Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 111


__ADS_3

"Kenapa kita harus meributkan masalah ini?" lanjut Tomi menopang sebelah kaki.


"Aku telah bersahabat lama dengan Ayahmu. Kami merencanakan semua hal ini secara matang dari jauh hari. Harusnya kamu bisa menerima Aldo sebagai rekanmu, bukan menyepelekannya. Selama Aldo bergabung denganku, membunuh seseorang bukanlah hal yang baru baginya," seru Robi menatap Tomi serius.


"Benar apa yang dikatakannya Nak, sebaiknya kamu jangan terlalu berambisi menganggap mudah semua urusan. Hal tersebut bisa saja justru akan membuat kamu jatuh ke jurang kegagalan," tambah Deki membela Robi.


"Yasudah begini saja, bagaimana jika kita saling memberi waktu?" pinta Tomi.


"Maksudnya?" tanya Robi.


"Biarkan dalam tiga bulan ini aku menyelesaikan semuanya. Sebagai jaminan, jika aku gagal, Aku akan menuruti semua perintahmu," jelas Tomi melirik Aldo.


"Cukup Tomi! Ini bukanlah permainan!" Bentak Deki kembali.


"Bukankah jika aku berhasil, Ayah dan om Robi juga akan senang? Justru dengan cara seperti ini kita jadi lebih unggul Yah. Biarkan aku berjalan dengan rencanaku sendiri, kemudian dia dengan rencananya." Menatap Deki menunjuk Aldo.


"Baik aku ataupun Aldo, keduanya mempunyai tujuan demi melancarkan rencana Ayah dan om Robi bukan?" lanjut Tomi.


"Baiklah jika seperti itu yang kau inginkan, Aku menyetujuinya. Tapi ingat, janji seorang lelaki harus selalu di tepati," sahut Aldo menyetujui.


"Sebagai tanda kalau kita selalu berdamai," ujar Tomi mengangkat menyodorkan minuman dalam gelas ke arah Aldo.


"Baik," balas Aldo bersulang minuman.


Centling....


"Ayo dong kita nikmati pertemuan ini. Berdiskusi dengan cara seperti itu hal yang wajar bukan? Terlebih lagi jika di dalamnya terdapat banyak perbedaan," jelas Tomi melirik Robi juga Deki.


Suasana kembali mencair ketika mereka saling bersulang menikmati jamuan yang ada.


"Nikmati sepuasnya dan tunggu saja ajal kalian tiba." batin Tomi tersenyum menatap Aldo melirik Robi.


Dilain sisi Ray yang telah membulatkan tekadnya.


"Permisi," salam Ray perlahan masuk ke ruang Deny.


"Leon, darimana saja kamu," sahut Deny terduduk di atas ranjang rawatnya.


"Gimana sekarang kondisnya om, sudah agak membaik?"


"Sudah, ini buktinya sudah bisa duduk. Mungkin sebentar lagi sudah bisa kembali pulang, ya kan Ma?"


"Iya Yah," sambung ibu Novi.


"Syukurlah jika seperti itu, Om."


"Tadi Novi bilang, ada hal penting yang ingin kamu sampaikan pada om, apa itu? Pasti kabar yang sangat menggembirakan ya?" tanya Deni dengan raut wajah berseri.

__ADS_1


"Sebenarnya." Menoleh ke arah Novi yang duduk di sofa menatap singkat berpaling membuang muka.


"Aku ingin..."


"bilang gak ya? Dokter bilang jangan buka bahasan yang berat, nanti kalau tewas gimana ini?" gumam Ray dalam hati.


"Iya, kamu ingin apa, Leon?" sahut Ibu Novi.


"Ah bilang ajalah," pikir Ray melanjutkan kembali tekadnya yang ragu.


"Aku ingin saling mengenal terlebih dahulu dengan Novi om, bukan bermaksud menolak menikahinya. Meski di masa lalu kami begitu dekat, namun hal itu cukup berbeda dengan keadaan yang sekarang. Saat ini kita berdua sedang belajar untuk saling mengerti dan memahami perbedaan yang ada," singkat Ray.


Deny dan sang istri yang mendengar peryataan Ray tersebut, hanya saling menatap bingung.


"Novi wanita yang cukup sempurna di antara wanita lainnya. Aku yakin bukan hanya aku lelaki yang bisa membuatnya bahagia. Dia begitu menyayangi om juga tante, walau terkadang ia tak memperdulikan perasaannya sendiri. Jika sebuah pernikahan beralaskan keinginan orang tua, itu bukanlah kebahagiaan bagi sang anak, Om, Tante," lanjut Ray.


"Tapi Leon, bukankah kalian saling menyukai serta mencintai satu sama lain?" sahut Deny.


"Kalaupun seperti itu adanya, setidaknya aku ingin menikahi Novi ketika perasaan ragu ini sirna," jawab Ray tersenyum melirik Novi.


"Maafkan kami jika kami terlalu memaksa kalian untuk segera menikah, Leon," sahut Ibu Novi.


"Tidak ada yang salah tante, hal wajar jika orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Sama seperti seorang anak yang selalu ingin membahagiakan kedua orang tuanya," sambung Ray perlahan duduk di sebelah Novi.


"Terlalu berbelit-belit gak ya?" batin Ray sedikit cemas.


"Ayah, kali ini kita biarkan Novi menentukan jalannya sendiri. Mama yakin jika Novi pasti bisa memilih yang terbaik untuk hidupnya," lanjut Ibu Novi kembali merangkul Deny.


"Ada hal yang untuk saat ini kita jaga bersama, Om," jawab Ray kembali memegang tangan Novi menatap Deny.


"Semoga apa yang kalian lakukan ke depan, itu yang terbaik nantinya," jelas Deny perlahan tersenyum.


"Selamat, selamat," batin Ray.


"Yasudah kalau begitu kita kembali saja, Ayah sudah baik-baik saja ini," lanjut Deny menggenggam tangan istri.


"Yasudah kalau begitu biar aku bantu om," sahut Ray berdiri menghampiri Deny.


Setelah semua keadaan menjadi lebih baik, langsung mengantarkan Deny untuk beristirahat di rumah. Ketika sampai dirumah segera menuju ruang kamarnya.


"Leon, terimakasih telah mendampingi om sampai sejauh ini," lirih Deny.


"Sama-sama om. Kesehatan om di atas segalanya dalam hidup Novi," jelas Ray.


"Kamu memang lelaki yang baik, gak salah kalau putriku begitu menyukaimu," sambungnya kembali.


"Ayah, malu ih," desis Novi mencubit lengan Deny.

__ADS_1


"Iya iya, tapi kamu beneran suka Leon kan?" lanjut Deny menjahili putrinya.


"Udah ah lebih baik sekarang ayah istirahat, jangan bandel," pungkas Novi menutupi sekujur tubuh Deny dengan selimut.


"Selamat istirahat om," pamit Ray berjalan keluar kamar.


Terlepas dari belenggu akan pernikahan dengan Novi, semua kembali seperti sedia kala dimana pikiran Ray kembali tenang.


"Setidaknya aku tidak ingin menyakiti hati siapapun, terlebih berfikir menikahi Novi. Jauh dalam diri ini takkan pernah berpaling menghianati kamu sayang," batin Ray merenungkan wajah Alisa.


Disisi lain ambisi Rama.


"Aku harus bisa berfikir dengan tenang demi mendapatkan Rina," pekik Rama menyendiri dalam toilet.


"Ahah," lanjutnya menemukan ide cara mendekati dengan aman berniat mencari informasi wanita sadis tersebut.


Setelah bel istirahat sekolah berbunyi, Rama masih termenung di dalam toilet kemudian pergi menuju kantin terduduk santai.


Tiba-tiba,


"JANGAN MENGHALANGI!"


"AKU TIDAK AKAN KALAH!"


"BERI AKU JALAN!"


Terdengar keras suara teriakan serta hentakan kaki diatas lantai berlarian menaiki anak tangga.


"A-ada a-pa ini!" batin Rama terkejut melihat para siswa berlarian saling mendahului menuju meja kasir kantin.


"AKU MAU ROTI KEJU!"


"BERI AKU ROTI MELON!"


"AKU MAU ROTI LAP..."


Ternyata para siswa sedang memperebutkan roti legendaris sekolah.


"Jadi begini ya balapan rebutan roti di jam makan siang?" ucap Rama berdiri terdiam menatap siswa saling berebut pesanan di meja kasir.


"Lah, itu bukanya pengawal Rina?" pekik Rama melihat gadis imut bertubuh kecil melompat lompat dari belakang tubuh tinggi para siswa lainnya.


"Ahhhh...." Teriaknya terjatuh karena dorongan pria.


Melihat seorang gadis terjatuh terdorong lemah dilantai, tentu bukan sifat Rama membiarkannya merasa kesulitan.


"Permisi, apa kau tidak apa-apa?" ujar Rama mendekati gadis tersebut yang masih terbaring lemah.

__ADS_1


***


Sampai disini dulu kak,, masih dengan alur anak sekolah kecebong anyut. Cuaca kembali mendung, jangan lupa jemuran prioritas utama sebelum indomie goreng gais. Kita lanjut..


__ADS_2