Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 78


__ADS_3

"Ampun Bang ampun Bang," lirih jambret tersebut.


Abang bakso yang melihat kerjadian tersebut, ikut langsung menghakimi.


Bag.....


Bug...


Bag....


"Ampun Bang, ampun."


Ray berhasil menangkap satu pelaku, sedang pelaku lainnya berhasil melarikan diri. Muka babak belur terus di hantam tiada ampun dan suasana sekitar semakin ramai.


"Aduh, kok di pukuli begitu dek anak orang, kasian," ujar seorang Ibu rumah tangga pulang berbelanja sayuran membawa sepeda motor lengkap dengan keranjang sayur.


"Jambret ini Buk," pekik Ray.


"Oh jambret kau iya, em, jambret kau, em." Memukul mukul kacang panjang tersebut kearah pelaku jambret.


Berfikir pelaku bakal melarikan diri di padatnya kerumunan, sigap Ray langsung mendekap pelaku membantunya berdiri.


"Udah bang sini sama aku aja," sahut salah lelaki paruh baya mendekap pelaku.


"Kau kok jambret, cak kenapa kau jambret?" lanjutnya terlihat simpati.


"Itu Bang..."


"Apa, kuat sedikit."


Plak... (Tangan memukul).


"Aduh," lirih pelaku.


"Ha, apa, kuat kalau ngomong."


Plak... (Memukul kembali).


Tak lama kemudian pihak berwajib datang mengamankan pelaku. Setelah polisi membawa pelaku tersebut, berjalan Ray menghampiri dompet korban segera mengamankannya.


Menoleh sejenak ke arah kanan melihat korban datang menghampiri dari sedikit kejauhan.


"Ini mbak dompetnya, coba di cek dulu isinya," ucap Ray menyerahkan dompet tersebut.


"Makasih ya Mas. Kalau gak ada Mas tadi gak tau seperti apa jadinya."


"Biasa aja kok mbak." Tersenyum tipis kemudian menoleh ke Abang bakso yang berdiri di sebelah.


"Abang ngapain? Bakar itu buruan."


"Iya iya," sahut abang bakso masih tetap berdiri di samping.


"Oh iya, ini Mas," ujar korban memberikan beberapa helai uang ratusan.


"Gak usah mbak, Aku ikhlas bantuin kok."


"Aku juga ikhlas Mas memberinya, ini Mas," lanjutnya kembali menyodorkan uang tersebut.


"Beneran gak usah mbak," balas Ray menolak pemberian tersebut.


"Makasih ya mbak," sahut penjual Bakso mengambil uang tersebut.


"Rejeki gak boleh di tolak," lanjutnya kembali berlalu pergi membakar bakso.

__ADS_1


"Bener tuh kata si Abang barusan. Lagian uang tersebut gak seberapa di bandingkan data di dalam sini tadi kalau hilang, Mas," ujar korban tersenyum.


"Oh iya, namaku Novi," lanjutnya menyodorkan tangan.


"Ray." Menyambut uluran tangan tersebut.


"Sekali lagi terimakasih, Mas," jelasnya berlalu pergi.


"Sama-sama." Kembali Ray menemui kang bakso bakar.


"Bening bener tuh cewek, pantesan betah si Abang," ujar kang bakso meledek.


"Udah buruan, lama bener bakar baksonya."


"Sabar ngapa. Tapi tadi keren loh atraksi pas Abang lompat nerjang si pelaku. Kayak di film-film laga gitu. Gak sakit apa, Bang?"


"Ya sakit lah, pegel ini pinggang."


"Tadi di depan cewek itu gak terlihat sakit."


"Jaga image, udah siap belum?"


"Nih, ambil aja, gratis."


"Seriusan ini?" Mengangkat bungkusan tersebut.


"Iya, kan udah dapat segini dari si mbak tadi," jawabnya mengipas uang tersebut.


"Makasih dah kalau begitu. Lancar ya jangan lupa sedekah," singkat Ray berjalan kembali memasuki mobil.


30 menit kemudian sampai di tempat tujuan, turun berjalan masuk.


"Lama bener, kemana aja sih," ucap Fendi berdiri di depan pintu.


"Tapi nyari ini," jawab Ray menunjukkan bakso tersebut.


"Kalau gak mau yaudah biar ku makan sendiri."


"Ya mau lah," balas Fendi langsung mengambil bakso tersebut menyantapnya.


"Mana rudal mesir?" Menanyakan Fii.


"Dikamar dia telponan sama Mia, ngeluh karena baru kenak pecat dari kerjaan," singkat Fendi.


"Ngeluh terus kapan suksenya," pekik Ray berjalan memasuki ruangan dalam menguping Fii yang sedang menelpon.


"Iya loh sayang, Aku sekarang bingung belum tau mau kerja apa. Apa? Janganlah, segan aku kalau bekerja di tempat kamu, apa kata orang nanti coba."


"Oh..." batin Ray mengangguk masih mendengarkan pembicaraan tersebut.


"Nah bener itu, belum lagi apa kata orang tua kamu, bisa gawat aku nanti. Tapi ya kalau kamu memaksa, Aku ikhlas sayang."


"Widih cakep bener strategi perang jaman sekarang ini, penuh pengalihan isu demi memenangkan menambah satu wilayah baru" ujar Ray masih berdiri di depan pintu menatap lurus pandangan.


Seketika Fii berbalik arah menoleh menatap.


"Aish...perusuh rupanya, kirain siapa," gumam Fii kembali berbalik membelakangi.


"Merayu aja kerjamu itu, bagus keluar keliling cari informasi kerjaan yang baru," jelas Ray masih berdiri mengemil bakso bakar.


"Sama anak kadal itu aja keluar berdua, Aku masih gak mod Ray, dilema ini."


"Masih makan dia, lagian kan enak bertiga keluar, rame jadinya."

__ADS_1


"Makan apa dia?" Bangkit dari baringnya.


"Itu makan enak di depan," singkat Ray kembali berjalan menuju kursi ruangan.


"Amak, makan diam-diam dia ya," ketus Fii berjalan keluar menghampiri Fendi.


"Oh, udah gak teman, sekarang makan diam-diam," lanjut Fii berdiri di belakang Fendi yang terduduk santai depan pintu kos menikmati bakso bakar.


"Ini ku tinggalin, santai aja," jawab Fendi memberikan bungkusan bakso.


"Tinggal 2 tusuk? Sial sial," pekik Fii mengambil bakso tersebut masuk kembali ke dalam kamar.


"Iya sayang, ini si Ray bawa pizza. Apa? Iya ini makan kok," ucap Fii masih menelpon Mia.


"Ray, ada rencana dagang gak?" ujar Fendi menghampiri.


"Mau dagang apa? Pecel?"


"Ya entah jualan apa gitu, kan intinya bisa menghasilkan uang."


"Gak ada bakat kesitu." Memantik rokok di tangan.


"Keluar yok, cari udara segar sekalian nyebarin berkas lamaran kerja. Masak kita hanya diam diri begini Ray."


"Dari tadi juga aku datang kemari mau ajak kalian cari kerjaan baru."


"Ya udah tunggu bentar lah, ganti pakaian dulu aku."


20 Menit kemudian.


"Oke, ayok berangkat," ujar Fendi selesai berbenah diri.


"Oh, Aku di tinggal sendirian ini ceritanya?" Fii berdiri depan pintu kamar menggaruk-garuk paha.


"Bercinta aja kau dari tadi, udah cepat ganti pakaian kalau mau ikut," sahut Fendi.


"Namanya dimabuk asmara, tunggu bentar. Sayang, udah dulu ya ini ada kesibukan bentar, nanti malam kita sambung lagi. Dah sayang," pungkas Fii menutup telepon.


Sembari menunggu Fii, Ray mengotak-atik ponsel.


"Kejam bener berita ini, sampai hati bener." Serius memandang layar ponsel.


"Berita apa Ray?" tanya Fendi penasaran.


"Ini, seorang bayi tega membuang ibu kandungnya sendiri. Gila gak itu?" Menoleh menatap Fendi.


"Ah udah biasa, mau yang luar biasa gak?"


"Apaan?"


"Pagi ini jasad seorang pemuda ditemukan terkapar tanpa kerinduan. Tubuh masih utuh namun hati berantakan karena rindu."


"Yang sabar, pasti Erlin lagi sibuk kerja. Demi menafkahi kau kelak, dia harus kerja keras Fendi."


"Mak, kok jadi kayak aku aja istrinya pake di nafkahi."


"Lah kan sekarang masih nganggur."


"Udah siap ini, ayo keluar, entah apa-apa aja yang kalian bahas dari tadi," sahut Fii berjalan santai.


"Dari tadi kami nungguin kau Bani Israil," pekik Fendi.


Selesai berbenah diri, melanjutkan perjalanan mencari pekerjaan yang baru.

__ADS_1


***


Sampai disini dulu ya kak, sambung ya? Makasih dah mampir kembali kak, kita lanjut..


__ADS_2