perasaan Ray yang begitu remuk, Fendi dan Fii merangkul menenangkan dirinya yang amat gelisah.


Saat pertukaran cincin manis itu hendak masuk ke jari Alisa, ia menoleh melihat Ray dari sedikit kejauhan dengan berlinang air mata. Dalam batin Ray ia menebak antara senang dan sedih sedang bertarung di dalam hati Alisa saat itu.


"Kamu terlalu bahagia ya sayang, sampai air mata kamu keluar seperti ini," ujar Aldo memegang wajah Alisa yang menoleh ke arah Ray.


"Hem, Apa mas? Maaf tadi pandangan ku ke mana-mana."


"Iya gak apa-apa kok sayang."


Pada akhirnya Ray memutuskan berbalik arah menuju pintu keluar meninggalkan acara tersebut.


Awalnya ia mengira sanggup menyaksikan pertunangan itu, namun ternyata ia salah tentang seberapa besar perasaan sayang yang ia miliki terhadap Alisa.


Acara yang begitu menyenangkan, juga menjadi acara yang amat memilukan bagi beberapa orang di dalamnya.


Aldo dan Alisa kini resmi bertunangan.

__ADS_1


***


Sampai di sini dulu kak, bakal tetep lanjut. Ikutin terus ya, makasih.


__ADS_2