Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)

Bukan Romeo (Life Is Empty Dream)
Love story 125


__ADS_3

Kembali ke sisi Ray.


Tiga hari berlalu dengan singkatnya, meninggalkan jejak konflik yang pernah ada. Budi akhirnya bergabung bersama Putra, Eka, Jhon, Lucy dan Ricko dengan alasan menjaga keamanan desa agar hal yang sama tak terulang kembali.


Bergabungnya Budi di organisasi terlarang itu membuat pikiran Ray sedikit tenang akan keselamatan Budi di kemudian hari.


Menjaga desa dari balik layar, adalah hal moto utama yang mereka lakukan tanpa sepengetahuan penduduk. Aksi serta tindakan demi membantu ekonomi warga yang sangat kesulitan, berbalik lurus dengan terus mendapat kecaman para penduduk yang terkena imbas dari perbuatan mereka.


Meski tak banyak yang mampu memahami keadaan tersebut, mereka tetap tersenyum menjalani rutinitas terlarang seperti biasa.


"Masih melamun juga nih? Mikirin apa sih?" ujar Ray melihat Putra berbaring melamun di kursi ruangan.


"Gak ada apa-apa kok," jelasnya menoleh menatap Ray.


"Jangan berbohong, terlihat seperti ada yang kau sembunyikan," balas Ray duduk di hadapan dirinya.


"Beneran gak ada apa-apa. Ngapain juga pake rahasia-rahasia segala," jawab Putra berpaling pandangan kembali.


"Aku tau apa yang ada di pikiranmu, hayo," sahut Eka menghampiri membawa satu sisir pisang matang kemudian meletakkan pisang tersebut di meja.


"Apaan?" ucap Ray melirik Eka.


"Dari baunya, tercium aroma-aroma jatuh cinta. Hehe..hehe," jelas Eka nyengir.


"Cinta oh cinta, walau tak berwujud, keindahan akan rasa itu takkan pernah sirna," seru Jhon bertekuk lutut memegang tangan Ricko.


"Wanita oh wanita, keindahan dari seni rupa tiada akhir, mampu meruntuhkan keteguhan hati sang ksatria," sahut Ricko menarik genggaman tangan Jhon berputar terhenti dalam pelukannya.


"Jangan beranggapan yang bukan-bukan, lebih baik diam dan tidur," singkat Putra.


"Memangnya, wanita mana yang bisa membuatmu melamun seperti ini?" sindir Ray kembali menatap Putra.


"Jangan dengarkan kata mereka, ngaco itu. Buat apa juga memikirkan hal yang gak penting," gumam Putra.


"Memikirkan wanita itu hal yabg penting, karena wanita termasuk pelengkap sempurnanya suatu kehidupan. Tanpa wanita, ambyar bro," jelas Ray.


"Gak semua prinsip bisa disamakan, setiap orang berbeda sudut pandang," singkat Putra.


"Yaiya juga sih, ah bebaslah."


"Kau tau Ray? Kejadiannya bermula ketika waktu itu kau dan Budi pergi ke rumah sakit mengantar Indra dan lainnya. Nah setelah kalian pergi, kami sedikit mengalami konflik dan berseteru dengan para polisi. Paras cantik pemimpin serta tindakannya yang tegas mengambil keputusan, membuat anak ini bengong cukup lama," sambung Eka.


"Seriusan?"

__ADS_1


"He'em. Gak bohong aku sumpah. Sebelum kami pergi meninggalkan para polisi itu, dengan wajah memerah, pandangan Putra gak beralih sedikitpun. Bahkan kalau bencana alam datang, Aku yakin dah tewas duluan anak ini," lanjut Eka menyantap pisang.


"Oh jadi seorang petinggi polisi ya?" ucap Ray mengangguk santai.


"Ngaco ah, udah sana bubar, ngantuk aku. Lama-lama dah kayak emak-emak kalian, doyan ngerumpi gak jelas," pekik Putra membalikkan badan membelakangi.


"Merajuk niye," sambut Budi meramaikan suasana.


"Ha..ha...ha..ha...ha..ha."


"Siapa juga yang merajuk? Orang ngantuk doang," lirih Putra kembali terduduk.


"Lah itu buktinya, mengakui aja susah," pekik Budi.


"Jadi kau kembali besok?" lannut Putra menatap Ray mengambil rokok di meja.


"Kayaknya jadi sih. Terlalu berat bagiku berlama-lama meninggalkan Alisa di kota sendirian."


"Bukankah ada mertua dan Rama yang menjaga istrimu disana?" jelas Putra kembali.


"Meskipun ada, tetap aja keselamatan mereka terus menggangu pikiran ini. Aku terus berfikir kalau hal buruk akan terjadi di kemudian hari."


"Hal buruk? Apa yang sedang terjadi memangnya?"


"Kali aja kau ingin berbagi cerita, siapa tau dengan berbagi cerita bisa meringankan masalah yang ada," jawab Putra kembali.


"Bener Ray apa yang Putra bilang, setidaknya hubungan kita yang berada disini, lebih dari keluarga," sahut Eka.


"Aku pahan itu, tapi mungkin belum saatnya untuk menceritakan apa yang kualami. Tapi jika sudah waktunya, pasti akan kuceritakan semua pada kalian," jelas Ray memantik api menghisap rokok.


"Kalau begitu keputusanmu, ya kami hargai. Tapi sebagai keluarga, jangan pernah tanggung semua masalah sendirian, apapun keadaanya, kita selalu bersama," pungkas Eka.


"Siap, kalau itu pasti."


Putra perlahan jalan mendekati Ray, terduduk di sebelah merangkulnya.


"Pertemuan yang singkat ini, selalu memberikan kenangan baru. Begitu cepat hari berlalu ketika tawa senang menghampiri," lirihnya.


"Sejak kapan suka pake drama seperti ini?" sindir Ray pada Putra.


"Sejak negara api dan air mulai berdamai," gumamnya.


"Ray, makasih untuk yang kemarin karena telah menolong nyawaku. Jika kau tidak datang waktu itu, mungkin dunia kita sekarang sudah berbeda," sahut Budi.

__ADS_1


"Tidak ada kata makasih ataupun maaf di dalam persahabatan. Saling melindungi itu hal yang sudah seharusnya kita lakukan," jelas Ray menatap Budi mengangkat jempol.


"Kalau begitu, bagaimana jika sekarang kita adakan pesta?" sambung Eka bersemangat.


"Pesta lagi?" pekik Lucy dari dalam kamar.


"SETUJU," sahut Ricko dan Jhon sumringah.


"Ntar dulu, nih mau merayakan pesta untuk apa?" ucap Ray.


"Bergabungnya Budi sekaligus pengantarmu kembali ke kota, gimana? Ayolah sesekali dan udah lama gak bernostalgia bukan?" pinta Eka menenggak minuman.


Ray terdiam sejenak berfikir dan melamun sembari melirik menatap langit-langit ruangan.


"Ayolah, jika gak setuju, Jhon Ricko ku jual di apsar pagi nih!" sahut Putra meramaikan suasana.


"Wih?" Jhon melirik Ricko dan Ricko berbalas melirik Jhon terbengong.


"Ah iya iya baiklah. Tapi ingat jangan terlalu memaksakan diri berpesta ria. Kalian tau sendiri kalau aku telah memutuskan berhenti mengkosumsi minuman keras setelah menikahi Alisa."


"Iya iya paham, gak perlu kau minum minuman itu, cukup ikut merayakan pesta kecil yang ada saja udah bagus," balas Putra.


Ray menyetujui permintaan tersebut sebagai tanda jika persahabatan mereka akan selalu tetap abadi meski jalan yang mereka ambil sendiri berbeda-beda.


Lagi asik menyiapkan acara yang ingin mereka adakan, panggilan telepon berdering di saku Ray.


Dreet......


Dreet.....


"Sebentar, ada panggilan masuk. Biasa, istri tercinta," ujar Ray berdiri menjauh segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Sayang."


Mendengar rintihan nada suara Alisa yang mengisak tangis, seketika pikiran cemas Ray meningkat penuh tanya. Belum lagi Alisa tak menjawab sapaan darinya membuat Ray semakin panik.


"Sayang, ada apa ini?" tanya Ray sedikit menaikan nada bicara.


"Sayang jawab, kamu baik-baik saja bukan? Alisa, Sayang!"


***


Sampai disini dulu kak, berhubung magrib kita jeda dulu sejenak. Terimakasih buat semuanya yang telah mendukung, yang belum dukung ayolah dukung jadi bupati otornya di mangatoon maupun noveltoon. Lanjut...

__ADS_1


__ADS_2