
"Kesayangan ayah sudah bangun?" ucap Ayah ketika Novi menghampiri.
"Yah, ada..."
"Permisi Tuan, di depan gerbang ada seorang pemuda yang terjatuh tak sadarkan diri. Kami sudah coba membangunkan untuk mengusirnya," sahut pengawal menghampiri memotong pembicaraan Novi.
"Yasudah tunggu sebentar, Saya akan menyusul melihatnya," jelas Deny berdiri.
"Ayah, Mama ikut," sambung sang istri.
"Jangan, Mama tunggu disini saja."
Novi mengikuti Deny yang berjalan menunggu pintu gerbang tersebut.
"Tuan, di.."
Deny mengangkat tangan menghentikan laju bicara pengawal dan memberi isyarat untuk menopang masuk melayani pemuda yang terkapar tersebut.
"Istirahatkan dia disitu, ambilkan air untuknya," ucap Deny kembali menunjuk sofa teras rumah.
"Uhuk, uhuk." Batuk pemuda meminum segelas air putih.
"Ah," lirihnya dengan nafas tergesa-gesa.
"Siapa kamu dan kenapa kamu bisa seperti ini?" lanjut Deny pada sang pemuda.
"Maaf sebelumnya karena telah menggangu istirahat anda, Tuan. Aku Tomi, ketua kelompok organisasi kecil yang telah di bantai, Uhuk-uhuk," jelasnya.
"Organisasi apa yang kalian jalankan dan kenapa bisa seperti itu?" tanya Ayah kembali mulai simpati penasaran.
"Organisasi kami adalah pasukan Revolusi yang menentang kekuasaan serta kebijakan pemerintah. Organisasi ini saya bentuk sebagai wujud atas muaknya sistem pemerintahan yang ada, uhuk-uhuk."
"Terus?"
"Ketika kami mengadakan pertemuan kepada para petinggi dan tak menemui kesepakatan, kami di serang habis-habisan oleh para gerombolan yang bekerja sama dengan pemerintah. Semua rekan-rekanku telah di bantai habis," lirihnya menundukkan pandangan.
"Kenapa bisa sekejam itu? Apakah ada manusia seperti yang kamu ucap barusan?" sahut Novi merangkul Deny yang duduk.
"Terlalu banyak manusia keji yang bebas menghirup udara segar dengan cara kotor, Nona," jawab Tomi menatap Novi.
"Jadi sekarang kamu ingin pergi kemana?" tanya Deny kembali.
"Aku gak tau harus kemana, Tuan. Saat ini gak tau harus pergi kemana," balasnya menutup wajah mengisak tangis.
"Ini semua karena Victor dan seluruh anggotanya," lanjut Tomi mengepal tangan.
"Victor?" sahut Deny sedikit bingung.
"Maksud kamu Victor pendiri Sastra Group?" jelas Deny kembali.
"Benar, Tuan. Tuan mengenalnya?"
"Hanya mengetahui bahwa dirinya sebagai orang yang paling berambisi ingin mengusai negeri ini," pungkas Deny.
"Selama lima tahun terakhir kami terus mengupayakan keadilan di negeri ini, namun tak kunjung mendapat sambutan hangat mereka. Kami hanya memperjuangkan hak-hak rakyat kecil yang selalu tertindas atas kebijakan pemerintah," ketus Tomi.
__ADS_1
"Jika kamu tidak keberatan, bagaimana jika kamu bekerja di sini?" lanjut Deny tersenyum lembut.
"Tapi Tuan, apakah itu tidak semakin merepotkan anda?"
"Tidak, Aku hanya simpati melihat gigih perjuanganmu membela hak sesama manusia."
"Terimakasih, Tuan." Bertekuk lutut menghadap Deny.
"Jangan jatuhkan dirimu seperti itu, biar bagaimanapun pasti kamu orang yang sangat cerdas karena telah mengetuai pasukan Revolusi," singkat Deny.
"Sekali lagi terimakasih, Tuan."
"Galih, antar dia ke kamar belakang," lanjut Deny menyuruh pengawal mengantar Tomi beristirahat.
"Baik, Tuan." Segera menopang Tomi menuju area belakang rumah.
"Ayah, kenapa gak cari tau dahulu latar belakangnya siapa, bukannya terlalu mudah menerima orang asing disini?" sahut Movi perlahan duduk di sebelah Deny.
"Meski kita belum tahu, tapi ayah cukup yakin kalau dia bisa di percaya."
"Kenapa aku masih belum yakin dengan pemuda itu," pikir Novi singkat.
"Sudah jangan terlalu kamu pikirkan, mana mungkin dia seorang diri ingin melakukan hal yang aneh di kediaman ayah," jelas Ayah kembali.
"Novi cuma merasa sedikit janggal saja, Yah."
"Kamu masih cukup muda untuk memikirkan masalah-masalah seperti ini."
"Yaudah kalau begitu Novi masuk dulu, Ayah jangan merencanakan hal yang bisa membahayakan nyawa," pekik Novi berdiri masuk meninggalkan Deny.
"Kenapa anak gadis mama cemberut seperti itu?"
"Gak ada apa-apa kok Ma. Oh iya mama sudah makan?"
"Sudah sayang, kamu yang belum tuh. Makan yang banyak biar tetap sehat."
Disisi lain kediaman Ray Alisa.
Pagi pukul 6:40.
"Mas bangun, sudah pagi ini," ucap Alisa membangunkan.
"Rama sudah bangun belum?"
"Ini baru mau membangunkannya, kamu beres-beres gih," lanjut Alisa menyiapkan pakaian kerja Ray.
"Iya sayang." Berdiri menuju kamar mandi.
30 menit kemudian.
"Pagi sayang." Mencium kening Alisa yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
"Mana Ibu, Rama?" tanya Ray kembali.
"Paling bentar lagi keluar dari kamarnya mas."
__ADS_1
"Oh begitu." Terduduk meminum segelas air putih sebelum menyantap sarapan pagi.
"Nah itu Rama baru keluar," lanjut Alisa.
"Pagi Kak, Bang," sapa Rama menghampiri lengkap dengan seragam sekolah yang baru.
"Sarapan dulu, habis itu langsung berangkat bareng Abang," sahut Alisa.
"Makan yang banyak biar ada isinya," pekik Ray.
"Ingat ya mas, jangan nakal di kantor," balas Alisa melirik Ray.
"Nakal apa?"
"Sudah lupa, pura-pura lupa atau memang di lupakan? Sampai larut malam berduaan dengan perempuan lain, apa itu wajar?" gumam Alisa.
"Sampai sekarang masih ingat juga? Astaga tajam bener ingatan wanita," batin Ray.
"Iya, iya."
"Bu," sapa Alisa.
"Maaf ya Ibu baru turun. Rama sudah di urus persiapan sekolah barunya belum?" tanya Ibu.
"Sudah kok Bu, kemarin mas Ray langsung mengurusnya setelah menjemput Rama dari kampung halaman," jelas Alisa.
"Baguslah kalau begitu. Semoga kamu betah tinggal disini ya nak. Anggaplah kami keluarga kamu sendiri dan jangan sungkan apapun itu untuk kebutuhan kamu. Jika perlu sesuatu bilang sama Abang atau Kakak," lanjut Ibu tersenyum menatap Rama.
"Iya Tante," balas Rama tersenyum.
"Tante lah pulak, gawat kali anak ini ah, ntah sapa yang ngajarin. Apa iya karena pergaulan jaman?" batin Ray melirik Rama.
"Oh iya Lisa, hari ini Ibu ada acara kumpulan dengan teman lama Ibu. Kamu di rumah sendiri baik-baik ya," ujar Ibu kembali.
"Apa gak sebaiknya Lisa temenin Ibu aja, kondisi Ibu juga lagi gak baik akhir-akhir ini kan?" sahut Ray.
"Jangan, Alisa sedang mengandung cucu Ibu. Sebaiknya dia banyak istirahat dan fokus sama kandungannya duduk bersantai di rumah."
"Alisa gak apa-apa kok Bu. Justru kalau Ibu pergi sendiri Lisa makin khawatir dengan kondisi Ibu," sahut Alisa.
"Sudah Ibu gak apa-apa kok nak."
Dreett....
Dreet......
"Nomor baru siapa ini?" batin Ray melihat layar ponsel.
"Halo."
***
Sampai disini dulu kak upnya, maaf kalau agak telat. kondisi author lagi kehabisan kopi.
Kita tetep lanjut ya kak, cuaca agak cerah keliatannya. Makasih buat yang setia telah mengikuti, terlebih buat yang Fav, gift, komen, like ataupun lainnya. Ganbatte..
__ADS_1