
Pak direktur semakin heran melihat tingkah rendi yang semakin aneh, bahkan sekarang dia berbicara sendiri tanpa jelas ada apa. Pak direktur menghampiri anaknya.
"Hus, hus, hus, sana kamu sangat membosankan ketemu setiap hari, sana jangan mendekat aku tidak suka melihat wajahmu awas kalau wajahmu sampai muncul lagi di hadapanku ku Ku jamin rambut mu itu akan aku botak." Bentak Rendi di depan leptop nya. Pak direktur mulai mundur dan memegang kepalanya takut kalau rendi benar-benar akan menggunduli kepalanya seperti tuyul. Saat rendi menyadari papanya sudah ada di dekatnya dia lalu memanggil papanya.
"Pak, ayo sini." Panggil Rendi. Tapi pak direktur teringat akan kata-kata rendi kalau dia mendekat maka kepalanya akan di gundul. entah bagaimana muka pak direktur jika di botak nantinya. Melihat papanya menjauh rendi semakin heran kenapa bapaknya menjauhinya apakah ada gambar Cindi di dekatnya.
"Sana kamu jauh-jauh awas yah kalau kamu mendekat aku botak beneran kepala kau kayak tuyul." Bentak Rendi dan mengusir-usir bayangan Cindi yang semakin mendekat. Pak direktur semakin ketakutan dan menjauh dari Rendi. Rendi semakin mendekati papanya tapi pak direktur malah berlari, Rendi berusaha mengusir hantu itu agar menjauh rendi pikir papanya juga melihat apa yang dia lihat bayangan Cindi menertawai dirinya.
"Sana menjauh jangan mendekatiku, papa ada apa pak." Pak direktur duduk di sofa dan pura-pura membaca majalah. dia tidak mau menghiraukan teriakan Rendi, Saat rendi mendekat pak direktur berlari lagi. Rendi semakin heran ada apa ini, kok bapaknya terus menjauh padahal bayangan seram cindi sudah hilang.
Rendi mengambil gunting di meja dan mengancam bayangan itu, terjadilah saling kejar-kejaran di dalam ruangan itu, Reno masuk ke dalam kaget melihat papanya kejar-kejaran dengan rendi.
"Ada apa ini, dan kenapa Rendi membawah gunting." Jangan-jangan dia mau menusuk papa.
"Jangan, jangan botak kepala aku." Teriak pak direktur.
"Apa... rendi mau membotaki papa, tidak benar ini aku harus mencegahnya. akhirnya mereka bertiga saling kejar-kejaran. Rendi berusaha menjauhkan hantu itu dari papanya, sedangkan pak direktur takut di cukur sama rendi, Reno ikutan lari karena berfikir rendi membotaki kepala papanya.
"Rendi jangan di botak dong, kalau di botak nanti dia sudah tidak cakep lagi." teriak Reno dan berusaha mencegah rendi.
"Tapi kak dia sudah menakuti semua orang pokonya dia harus di botak." Rendi terus-terusan mengejar ayahnya untuk menyuruhnya tenang dan mengusir hantu itu.
__ADS_1
"Pa tenang pa, dia hanya mau di botak saja sudah berani menganggu ketenangan kita," Entah kenapa bisa yang awalnya hanya di laptop sekarang bayangan itu jadi nyata di hadapan rendi, ada apa dengan kantor itu.
...🐼🐼🐼...
Tak terasa jam istirahat telah tiba, Lina mengajak cindi ke ruang kantor direktur untuk menanyakan makanan apa yang pas untuk papanya.
"Cindi kamu sudah selesai?"Tanya lina.
"Iya kak ini lagi sementara mau di save." Ucap Cindi. Setelah menyimpan file nya lina dan Cindi keluar ruangan menuju lift untuk naik ke ruang kantor direktur yang berada di lantai 5.
Sesampainya di lantai lima Cindi dan Lina kaget melihat pintu kantor tidak terkunci bahkan terdengar keributan di dalam. Lina dan Cindi khawatir jika terjadi sesuatu di dalam, Saat Cindi dan lina masuk betap kagetnya dia melihat kejadian itu. yang membuatnya tambah syok saat melihat gunting yamg berada di tangan rendi.
"Pa apa yang terjadi kenapa kalian saling kejar-kajaran, dan gunting di tangan rendi.
"Jadi gini aku.." Belum selesai rendi melanjutkan perkataan nya pak direktur sudah menceritakan nya duluan kejadian dari awal.
"Jadi gini Rendi tadi marah-marah dan mengancam kalau akan membotaki bapak jika bapak tidak menjauh darinya. saat rendi mulai mendekat papa kaget karena dia sudah memegang gunting, jika rendi benar-benar akan membotaki bapak wajah papa nanti bentuknya gimana?" Ucap pak direktur. Mendengar hal itu rendi hanya bisa memukul jidat, ternyata papanya telah salah paham.
"Astaga, Kaka tapi aku tadi..." Lagi-lagi Reno menghentikan kata-kata rendi.
"Benar, saat aku masuk aku sudah melihat ada gunting di tangan dia awalnya aku pikir dia akan membunuh papa tapi bapak terus berteriak untuk melarang rendi memotong rambutnya tapi rendi tidak mau berhenti mengejar nya. jadi aku.... ikutan... mengejar nya juga." Reno menjelaskan nya dengan napas yang masih terngah-engah. Lina mendekati adiknya, terlihat Rendi menunduk lesu dan hanya bisa memukul jidat nya. kali ini dia terjebak oleh bayangan itu seperti ada yang merasuki dirinya lewat bayangan Cindi.
__ADS_1
Cindi sepertinya mempelajari gerak-gerik Rendi, dan dia rasa mereka semua salah sangkah. Cindi lalu mendekati Rendi dia sudah terlihat pucat pasi karena syok atas kejadian barusan, di pikirnya kalau dia sudah gila.
"Kak lina tunggu, sepertinya dia akan mengatakan sesuatu." Cindi mengangkat wajah rendi dia benar-benar hanya bisa syok dan menggelangkan kepala seakan dia akan gila dengan keadaan ini. Cindi mendudukkan rendi di sofa, semu heran dengan sikap cindi yang terlihat santai.
Cindi mengambil air minum, dan memberinya ke rendi, Cindi pernah mengalami hal yang sama saat dia stress jadi dia tau pasti kalau rendi sekarang mengalami hal yang sama atau bisa di bilang karena pikiran yang berat dan membuat orang akan kebanyakan melamun dan halusinasi.
"Kamu percayakan sama aku aku tidak akan melakukan itu sama papa hanya saja tadi ada." Cindi menutup mulut Rendi.
"Iya aku percaya, dia memang ada dan dia suka menganggu orang yang sedang dalam masalah berat." Nasehat Cindi kepada Rendi, rendi sekarang tambah pucat.
"Ada apa Cindi kenapa kamu membelanya," Ucap lina.
"Kak dia lagi kritis, pikirannya tidak normal sekarang karena tekanan. dan ini di namakan halusinasi dalam ilmu jiwa, di mana orang akan mengalami halusinasi jika dia tidak bisa membendung, dan terus-terusan mengingat masalahnya. ini juga kadang ada hubungan nya dengan masa lalu atau trauma, di mana orang itu tidak mau melakukan hal yang sama karena takut akan masa lalu yang menghantuinya. Tapi aku yakin rendi stress juga ada hubungan dengan kejadian di masa lalu nya." Mereka semua kaget ternyata Kecerdasan Cindi bukan hanya dalam ilmu di kantor saja dia bahkan menguasai ilmu jiwa
"Cindi dari mana kamu pelajari semua ini?" Tanya pak direktur.
"Aku kuliah ambil jurusan keperawatan dan psikologis, Jadi aku bisa tau penyebab Rendi mengalami halusinasi hanya dengan melihat nya saja." Ucap Cindi.
"Berarti kamu bisa baca pikiran orang yang mana jujur yang mana bohong." Tanya Pak direktur, Cindi hanya mengangguk kan kepala.
...🐼🐼🐼...
__ADS_1