Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 61


__ADS_3

Setelah selesai melakukan acara menghubungkan dua hati yang berbeda menjadi satu tujuan hidup,


Ray dan Alisa kembali ke kota untuk membangun keluarga kecil di sana.


Pergi meninggalkan kedua orang tua, berpisah dari orang tua tersebut bukanlah hal yang menyenangkan. Namun sebagai anak lelaki, Ray cukup paham apa yang harusnya ia lakukan.


"Jaga diri kalian baik-baik di sana, untukmu sebagai kepala keluarga, lindungi istrimu dari segala macam bahaya, sayangi dia sebagaimana kamu menyayangi Ibu," ujar Ayah menasehati Ray.


"Dan untuk kamu yang kelak kan menjadi Ibu dari umat manusia, jadilah tiang yang kokoh demi membentuk karakter suamimu. Karena apa yang akan kamu lakukan nanti semua itu demi keluarga kecilmu. Harus kamu ingat bahwa, kamu adalah pendamping abadinya," sahut Ibu memeluk Ray juga Alisa.


Menyalim kedua tangan orang tua tuk meminta restu menjalani hidup yang baru. Air mata bahagia mengiringi kepergian mereka saat itu.


"Tidak banyak hal yang Ayah bisa katakan pada kalian berdua, hanya saja ketika masalah datang melanda bertubi-tubi ingatlah satu hal, suami dan istri harus tetap saling menggenggam dan melengkapi agar masalah mampu terlewati," lanjut Ayah kembali memeluk Ray.


Rama perlahan menghampiri untuk mengatakan sesuatu.


"Ingat Bang, jangan nakal lagi, masalah kisah cintamu biar aku yang teruskan. Demi menggapai seluruh hati wanita, Aku rela jatuh bangun untuk sebuah tujuan mulia," bisiknya lembut.


"Halah, sekolah yang bener," balas Ray mengelus kepala Rama.


"Bang minta duit, kan kalau abang udah pergi ke kota aku gak bisa minta lagi," lanjutnya kembali.


"Em, ini." Mengambil lembaran uang di saku.


"Oke mantap."


Melanjutkan perjalanan kembali menuju stasiun kereta yang tak begitu jauh dari rumah.


Ketika hendak menaiki kereta, Ray teringat perpisahannya dulu dengan Alisa di atas kereta yang sama. Sekarang berbeda, Ray berdiri menjaga Alisa tetap menggenggam erat tangannya.


Lambaian tangan keluarga perlahan menjauh semakin tak terlihat. Ray serta Alisa kembali ke kursi yang telah di tentukan.


"Bulan madu kemana ya yang cuaca dingin gitu biar nambah terus," bisik ke Alisa.


"Ih Mas, malu tau," jawabnya mencubit pinggul.


"Kenapa malu? Baik secara hukum dan agama kita resmi loh Bunda," balas Ray menjahili.


"Tuh kan makin kumat, sejak kapan kamu panggil aku bunda, Mas?"


"Sejak hatimu menetapkan pilihan untuk memasrahkan hidup mati padaku, serta mengabdikan diri menjadi pendamping selamanya," balas Ray menatap Alisa.


Untuk sesaat mereka saling terdiam menatap begitu dekat tanpa berkata sedikit pun.


"Kacang mas kacang, minumannya mbak, Mas," ujar pedagang asongan.

__ADS_1


"Momennya lagi romantis ini Bang, aduh. Scene begini susah lo carinya. Padahal udah kayak di film film Romance," ucap Ray menoleh menatap abang pedagang.


"Ya maaf atuh Mas, sok di lanjut lagi Mas acara mesra-mesranya."


"Boleh deh kasih minuman seger dua ya."


"Makasih Mas, langgeng terus ya pengantin baru," jawabnya berlalu pergi.


Alisa tertawa kecil melihat kejadian itu, menahan tawanya dengan cara memukul mencubit.


"Tingkah kamu itu Mas, kayak di film-film segala lagi bilangnya."


"Yakan liat sendiri tadi, udah pas saling mesra terus menatap diam, eh malah si abangnya nongol pakai sponsor kacang lagi." Membaringkan badan menatap lurus pandangan.


"Udah ah jangan ngambek jangan merajuk," balas Alisa perlahan mendekatkan jarak.


Alisa memeluk dada Ray sembari memejamkan kedua matanya, dengan cepat Ray merangkul agar tetap terjaga dalam hangat pelukannya.


Sebelumnya Fendi, Fii, Mia dan Erlin tak mengetahui jika Ray sudah menikahi Alisa. Mereka hanya mengetahui jika Alisa mengejar Ray untuk ikut ke kampung halaman.


"Tolong jemput aku pukul 5 sore di stasiun kereta biasa ya bang Fendi ganteng." Pesan singkat Ray ke Fendi memberitahukan dirinya bahwa Ray telah kembali.


Kembali pulang terlebih dahulu sebelum dirinya, Ayah serta ibu Alisa telah mempersiapkan segala sesuatu untuk mengadakan resepsi di kediaman mereka berada.


Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya tiba di stasiun tujuan.


"Em, sudah sampai ya, kenapa gak dari tadi sebelum sampai kamu bangunin sayang?"


"Kamu tidur pulas tadi, Aku gak tega membangunkanmu lebih awal."


Beranjak mengambil barang menuruni gerbong stasiun kereta.


"Ah, akhirnya sampai kembali di sini. Oh iya sayang, kamu masih ingat gak, di sana itu kamu berlari seperti adegan film romantis," ujar Ray menunjuk ke suatu arah menatap Alisa.


"Udah ah mas jangan di bahas, malu aku tuh ih."


"Rahul!" Teriak Fendi dari kejauhan berlari menghampiri bersama Fii.


Bruggg (Dekapan pelukan sahabat).


"F-f-end-ii." Suara tercekik.


"Sori sori, seneng kali aku Ray kau kembali soalnya."


Ha...hu..ha...hu. (Hela nafas lega).

__ADS_1


"Kan aku pernah bilang pasti kembali."


"Tunggu dulu, ini telapak tangan Alisa kok pakai inai hiasan pengantin? Kau juga Ray," sahut Fii bingung melihat ke arah tangan tersebut.


"Jangan jangan, wah wah, bahaya ni bahaya, gak teman ini namanya," lanjut Fii kembali.


"Tenang tenang, Aku bisa jelasin."


"Gak, gak ada yang perlu di jelasin Ray, cukup tau aja kalau seperti ini ceritanya," jawab Fii.


"Sabar dulu, biar Ray menjelaskan Fii," sahut Fendi.


"Gak bisa Fen, masak mereka menikah bisa sanggup gak memberitahukan kita. Berarti kita kan gak di anggap selama ini," jelas Fii kembali.


"Oke, Aku ngaku aku salah. Karena salah aku akan traktir kalian berdua makan dimana aja yang kalian mau," balas Ray merentangkan tangan.


"Nah gini baru cocok," singkat Fii tersenyum menatap Fendi.


"Oh baru paham aku, kok gak dari tadi lah kau kode aku, Safi'i," sahut Fendi.


Berjalan bersama menuju mobil yang telah mereka sediakan untuk menjemput.


"Belalang tempur, lama tak berjumpa. Sehat selalu kan?" ujar Ray mengusap mobil kendaraan kantor.


"Udah lama gak melepas rindu kan? Nih kuncinya," sahut Fendi melemparkan kunci mobil ke pada Ray.


Bergegas membukakan pintu Alisa, berlalu memasuki ruang kemudi.


"Masih ingat jalan kota ini gak pak supir?" sahut Fii yang berada di bangku belakang.


"Aman itu, pegangan yang kuat sama Fendi biar gak jatuh. Kalau jatuh malah di sangka orang buang sampah sembarangan."


"Memang lah ini, udah jadi suami tapi ada aja kelakuannya," sahut Alisa mencubit.


"Cie, so sweet bener, sini peluk sini peluk," ujar Fendi berpelukan dengan Fii.


"Makanya buruan nikahin Mia sama Erlin juga. Enak loh tidur ada yang meluk," cetus Ray.


"Iya lah iya. Langkah lord memang selangkah lebih maju," pekik Fendi.


"Pucat kali mukamu Ray? Kecapean bongkar kau ini kan?" jahil Fii.


"Iya capek bongkar, bongkar pelaminan."


Hahaha, (Gelak tawa Fendi dan Fii bersaut sautan).

__ADS_1


***


Sampai di sini dulu kak, makasih tetap membaca kisah ini. Lanjut kak, eh jangan lupa Fav komen apalah itu semua namanya bila suka kisah ini kak, lanjut...


__ADS_2