
Mendengar lirih sang ayah yang begitu menginginkan kehadiran cucu dari seorang putri tercinta, Novi tak berkata sedikitpun. Dengan wajah sendu ia menoleh menatap Ray yang berdiri tepat di samping Deny.
Ray cukup mengetahui dengan jelas maksud tatapan darinya. Meski mengetahuinya, Ray tetap takkan pernah berniat merubah keputusannya untuk mengkhianati Alisa.
"Ayah, sebaiknya jangan berfikir terlalu berat dahulu," ujar Ibu Novi mendekati mengelus pundak Deny.
"Ayah, Mama, Novi permisi sebentar," lanjut Novi berdiri mendekati menarik lembut tangan Ray untuk segera ikut keluar bersamanya.
"Kenapa terburu-buru seperti ini?" pekik Ray berjalan mengikutinya.
Setelah keluar dari ruang rawat Deny, berjalan menuju ruang tunggu.
"Maaf Non," salam Tomi menghentikan langkah mereka.
"Kenapa?" sahut Novi.
"Saya ijin permisi untuk menjenguk teman saya yang sedang kritis di suatu tempat," lanjut Tomi menunduk.
"Yasudah."
"Makasih, Non."
Melanjutkan berjalan kembali, Novi melepaskan genggaman berbalik menatap Ray ketika masuk di ruangan tunggu.
"Apa yang harus ku lakukan agar bisa segera menikah denganmu!" ujar Novi menatap cukup serius.
"Kenapa menanyakan sesuatu yang kamu sendiri tau jawabannya jika kita gak mungkin bisa dan gakkan pernah mungkin bersama?"
"Aku melakukan ini karena aku gak ingin melihat kondisi ayahku semakin memburuk," jelas Novi kembali.
"Aku gak akan mungkin mengkhianati Alisa dan meninggalkannya, Novi."
"Kalau kamu tidak bisa meninggalkannya, Aku yang akan datang meminta ijin agar kamu menikah denganku."
"Kamu sudah gila? Itu gak mungkin, Novi," singkat Ray tangan kiri di pinggul tangan kanan meremas wajah memahami begitu jauh dirinya terlibat masalah.
"Apa sih yang gak mungkin? Kita hanya perlu menikah secara biasa dan kamu tetap bisa berdampingan dengan Alisa."
"Terus kamu pikir semua masalah akan selesai?Menikah bukan seperti mainan yang kamu bisa bayangin semudah itu."
"Jika kamu gak bisa menikah denganku, Aku pastikan seumur hidup kamu akan menyesal!" kecam Novi.
"Kamu mengancam aku?"
"Kamu tau sendiri tentang ayahku seperti apa bukan? Membunuh bukanlah perkara sulit baginya." Tegas Novi kembali.
"ARGGGGHHHH!!!" Teriak Ray berbalik arah memalingkan pandangan memukul datar dinding ruangan.
"Kondisi ayah kamu saat ini sudah terlihat membaik, seharusnya kita bisa selesaikan masalah ini dengan pikiran yang lebih tenang. Tapi kenapa justru kamu jadi gak konsisten begini sih," pekik Ray masih membelakangi.
"Bagaimana jika ayahku meninggal sebelum melihatku menikah?" seru Novi kembali.
__ADS_1
"Yasudah tinggal cari lelaki lain, kan selesai," jawab Ray menoleh.
"Kamu pikir semudah itu cara membuat ayahku senang? Sama sepertiku, yang ia inginkan hanya Leon."
"Tapi Leon sudah musnah, udah gak ada nama Leon di muka bumi in..."
PLAK..... (Tamparan Novi mendarat mulus di pipi Ray).
"Ternyata kamu lelaki yang gak punya hati ya. Aku gak habis pikir, kamu bisa dengan mudah berkata seperti itu," pekik Novi dengan mata berkaca-kaca.
Dirinya yang tak sanggup menahan linangan air di pelupuk mata karena mendapati ucapan dari Ray yang terlihat sangat kasar, seketika tetesan air tersebut mengalir jatuh melintasi area pipi.
"Maaf, maksudku bukan seperti..."
"Kamu gak akan pernah mengerti apa yang kurasakan, Ray. Kamu gak akan pernah bisa mengerti," lanjut Novi menutup wajah melepas tangis tak tertahankan.
Bermaksud meredam emosi serta tangisan Novi, Ray berjalan mendekat.
"Hidup itu pilihan, kamu bisa memilih namun tak bisa memaksa seseorang mengikuti pilihanmu," jelas Ray memeluk hangat untuk persahabatan.
"Aku gak punya pilihan selain memaksamu seperti ini," lirih Novi memukul-mukul dada Ray.
"Aku yakin pilihan itu akan selalu ada."
"Kita hanya perlu menikah!" Bentaknya mendorong tubuh Ray.
"Kenapa harus aku dan kenapa bukan lelaki lain? Begitu banyak lelaki di dunia ini dan kenapa harus aku? Kenapa?" tekan Ray menaikan nada sedikit keras.
"Aku harus jawab apa?" pikir Ray begitu gelisah mondar-mandir menopang kedua tangan di pinggul.
"Aku gak mungkin menikahi Novi, gak, gak mungkin dan itu gak akan pernah terjadi." Terduduk sembari tangan memegang erat kepala.
Mendengar peryataan Novi yang memaksa Ray berfikir keras mencari solusi, hampir setengah jam lamanya terus berfikir, Ray tak juga menemukan cara terbaik untuk menyikapi hal tersebut.
"Bisa gila aku jika terus seperti ini. Sial," gumam Ray masih terduduk menundukkan pandangan.
Tak lama setelahnya seorang Ibu dan seorang anak perempuan kecil masuk di ruang tunggu.
"Ibu, ayah marah gak ya sama Windi?" ujar gadis kecil tersebut.
Mendongakkan pandangan, menoleh Ray melihat mereka berdua.
"Ayah pasti maafin kamu jika kamu berkata jujur sayang," sahut ibu mengelus lembut kepala putri kecilnya.
"Tapi, Ayah celaka karena ulah Windi, Bu."
"Seorang ayah tidak akan pernah marah kepada anaknya jika sang anak selalu berkata jujur, Sayang.Bahkan seorang ayah rela bekorban nyawa demi orang yang dia cintai," lanjut sang Ibu memeluk putri kecilnya.
"Dia benar, mungkin sebaiknya Aku harus melakukan hal yang sama," batin Ray masih menatap mereka berdua kemudian segera berdiri bermaksud menemui Novi juga keluarganya.
Disisi lain Tomi.
__ADS_1
"Kamu yakin jika Leon akan segera menikahi Novi?" tanya Robi terlihat sangat panik.
Tomi mengadakan pertemuan dengan Deki serta Robi dan juga Aldo di suatu tempat, memberikan informasi penting yang ia ketahui. Setelah menceritakan kejadian yang baru Deny alami, awalnya mereka tertawa cukup senang sebelum akhirnya ekspresi wajah itu kian berubah muram.
"Saya mendengar dengan pasti kalau Deny menginginkan mereka segera menikah, Om," lanjut Tomi menatap Robi.
"Aku yakin, itu trik Deny yang mengatur semua rencana agar bisa segera menikahkan putrinya dengan Leon," sahut Deki.
"Ini tidak bisa di biarkan, dia pasti telah berfikir satu langkah lebih dahulu agar bisa mendapatkan hak kuasa atas kepemilikan warisan Hendra," pungkas Robi.
"Oh iya Aldo, Aku lupa memberitahukan kamu bahwa lelaki yang kemarin menyelamatkan Novi adalah Leon," lanjut Tomi melirik Aldo.
"Leon?" singkat Aldo.
"Satu lagi, ada rahasia yang belum aku ketahui dari Leon, apa maksud dirinya yang menjadi supir pribadi Novi," jelas Tomi.
"Kalau begitu kamu hanya perlu membunuh Novi, dengan begitu semuanya selesai. Kamu sendiri menjadi pengawal pribadinya bukan?" sahut Robi.
"Ini terlalu terburu-buru untukku. Jika aku melakukan itu, pasti rencana kedepan akan gagal nantinya," jelas Tomi kembali.
"Rencana? Bukankah rencana kamu masuk dalam kehidupan Deny hanya untuk menjalankan tugas dari Deki?" lanjut Robi.
"Bukan cuma ayah saja dan Om yang memiliki rencana, Aku juga memiliki rencanaku sendiri," jawab Tomi tersenyum picik.
"Apa yang kamu rencanakan?" tanya Robi singkat.
"Setelah berhasil mendapatkan kepercayaan darinya, perlahan menguras habis harta yang ia miliki," pekik Tomi menenggak segelas minuman.
"Sebentar, ada yang membuatku penasaran," sahut Aldo.
Tomi mengangkat alis mempersilahkan dirinya bertanya.
"Jika kemarin aku berhasil membunuhnya, bukankah rencanamu juga akan gagal?"
"Tadinya aku berfikir hanya perlu melakukan tugas dari ayahku dan Om Robi. Tapi setelah aku pikir kembali, kurang seru jika tak memanfaatkan semua peluang yang ada," jelas Tomi.
"Jika kita tidak segera ambil tindakan, semuanya akan terlambat dan rencana kita bakal gagal total," sambung Robi meletakkan rokok di meja melirik Deki.
"Jangan risau, Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi begitu saja," sanggah Tomi memantik api menyalakan rokok di tangan.
"Jika menyerahkan semuanya padamu, lantas aku tidak berperan apapun bukan?" sahut Aldo.
"Bisa di bilang seperti itu, kamu cukup bersantai karena mungkin resiko gagal akan jauh lebih kecil," sindir Tomi mengangguk-angguk menyepelekan Aldo.
"BRENGSEK!"
"Aldo, tenangkan pikiranmu!" Bentak Robi menghentikan Aldo yang telah berdiri mengepal tangan.
***
Sampai disini dulu kak, maaf telat updtae bab barunya. Cuaca yang gak stabil di tambah kopi yang kurang pas di lidah membuat pikiran ini enggan mengenali tubuh sendiri, begitu juga sebaliknya. Tanpa basi basa, like komen favorit masih diterima ya kak. Lanjut....
__ADS_1