
"Jadi, pernikahan kau sama Mia gimana? diundur atau berjalan biasa?" tanya Ray ke Fii sembarii menyetir mobil.
"Inginku sih di undur dulu Ray sampai ada kerjaan yang baru. Tapi Mia tadi jelasin kalau diundur takut membuat rasa percaya orang tuanya hilang samaku."
"Aku juga bingung, gimana mau lamar Erlin kalau keadaan makin seperti ini," sahut Fendi.
"Barusan tadi Mia nawarin kerjaan sih, cuma lowongan yang ada hanya satpam di perusahaan temennya," lanjut Fii kembali.
"Masak calon istrinya sendiri gak bisa usahain entah jadi apa gitu," jelas Fendi.
"Kalau ada pasti udah di kasihkan ke aku Fen, tapi ya emang adanya itu doang. Lagian kurang etis aja sih, ntar malah dikira dompleng Mia," jelas Fii menyandarkan badan menutup wajah dengan kedua tangan.
"Sabar ajalah, rejeki gak kemana," sambung Ray.
"Iya gak kemana Ray, kalau gak kemana-kemana ya gak ada rejeki," ketus Fii.
"Nah lebih baik sekarang kita mulai berpencar disini untuk mencari pekerjaan. Baca dah tuh bener-bener setiap kantor ada gak tulisan buka lowongan apa kagak," balas Ray menghentikan laju mobil memarkirkan di antara bangunan-bangunan gedung mewah.
"Oke, semangat." Fendi langsung keluar mobil meregangkan otot-otot tangan kaki dan kepala.
"Teringatnya udah ganti bawaan aja ini? Udah dapat ahli waris lah ya?" sindir Fii meledek Ray yang membawa mobil almarhum peninggalan ayah Alisa.
"Ntah apa-apa aja yang kau bilang."
Disisi lain, Ibu yang telah mengetahui kehamilan Alisa terlebih dahulu, mulai terlihat sibuk mempersiapkan segala sesuatu dengan begitu semangat.
"Ibu ngapain sih dari tadi mondar mandir begitu Bu?" ujar Alisa terduduk bermain ponsel menatap Ibu yang terlihat super sibuk di ruang tamu.
"Ini lagi siapin kamar belakang."
"Kan ada sih Mbok."
"Iya, tapi karena ini spesial untuk calon cucu, harus Ibu sendiri yang siapin tata rias semuanya."
"Ya ampun Bu, ini juga masih awal. Perut Alisa juga masih kempis begini, masih lama lagi kali Bu untuk lahirannya." Tertawa kecil menatap Ibu.
"Justru karena masih lama jadi semuanya harus di persiapkan, Alisa." Berlalu menuju ruang kamar belakang tak lama setelahnya balik kembali.
"Besok kamu mau ikut Ibu berbelanja kebutuhan cucu Ibu gak?"
"Bu, jangan ngaco dulu ih, masih jauh Bu."
"Apa ibu salah terlihat begitu semangat gak sabaran kali ya Lisa? Maklum bakal calon cucu pertama jadi semangat begini."
"Lebih baik Ibu istirahat ya, Alisa gak mau Ibu yang baru sembuh harus jatuh sakit kembali, ya Bu." Berdiri berjalan menuntun Ibu kembali ke kamar.
"Em, kamu hati-hati ya Lisa, jaga baik-baik, biasanya di awal-awal begitu rentan keguguran," ujar Ibu mengkhawatirkan isi dalam kandungan yang masih terlalu muda.
"Iya Bu."
"Kalau ingin sesuatu kabarin Ibu atau si Mbok."
"Udah Ibu jangan khawatirkan itu dulu, lebih baik fokus kesehatan Ibu dulu biar makin sehat."
"Iya."
Setelah menutup pintu kamar, Alisa kembali berjalan menuju ruang tamu.
"Non, hari ini mau dimasakin apa?" ujar sih mbok menghampirinya yang sedang menonton.
"Em, apa aja deh mbok. Apapun itu kalau sih mbok yang masak pasti enak."
"Kali aja Non, si Aden ada minta menu spesial."
__ADS_1
"Gak ada kok mbok, Mas Ray itu apa aja dimakan kalau lapar. Kalau dia kepingin masakan spesial, pasti aku yang masakin."
"Yaudah kalau begitu Mbok tinggal ke pasar dulu ya Non, stok dapur mulai menipis."
"Hati-hati ya mbok. Jangan ganjen di luaran sana, entar mojok lagi sama bang becak depan. Hehehe."
"Ah sih Non bisa aja," ucap si Mbok berlalu pergi.
"Em, kamu lagi apa ya mas sekarang. Semoga aja langkah kamu di permudah serta baik-baik saja saat ini." Memohon doa kembali menonton drama sembari menunggu kabar baik dari Ray.
Kembali ke Ray Cs yang masih berusaha mencari pekerjaan baru.
"Dari tadi kok gak ketemu perusahaan yang buka lowongan kerjaan ya?" Berjalan membawa berkas lamaran.
"Ah, coba masuk kesini ajalah, sapa tau ada," lanjut Ray berjalan masuk kembali ke dalam gedung elektronik.
"Selamat siang bapak, ada yang bisa saya bantu?" ucap pegawai penerima tamu menyapa.
"Siang mbak, mau tanya, apa perusahaan ini membuka lowongan pekerjaan?"
"Maaf bapak, untuk sementara belum ada penerimaan karyawan baru. Mungkin lain kali ada kesempatan."
"Yasudah kalau begitu, makasih Mbak, permisi."
Berjalan keluar ruangan, kembali mencari lowongan pekerjaan tersebut. Memasuki setiap gedung perusahaan satu persatu untuk sekedar menanyakan lowongan pekerjaan, namun masih tak membuahkan hasil apapun.
"Ah, dimana lagi harus mencari ini," pekik Ray terduduk di bahu taman mini menatap luas gedung mewah.
Duduk sekedar beristirahat menghindari terik panas matahari. Melihat pedagang cendol menjajakan dagangannya yang masih penuh, sesekali terlihat mengusap cucuran air keringat letih mengalir di wajahnya.
"Cendol dawet, cendol."
"Kang," teriak Ray melambaikan tangan memanggil.
Langsung sigap menghampiri dengan semangat, "Cendolnya Mas?"
"Oke Mas, tunggu sebentar."
Mengambil ponsel di saku, menghubungi Fendi.
"Halo, gimana? Ada berita baik gak?"
"Belum ada Ray, semua tempat udah ku masuki, sampai ruang pijat urut juga sah masuk, tapi tetap aja gak ada lowongan. Kau sendiri gimana?"
"Oh, yaudah kalau begitu. Aku juga sama ini belum ada dapat info. Kalau belum ada balik aja ke mobil, Aku juga udah jalan balik ini."
"Bentar lagi aku balik ke mobil, udah agak lelah kali ini."
"Oke." Menutup panggilan, kembali menelpon Fii.
"Halo Bos."
"Ha halo, apa cerita, dapat?"
"Belum dapat juga Ray, sekalinya ada lowongan cuma untuk cewek."
"Ya belum rejeki itu namanya. Aku udah jalan kearah parkiran mobil ini, kalau capek balik aja istirahat."
"Oke lah, Aku kesitu."
"Sepp." Menutup panggilan Fii yang tak juga kunjung berhasil mendapatkan pekerjaan baru.
"Ini Mas cendolnya," ujar kang cendol.
__ADS_1
"Makasih Mas." Langsung menyeruput di tengah terik panas matahari.
"Masnya lagi cari kerjaan ya?" ucap Kang cendol duduk disebelah sembari menunggu pembeli.
"Iya nih Kang."
"Jaman sekarang cari kerjaan susah ya Mas?"
"Susah-susah jambu lah Kang."
"Kok jambu Mas?"
"Cuma jambu yang bisa manis bisa juga kecut Kang."
"Oh." Mengangguk-angguk.
"Akang sendiri jualan begini sudah lama?"
"Udah lumayan lama sih Mas, jalan enam tahun."
"Lama juga udahan Kang. Cukup Kang dari hasil jualan keliling begini?"
"Ya di cukup cukupi lah Mas, asal lepas makan udah syukur kita. Kadang ya mau ngeluh juga gimana Mas, ngeluh terus juga gak buat perut lapar jadi kenyang kan?"
"Iya sih Kang. Ini maaf maaf sebelumnya Kang, gadak niat aneh aneh kok. Sehari bisa dapet berapa banyak Kang?" Menoleh menatap kang cendol melepaskan topi mengipas wajah.
"Kalo lagi rame ya bisa dapet 50.000 Mas, kalau pas sepi ya paling 10.000 doang Mas. Penjual begini kan sudah banyak Mas, jadi pendapatan udah terbagi sama pedagang lain."
"Oh gitu, asli tinggal mana Kang?"
"Dari Jawa Mas."
"Jawa mana?"
"Jawa timur Mas, daerah malang."
"Jauh juga merantau kemari Kang. Anak Istri dibawa kemari?"
"Tinggal di sana Mas, gak dibawa kesini."
"Pulangnya?"
"Ya setahun sekali Mas, itupun kalau pas ada rejekinya cukup untuk pulang. Kadang ya pernah kayak awal-awal dulu, dua tahun baru bisa pulang."
Melihat Fendi berjalan bersamaan dengan Fii dari kejauhan, Ray langsung bangkit berdiri.
"Ah, temen udah pada mau nyampe. Ini Kang buat cendolnya." Memberikan lima lembar uang ratusan.
"Kebanyakan ini Mas," ucap Kang cendol bingung.
"Simpan aja buat tabungan Kang, siapa tahu butuh tinggal pakai." Tersenyum sembari menepuk bahu Kang cendol.
"Baim?" ujar Kang cendol menunjuk Ray.
"Bukan Kang, ini Ray. Baim mah yang di film film itu."
"Oh bukan ya. Tapi Masnya lagi kayak kesusahan cari kerja begitu. Ini Mas ambil lagi aja." Menyodorkan kembali uang tersebut.
"Udah Kang simpan aja, gak baik loh nolak rejeki. Yaudah aku lanjut dulu Kang."
"Makasih Mas, murah rejekinya, semoga di bales yang Kuasa."
Ray berjalan pergi mengangkat sebelah tangan melambai ke arah Kang cendol dari kejauhan segera menghampiri Fendi dan Fii.
__ADS_1
***
Sampai disini dulu kak, kita lanjut...