
Hari ini rasanya cuaca di kantor membuat seluruh tubuh harus berkeringat padahal sudah ada AC di ruangan itu, Cindi terlihat semakin pucat saat ini. Jantungnya sudah kembali normal tapi saat ini rasanya hawa di tubuh cindi panas dingin di ruangan itu seperti tertabraknya hawa panas dan dingin yang membuat Cindi merasa tidak nyaman. Untungnya hal itu tidak berlangsung lama karena tak terasa jam makan siang akhirnya tiba.
"Sayang turun makan siang yuk," Ajak mba Lina kepadanya.
"Iya mba," Cindi memperlihatkan senyumnya kepada mba Lina, Untungnya dia memakai lipstip berwarna pink mudah jadi wajah putih pucat nya tidak terlalu kentara.
"Cindi kok kamu keringatan, kamu sakit yah?" Tanya Mba Lina, Cindi sudah berusaha untuk terlihat baik-baik saja tapi ternyata di depan Lina dia malah ketahuan. Rupanya Lina wanita yang cerdas dan aktif dalam mengetahui bahasa tubuh dan suhu tubuh orang hanya dengan melihatnya.
"Ndak kok mba, mungkin tadi habis lari-lari jadi masih keringatan." Ucap Cindi menyakinkan Lina,
"Ohhh... Ayo." Lina menarik tangan Cindi, Cindi hanya bisa mengikuti langkah Lina, meski dia merasa ada yang aneh dari sikap Cindi tapi dia berusaha untuk berprasangka baik saja.
Di kantin Lina dan Cindi memesan beberapa makanan, tiba-tiba saja semua orang membicarakan tentang tunangan Rendi. Cindi dan Lina yang mendengarnya hanya bisa terdiam saja dan tidak menghiraukan semua itu.
"Eh kamu tau gak siapa tunangan ceo tampan itu?" Tanya Seila salah satu kariawan perusahaan.
"Gak tau juga, kayaknya aku mau tau deh." Ucap Dinda di samping seila.
"Ya ampun aku kok iri yah, apa dia sangat cantik atau cantikan aku yah." Terlihat wanita itu sangat mengandalkan kecantikannya. Mendengar hal itu Lina yang lagi mengunyah makanan langsung terbatuk.
"Ohok, ohok, ohok." Gadis itu rupanya sadar apa yang barusan dia katakan saat melihat Lina terbatuk. Dengan malu-malu dia langsung pura-pura menunduk seolah tak terjadi apa-apa.
Lina yang dari tadi menatap kedua wanita itu merasa lucu, Cindi bahkan sempat senyum-senyum saat memberi air minum ke Lina.
__ADS_1
"Sepertinya mereka sadar kalah aku liatin," bisik Lina kepada Cindi, Cindi kali ini hanya bisa menertawai kekonyolan yang di buat kedua wanita itu.
Selepas makan siang Lina dan Cindi kembali ke ruang kantor untuk kembali mengerjakan beberapa proposal. Saat Cindi dan para kariawan lagi asik mengerjakan tugas tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.
Pria itu masuk ke dalam dan memerintahkan kepada Pak rangga untuk rapat di ruangan masing-masing. Saat pria itu kembali keluar pak rangga lalu menyuruh mereka kumpul kembali.
"Sepertinya kita di suruh diskusi jadi mohon perhatiannya semua yah, Setelah mengerjakan tugas yang satu ini maka kita akan melanjutkan diskusi dulu, apakah kalian semua setuju?" Tanya pak rangga menjelaskan nya kepada para kariawan yang ada di dalam.
"Kami setuju pak," Mereka lalu kembali berbalik untuk mengerjakan tugas mereka. Beberapa menit kemudian semuanya sudah mengerjakan laporan itu.
"Sepertinya sudah banyak yang selesai, jadi sekarang kita akan menjelaskan bagaimana cara pemasaran yang baik." Pak rangga mulai cerita panjang lebar sesuai materi yang telah di pilihnya itu. Sudah hampir setengah jam mereka diskusi, Sampai saatnya pak rangga menutup diskusi di ruangan itu.
...πΌπΌπΌ...
Jam pulang kantor telah tiba tepatnya pukul 03.00 Sore ini, karena ada rapat jadi jam pulang kantor sedikit lambat dari biasanya. Cindi dan para staf kantor lainnya keluar dari ruangan itu.
"Cindi, sayang mba dari tadi manggil loh." Ucap Lina saat sudah sampai di samping Cindi.
"Aduuh maaf mba aku tidak dengar, aku pake handset dan sedang berbicara dengan papa." Ucap Cindi menyesali kesalahannya.
"Ohh kamu menelpon papamu, dia di mana sekarang?" Tanya Lina.
"Papa sudah ada di rumah mba, dia akan." Belum selesai cindi melanjutkan pembicaraannya Lina sudah menarik tangannya menuju parkiran mobil.
__ADS_1
"Pa, ada mba Lina yang mau antar aku pulang. papa istirahat di rumah saja." Ucap Tania di telpon. Terlihat di dalam mobil suami Lina sudah menunggu mereka, Lina dan Cindi lalu masuk ke dalam mobil Cindi duduk di pojok belakang.
"Sayang kalau papamu sudah ada di rumah kan ada mba bisa barengan pulang lagian arahnya sama kok hanya saja rumah mba agak jauh sedikit." Ucap mba Lina menasehati Cindi.
"Iya mba, takut merepotkan saja jadi saya menelpon papa."
"Tidak merepotkan kok sayang, malah mba suka loh mengajak kamu pulang bareng suasananya juga lebih seru." Mendengar hal itu Cindi hanya tersenyum saja.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu mobil yang di tumpangi nya sudah sampai di depan rumah cindi. Cindi lalu turun dari mobil itu, lalu berterima kasih ke mba Lina.
"Aduhh terima kasih yah mba sudah mau antar Cindi sampai di rumah." Terlihat mba Lina hanya tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Cindi. Mobil yang di tumpangi Cindi pergi melaju dari rumah nya, Cindi masuk ke dalam rumah terlihat annisa sudah siap-siap untuk jalan dengan kakaknya dengan menggunakan baju lengan panjang dan celana lengan panjang.
"Kak Cindi," Annisa langsung memeluk kakanya saat Cindi masuk ke dalam rumah.
"Woah rupanya adikku sudah semakin cantik saja, kalau begitu kakak mandi dulu baru kita berangkat." Bisik Cindi kepada Annisa lalu mencium pipi gadis kecil itu.
"Siap deh," Ucap annisa dengan menaikan jari jempol nya tanda setuju.π
Cindi langsung naik ke kamar di baringkan beberapa menit tubuhnya ada sekitaran Setengah jam, setelah rasa capeknya sudah hilang Cindi langsung mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi
Setelah selesai mandi dia menggunakan baju lengan panjang agar menutupi lengannya dan juga menggunakan celana panjang longgar, karena ayahnya akan marah kalau melihat cindi menggunakan baju dan celana yang super ketat, takutnya ada orang nakal yang mengganggunya di luar.
Ke kantor saja Cindi menggunakan baju jas putih lalu di Dobol dengan jaket di tambah rok yang sampai di bawah lutut kadang dia menggunakan rok panjang span yang tidak terlalu ketat juga. di tambah wajahnya yang cantik rupawan itu sudah modal buat dirinya meski ke kantor tidak menggunakan baju yang seper ketat dan makeup yang tebal tapi itulah salah satu daya tariknya.
__ADS_1
Sudah banyak cowok yang pernah mau melamar nya dan mengajaknya pacaran tapi Cindi cukup pintar membaca pria yang mau dekat dengannya, Berbeda dengan bayu Cindi kesulitan membaca watak anak itu karena akhir-akhir ini Cindi sibuk dengan pekerjaan nya sampai tidak ada waktu untuk mencurigai bayu.
...πΌπΌπΌ...