CEO Angkuh Itu Jodohku

CEO Angkuh Itu Jodohku
Nasehat papa


__ADS_3

Cuaca udara saat ini cukup mendukung dan adem, Pagi pukul 06:00 harus bangun lagi untuk kerja. Setidaknya liburan saru Minggu di kampung itu cukup membantu untuk refresing, dan kali ini Cindi harus ke kantor lagi bertemu Orang-orang.


Cindi teringat dengan obat nya di dalam lemari, dia lalu mengambil dua obat di dalam lemari isinya tidak cukup sampai sepuluh biji semuanya.


"Huuft, Sepertinya aku harus ke rumah sakit lagi pulang kantor, Sudah Dua Minggu aku tidak konsultasi pak Ridho pasti akan memarahiku lagi." Ucap Cindi.


Hari ini juga hari di mana linda akan di operasi, gadis itu benar-benar gadis yang kuat.


Cindi bersiap-siap untuk ke kantor dia memasukkan semua berkas-berkas ke dalam tas nya dan mengambil handuk yang tergantung di sisi kamarnya. tidak cukup beberapa menit dia sudah keluar dari kamar mandi, cindi buru-buru memakai seragam kantor dan turun ke bawah untuk sarapan.


Di bawah sudah terlihat Adiknya ayah dan ibunya sibuk berbincang-bincang di meja makan, Cindi duduk di dekat adiknya.


"Pagi chubby," Sapa Cindi ke adiknya.


"Kok aku di panggil cubi sih kak?" Tanya annisa.


"Kerena pipi nya besar," Cindi mencubit pipi adiknya tiba-tiba teringat dengan janji nya kalau akan membelikannya boneka.


"Cindi mau makan apa pagi ini nak?" Tanya ibunya.


"Ada buah gak bu?" Tanya cindi ke wina.


"Ada di dalam kulkas sayang, mau ibu ambilkan?" Tanya ibunya yang sibuk mengoles selai coklat di roti tawar itu.


"Biar aku aja bu," Cindi beranjak dari kursinya menuju kulkas dan mengambil beberapa buah apel dan pir dari dalam kulkas.


"Kamu diet yah sayang?" Tanya Wina.


"Diet! Tidak kok bu cuma ngiler saja mau makan buah"


"Sayang makan roti dan minum susu juga yah supaya tidak cepat lapar di kantor." nasehat ibunya.


"Iya bu," Annisa tiba-tiba ikutan ngiler melihat cara makan kakanya itu, Tangan annisa lalu mengambil satu apel dari hadapan kakaknya.

__ADS_1


"Ehmmm," Cindi berdehem agar Annisa menyadari kesalahannya.


"Kakak aku minta satu yah!" rengek annisa memeluk-meluk pinggang kakanya.


"Iya sayang ambil saja." Cindi merasa tidak tega juga melihat adiknya merengek seperti itu.


Sarapan pagi sudah selesai Saatnya berangkat ke kantor bersama papanya, Di mobil Annisa terlihat sangat ceria pagi ini dari tadi dia terus-terusan bernyanyi.


"Annisa bagaimana lesnya kemarin?" Tanya tono.


"Bagus pak, ibu guru itu sangat baik." mendengar hal itu Cindi hanya terdiam dia hanya fokus melihat jalan raya yang mulai macet itu.


...🐼🐼🐼...


Rendi masih sibuk di kamar membereskan beberapa laporan yang semalam sempat membuatnya pusing, ternyata semalam bukan cuma cindi saja yang banyak pekerjaan rupanya Rendi juga mengalami hal yang sama.


Semalam habis berbincang dengan keluarga rupanya rendi tidak bisa tidur lagi jadi dia memutuskan untuk melanjutkan mengerjakan tugasnya sampai pukul 12:00 malam dia baru bisa tertidur karena mengerjakan tugas di malam hari membuat nya cepat ngantuk berbeda jika di pagi hari.


Di bawah terlihat keponakannya yang paling kecil melihat rendi langsung berlari menghampirinya.


"Om lendi, om lendi ayo makan cama-cama." ucap Abi anak Lina.


"Iya dong sayang, sepertinya anak om sudah semakin besar sekarang." Rendi menggendong anak itu menuju meja makan.


"Ibu kok tidak pernah kasih ikut Abi main ke kantor?" Tanya Abi dengan polosnya.


"Sayang di kantor itu tempat untuk bekerja bukan tempat untuk main, besok hari Minggu papa akan ajak Abi pergi bermain." Ucap suami Lina.


"Mas besok kan acara lamaran," Bisik lina pada suaminya.


"Kan habis acaranya kita bisa ajak abi jalan sayang." Terlihat abi hanya sibuk memakan roti dengan olesan coklat di meja makan tanpa mengerti apa yang kedua orang tuanya bahas.


Selesai makan Rio buru-buru berlari naik mengambil tasnya dan turun kembali ke bawah dengan memegang sepatuh di tangan kanannya.

__ADS_1


"Pa, ma, om, tante, semuanya aku duluan sudah mau pukul 07:00." Ucap Rio dan menyalami mereka semua satu persatu.


"Tangan nenek kotor sayang, sana berangkat sekolah nanti telat loh." Ucap Hajra.


"Mau aku antar nak?" Tanya Reno pada anaknya.


"Gak usah pak saya sama pak budi aja." Ucap Rio lalu berlari keluar, terlihat pak budi sopir pribadi rumah itu sudah menunggu di depan rumah.


"Nak uang jajan kamu ada?" Teriak Reno di depan rumah saat Rio hendak masuk ke dalam mobil.


"Iya pa kemarin di kasih sama om Rendi uang jajan." Ucap Rio, mobil itu terlihat melaju pergi meninggalkan perumahan elit itu. Reno kembali masuk ke dalam rumah dan melanjutkan sarapannya. Setelah sarapan pukul 07:00 mereka semua berangkat ke kantor, tinggal Hajra dan Sinta yang tinggal di rumah


Suasana di kantor itu begitu mendukung terlihat para kariawan semakin hari semakin sering senyum dan menyapa pak direktur dan keluarga jika ada yang lewat. Pak direktur merasa Rendi masuk di kantor ini membawah perubahan bagi para kariawan wanita.


"Nak pulang kantor acara lamaran akan di adakan." Bisik pak direktur dengan memukul-mukul pundak rendi, mendengar hak itu Rendi semakin syok di buatnya.


"Pa... tapi kan persiapan nya..."


"Ada Reno yang akan membantu mu nak untuk persiapannya." Ujar pak direktur dan menoleh ke arah Reno.


"Iya dek nanti jam istirahat kerja kita pergi cari cincin lamarannya yah." Reno tersenyum ke adiknya sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya. Meski sekarang rendi bersama ayahnya rasanya dunia ini ikutan membisu sepertinya di dalam lift itu.


Ya ampun apa lagi yang akan terjadi tuhan, kepalaku sekarang semakin pusing sepertinya mereka malah saling mendukung dalam pernikahan ini.


Rendi terlihat semakin gelisah melihat hal itu pak direktur hanya tersenyum dan memukul pundak rendi pelan dengan berbisik di telinga rendi, rasanya bisikan itu membuat seluruh tubuhnya kaku dan bisu kedinginan di tempat.


"Itu hal yang wajar nak, namanya juga pengantin baru." Bisik pak direktur dengan tersenyum-senyum bahagia.


"Bapak sudah berpengalaman rupanya." Ucap Rendi kesal.


"Kalau juga harusnya senang nak karena akan menikah, menikah itu seru hidup dan saling mendukung, melengkapi satu sama lain tanpa harus memikirkan perkataan orang lain selama ada seorang istri yang setia dan lembut, dan baik hati seperti ibumu, ibumu memilihkan jodoh untukmu itu karena dia adalah wanita yang baik nak." Pak direktur berusaha untuk membuat rendi tenang tapi bukannya tenang rendi malah semakin merinding saja mendengar perkataan papanya.


...🐼🐼🐼...

__ADS_1


__ADS_2