
Melihat Ray terjatuh, Yuli menghampiri segera membopongnya. Ray yang samar-samar menyengir melihat wajah Yuli begitu dekat.
"Kamu cantik malam ini, Egrhh. Aku ingin menghabiskan malam panjang ini bersamamu," cetus Ray berantakan.
"Demi kamu mas, akan ku buat puas kamu malam ini agar gak terus larut dalam kesedihan," ujar Yuli membawa ke sebuah kamar.
"Bagus, timing yang amat bagus. Dengan begini aku bisa mengatur semua rencana ku untuk membalas perlakuanmu selama ini Mas," batin Yuli.
Setelah membawa Ray ke sebuah kamar, dengan sigap Yuli melepas seluruh pakaian yang Ray kenakan malam itu saat Ray total tak sadarkan diri.
"Foto ini akan aku jadikan tahanan agar kamu tak pernah mengabaikan aku lagi mas," ujarnya licik melihat Ray tertidur pulas.
Di sisi lain Fendi dan Fii menunggu di penginapan mencemaskan Ray yang tak kunjung kembali.
"Udah jam segini kemanalah ni anak kok gak balik-balik," gumam Fendi ke Fii cemas.
"Apa kita cari keliling aja Fen, bentar lagi udah jam 3 pagi ini."
Tanpa berfikir panjang mereka mengunci semua pintu kamar, bergegas keluar mencari Ray di setiap tempat yang pernah mereka kunjungi namun tak membuahkan hasil.
Pagi hari pukul 9:14.
"Arghhrrr." Ray meregangkan tangan.
Melihat Yuli yang sedang tertidur di pelukannya tanpa mengenakan busana, Ray terkejut hingga membuat Yuli terbangun.
"Mas, kamu sudah bangun?" Mengusap lembut kedua mata.
"Kenapa kamu bisa di sini, Yuli?"
"Em, kamu lupa ya sayang, tadi malam kita bertempur begitu hebat loh, makasih ya untuk malam indah ini," balas Yuli tersenyum.
__ADS_1
Ray terdiam mencoba mengingat kembali kejadian malam yang tak ia sadari, "kenapa gak ingat?"
"Gak, kamu bohong kan, tadi malam aku minum sendirian dan langsung berjalan pulang. Kenapa sekarang bisa seranjang denganmu?" lanjut Ray bingung.
"Kamu masih mabuk ya mas? Tadi malam kamu yang mengajakku menarik begitu mesra dan melakukannya kembali dengan sangat perkasa lo sayang," ucap Yuli kembali memeluk Ray yang saat itu masih terduduk di ranjang.
"Gak mungkin, aku gak melakukan itu!"
Ray bergegas bangkit memakai pakaian kemudian keluar meninggalkan Yuli sendiri.
Di pertengahan jembatan Ray menghentikan laju mobil, turun untuk sekedar melihat pemandangan alam. Pemandangan indah yang selalu ia kunjungi ketika senang ataupun sedih. Sesekali, Fendi, Fii juga ikut dengannya menikmati suasana tempat itu.
Baju kusut, rambut berantakan, berjalan sendirian di pinggir jembatan, begitu kacaunya keadaan Ray, "Aku gak melakukan apapun, aku gak ingat malam itu, aku gak mungkin melakukan itu kembali dengan Yuli."
"Argggghhh!" Teriak melempar batu kecil ke arah sungai.
"Dia pasti berhasil membawaku dalam permainannya, dia bukan gadis yang terlihat begitu bodoh," ujar Ray menunduk ke arah bawah jembatan memukul kecil tiang penyangga.
Ray hanya bisa mengirim sebuah pesan ke Alisa tentang puisi yang pernah ia buat untuk sang kekasih ketika berpisah jarak untuk pertama kalinya. Penuh harap, Alisa bisa kembali mengingatnya.
***
~Pejamkanlah kedua matamu dan ingat jelas suara itu. Meski kesedihan terus menghampiri, aku pasti kan kembali.
~Suara lembut yang menggema terus menusuk kalbu ku.
~Meski perih pedih menghadang, ku takkan pernah menyerah akan tetap maju menghadapinya.
~Pergilah duka.
~Walaupun ku lelah, walaupun ku hancur, aku akan tetap menanti dirimu.
__ADS_1
~Aku tak perduli seberapa sakit diri ini jika terus menunggumu.
~Setiap langkah yang ku jalani, kan terus tegar menggengam hati. Walaupun penuh luka dan letih, takdir kan menuntun diri ini kembali ke pelukan hatimu.
***
"Ray, Ray, jangan bunuh diri dulu, jangan melompat." Teriak suara dari kejauhan.
Menghapus air mata kemudian menoleh, Ray melihat Fendi serta Fii berlari kencang menghampiri. Mungkin mereka berfikir Ray hendak melakukan bunuh diri.
Keduanya langsung memeluk ketika melihat raut wajah Ray berantakan seperti orang gila yang tak sanggup menjalani hidup.
"Jangan mati dulu, kau belum menikah Ray, jangan dulu, jangan," ujar Fendi masih memeluk.
"Jadi kalau udah menikah boleh bunuh diri gitu? Paok kali ah kau," sindir Fii ke Fendi.
"Ya gak gitu juga, pokoknya gitulah," balas Fendi kembali.
Ray tersenyum mendengar apa yang telah mereka ucapkan, kata yang tanpa mereka sadari bisa membangkitkan kembali semangat Ray yang telah rapuh.
"Maaf sudah buat kalian khawatir, balik yok lapar aku," ucap Ray tersenyum asal.
"Nah gitu dong, ini baru Romeo namanya," lanjut Fii mengangguk-angguk.
Berjalan menuju mobil, Fendi mengingat sesuatu, "Eh uang kontrakkan udah di tagih, jangan lupa giliran kau bayarkan punyaku, Fii."
"Kau pun masih suasana kek gini inget aja masalah duit," balas Fii masuk mobil.
"Udah buruan jalan," pekik Ray ingin segera melanjutkan perjalanan.
***
__ADS_1
Sampai di sini dulu ya kak-akak, jangan lupa tetap semangat hari ini karena membaca tanpa semangat gak bakal dapet itunya, makasih...