
Rendi berbaring di kamar latihan nya, dan tak henti-hentinya dia mengoceh-ngoceh tanda kesal. bagaimana tidak dia benar-benar kaget tadi, masuk kamar malah bantal pula yang melayang.
"Aduhh... dasar gadis aneh," Kesal rendi. Leptop yang di pegang nya tadi hampir saja jatuh ke lantai akibat ulah cindi. matras yang terletak di lantai itu lalu di hampiri nya, meski ukuran nya tak terlalu lebar tapi itu sudah cukup buat satu orang.
Rendi berusaha memejamkan matanya agar bisa tertidur di ruangan itu, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. kali ini dia tidur tanpa menggunakan bantal, cuma tangan kanan nya yang menjadi bantal.
Hembusan angin masuk ke dalam kamar itu, membuat seluruh tubuh rendi kedinginan di malam itu. Pintu jendela terbuka sedikit jadi ada cela angin masuk ke dalam ruangan itu.
Sreeeekkk.... sreeekk... tak tak tak.
Sreeekkk.... sreeekkk.... tak tak tak
Suara itu berbunyi untuk kedua kalinya, tanpa sadar rendi terbangun dan mendengarkan suara itu. Dia lalu melihat ke arah jendela, tubuhnya sudah membeku kedinginan di malam itu. Gimana tidak di jendela dia malah melihat ada cela yang terbuka. Pantesan saja tubuh nya mendadak menggigil, hari ini dia benar-benar kacau.
Tanpa pikir panjang dia berlari ke luar ruangan menuju kamar tidur dengan tubuh yang menggigil.
Cekrek... suara pintu kamar di buka rendi, terlihat di sisi tempat tidur ada seorang wanita berambut panjang yang sedang duduk di sisi tempat tidur membelakangi nya. Rendi langsung syok dan tambah menggigil, saat wanita menyadarinya dia langsung berbalik.
Wanita itu panik dan langsung mendekati rendi dengan mengambil selimut di dalam lemari, wajah rendi saat itu udah pucat pasih. wanita itu lalu berjalan cepat ke arah rendi, dia lalu mendudukkan rendi ke sisi tempat tidur.
__ADS_1
Tubuhnya benar-benar menggigil, wanita yang ternyata cindi membimbingnya menuju ke tempat tidur kali ini rendi hanya mengikutinya saja. tubuh itu di baringkan di kasur, sudah terasa suhu tubuh rendi tidak membaik cindi lalu menyelimutinya dengan selimut yang baru saja di ambil dari dalam lemari.
Tangan cindi yang hangat itu menyentuh kening rendi, entah kenapa saat itu tubuh rendi yang kedinginan serasa langsung hangat. Cindi terus mengusap-usap kening rendi sampai rendi terlelap tidur.
...🐼🐼🐼...
Flasback on
Semalam Cindi tidak bisa tertidur akibat kemarahan suaminya, dia benar-benar binggung harus bagaimana. Akhirnya cindi memutuskan untuk membuat teh hangat du tengah malam itu, dia turun ke dapur dan membuat air panas. Setelah teh hangat sudah selesai di buatnya dia langsung naik menuju ke kamarnya.
Niat untuk mencari keberadaan rendi malah di urungkan, dia tau benar sifat keras kepala rendi kalau marah tidak boleh ada yang menganggu nya siapa pun itu.
waktu terus berlalu, hati cindi malam itu tidak karuan padahal dia sekarang lagi santai tapu majalah yang di bacanya malah hanya sebuah pajangan saja, buktinya yang ada di kepalanya malah rendi majalah yang di baca tidak masuk di kepala.
"Aduhh.... kok aku kepikiran dia terus yah?" Tanya nya pada hatinya di malam itu. Cindi terus memikirkan rendi sampai tak sadar menjatuhkan air mata, padahal dia bingung juga kenapa air matanya tiba-tiba terjatuh.
Dia duduk termenung di malam itu sambil menatap keluar jendela, sekarang pikiran nya tambah tidak karuan lagi. Tanpa sadar cindi sudah menghabiskan hampir setengah toples kue kering, dan teh hangat yang ada di meja juga sudah habis.
Cindi tersadar dari lamunan sontak kaget saat melihat toples yang tadinya penuh kue kering sekarang sudah tinggal setengah.
__ADS_1
"Ahhhhh Apaa....... kuenya tinggal setengah." ucapnya kaget padahal dia merasa baru-baru duduk di sini. Padahal dia sudah hampir dua jam duduk di sisi tempat tidur sambil menatap keluar jendela kamar. Saat matanya tertuju ke dinding kamar terlihat jam sudah menunjukkan jam 2 malam.
"Ohhh tuhan ini sudah jam dua malam tapi kok aku tidak merasa mengantuk?" Tanya nya pada diri sendiri, biasanya jam segini dia sudah molor. Yah mungkin itu efek karena dia kepikiran rendi terus, seakan ada perasaan khawatir di hatinya tapi di biarkan nya tersimpan rapat-rapat.
Cindi kembali melamun di kamar itu, bahkan suara pintu terbuka saja dia tidak dengar. Saat menyadari seperti ada orang yang masuk kamar cindi langsung berbalik. Betapa kagetnya dia melihat orang yang masuk di pikiran nya itu sekarang sedang berada di depan pintu dengan wajah yang pucat pasih.
"Rendi," ucap cindi pelan, Tanpa pikir panjang dia lalu mengambil selimut dari dalam lemari dan menghampiri nya yang sudah kedinginan. saat itu cindi benar-benar panik, di bimbing nya rendi ke sisi tempat tidur. di sentuh keningnya betapa kagetnya dia saat tau kalau rendi lagi demam.
"Ya ampun sayang kamu dari mana sih?" Ucap cindi tanpa sadar waktu itu, sontak saja rendi hanya terdiam saja. Merasakan sentuhan hangat di keningnya membuatnya merasa lebih tenang dan hangat.
"Sayang aku nanya loh kamu dari mana?" Tanya rendi khawatir tapi lagi-lagi rendi hanya terdiam dan menggigil.
"Ya udah kalau tidak mau jawab tidak papa loh sayang, aku turun ke bawah dulu buat air hangat yah." pamit nya kepada rendi kali ini rendi hanya diam, dia benar-benar mau ngomong tapi dingin membuat nya malah diam membisu kayak es batu.
Cindi berjalan keluar kamar, rendi hanya bisa menatap punggung cindi yang menghilang di balik pintu kamar. Rendi teringat saat cindi memegang keningnya dia seperti merasakan ada aliran listrik yang mengalir ke tubuhnya saat itu, apalagi saat cindi memanggilnya dengan sebutan sayang sontak saja di langsung kaget dan hanya bisa diam membisu saja.
Di kamar rendi benar-benar merasa lebih baikan, suhu tubuhnya sekarang demam. dia benar-benar bodoh semalam malah memilih tidur di ruangan latihan.
Entah kenapa ada hal yang bisa dia syukuri sekarang, yah karena cindi begitu baik padanya, setia padanya, dan yang paling penting dia sangat ke ibu-ibu an hanya saja yang membuatnya heran kok bisa dia belum bisa mencintai gadis itu sepenuhnya. apa karena ini sudah takdir yang tuhan berikan padanya, rendi hanya bisa mengikuti jalan itu aja.
__ADS_1
...🐼🐼🐼...