
Sang fajar di ufuk timur memperlihatkan cahayanya yang indah di pagi hari, cindi terbangun dari tidurnya langsung bersiap-siap untuk mandi pagi. cindi membuka sedikit gorden agar cahaya masuk ke dalam kamar, dia lalu membuka pintu teras dan mengambil handuk yang terletak di sisi tembok.
Saat membuka pintu terhirup dingin nya angin di waktu subuh itu, cindi Sampai mengigil di buatnya. rasanya sekujur tubuhnya merinding di hempas angin di waktu sang fajar itu, cindi kembali mengunci pintu itu.
Baru beberapa langkah dia berjalan hal yang tak terduga terjadi, dia kaget melihat gelas di atas nampan. sampai binggung siapa yang meminumnya, gelas itu tidak ada isinya lagi bahkan setetes pun.
"Loh loh siapa yang meminum isinya di dalam gelas itu." ucapnya kaget, matanya langsung tertuju kepada sosok pria yang sedang menikmati mimpi indahnya di ujung sana.
Wah wah parah pasti ini ulah dia, seingat ku tadi malam aku tidak menyentuh nya sedikitpun. wah ini pasti ulah dia nih, kalau haus bilang sayang gak usah minum sembunyi-sembunyi.
Cindi tersenyum lalu masuk ke dalam kamar mandi sambil bersenandung, dadanya sekarang sedikit membaik lagi tidak seperti biasanya.
Setelah mandi cindi langsung mengambil kesempatan itu untuk memakai baju lengan pendek dengan rok sampai lutut, setelah itu dia mengeringkan rambutnya menggunakan kipas di kamar. Setelah semuanya selesai di lalu membangunkan suaminya untuk berangkat kerja di hari Senin.
"Sayang bangun yok, ini udah pagi loh waktunya ke kantor." Ucap cindi dengan nada lembut sambil menarik tangan Rendi.
"Iyaaa, masih ngantuk aku." Rendi malah memutar badannya ke kiri lalu mengabaikan perkataan cindi.
"Ya ampun, oh iya kayaknya harus pake air nih biar dia bangun bagusnya di siram kali yah." Ucap cindi sambil berfikir akan menyiram suaminya pake air.
Cindi lalu mengambil satu timba air dari dalam kamar mandi, niat untuk menyiramnya hanya candaan doang dia malah mengambil air dari dalam kamar mandi lalu mengusap wajah Rendi dengan air itu dengan pelan dan lembut.
Yang terjadi malah sebaliknya Rendi langsung panik dan terbangun histeris. dia membuka matanya sontak marah-marah tidak jelas ke cindi.
"Apa yang kamu lakukan barusan." ucap Rendi masih panik karena ulah cindi yang menurutnya sudah keterlaluan, padahal niat cindi baik membangunkan dia biar tidak telat ke kantor.
__ADS_1
"Loh sayang marah, aku masih baik tidak menyiram air di timba itu." Ancam cindi dengan air di tambah yang masih setengah.
"Yah tapi bangunin nya juga tidak perlu pake air segala." Kesal Rendi padanya.
"Sayang kalau kamu telat ke kantor lebih parah lagi, Jakarta itu macet loh. mending sayang masuk ke kamar mandi, jangan banyak bicara ibu sudah menunggu di bawah bersama Bi inem, ayooo sayang." Cindi menarik tangan Rendi lalu membawanya ke kamar mandi.
Rendi kali ini harus nurut lagi, saat asik mandi di dalam kamar mandi Rendi ingat kalau dia belum ambil handuk dari jemuran luar. dia akhirnya memutuskan untuk meminta tolong dengan cindi padahal kalau dia bisa dia tidak perlu meminta tolong sama cindi saat itu juga.
"Ehmmm, Cindi kamu masih di luar yah." teriak rendi dari dalam kamar mandi. Cindi yang masih membersihkan tempat tidur teriak dari luar.
"Iya sayang, ini masih di kamar aku ada apa?" Tanya cindi kepadanya.
"Tolong dong ambilkan handuk," ucap Rendi dari dalam kamar mandi.
Tok tok tok, Cindi mengetuk pintu kamar mandi itu berharap pria itu membukanya dengan cepat.
"Tunggu," Rendi lalu mengambil handuk itu lalu menutup pintu kamar mandi lagi. Cindi kembali merapikan tempat tidur itu, setelah selesai dia lalu mengeluarkan baju kantor dari dalam lemari serta beberapa baju dalam dari dalam lemari.
Setelah semua selesai cindi lalu keluar dari kamar, Rendi keluar dari dalam kamar mandi dan bersiap-siap untuk menggunakan baju yang sudah di siapkan oleh cindi di atas kasur.
Berkas-berkas data, plesdis, semuanya di masukan di tas kantor. Setelah semuanya selesai dia lalu membawa tas itu turun ke bawah untuk sarapan pagi bersama yang lainnya.
...🐼🐼🐼...
Di dapur terlihat cindi sudah menyiapkan beberapa alat makan dan gelas sedangkan ibu sedang meletakkan makanan di meja dan bibi yang memasak serta memanasi makan yang tidak habis semalam. Sedangkan Rendi hanya bisa duduk diam di meja menunggu semuanya siap, sambil meneguk air putih yang ada di depan nya.
__ADS_1
semua sudah tersaji rapi di meja makan, mereka lalu duduk di meja makan itu dengan rapi dan menikmati makanan yang sudah di siapkan. Rendi makan dengan lahap entah kenapa dia merasa sedikit lapar, jadi orang mau ngomong apa dia tidak peduli baginya kalau dia udah makan suara gempa pun bahkan tidak terdengar olehnya.
Acara sarapan pagi telat usai dia pamitan oleh ibu bibi dan istrinya untuk berangkat ke kantor.
"Ibu aku pamit dulu yah, aku pamit dulu, bi aku pamit dulu berangkat kerja." Izin cindi kepada mereka sambil mencium tangan ibu dan bibi saat giliran cindi mencium tangan nya Rendi gugup tapi berusaha untuk baik-baik saja.
Lagian Cino sudah biasa melakukannya cuman kali ini agak sedikit berbeda karena di depan ibunya, agak sedikit gugup aja apalagi ibu menatapnya dengan tersenyum manis.
"Hati-hati di jalan sayang," Teriak ibu dari luar saat Rendi sudah berada di dalam mobil.
"Iya Bu Rendi berangkat dulu yah," Rendi lalu memutar mobil itu dan berlalu meninggalkan perumahan elit itu menuju jalan raya besar. Semuanya masih di luar sampai mobil itu tidak keliatan lagi barulah mereka masuk.
Saat semuanya sudah masuk ke dalam rumah, pintu rumah di kunci dari dalam takut ada hal yang tidak di inginkan terjadi jika di biarkan pintunya kebuka. Cindi, bibi, dan Bu hajra duduk di ruang tamu ngobrol bareng.
"Kayaknya bagus kalau bibi bikin air panas di temani kue-kue yang ada di meja." Ucap bibi dan berlalu ke dapur, cindi dan hajra baru saja mau menegurnya tapi bibi sudah duluan pergi.
Di dapur bibi bernyanyi sambil membuat teh panas, setelah semuanya sudah siap bibi menyimpan teh panas itu di nampan lalu membawanya di luar tamu. Terlihat cindi dan Bu hajra serius mengobrol sambil bercanda ria, bibi menyimpan nampan itu di atas meja kecil lalu membuka beberapa penutup toples kue kaca yang ada di meja itu yang sudah tersedia.
Mereka di layani bibi sudah seperti tamu aja, padahal mereka tuan rumah, bu hajra dan cindi hanya tersenyum saja melihat kebaikan hati BI inem.
"Makasih bibi berkah selalu sudah banyak membantu." ucap Bu hajra kepadanya.
"Iya makasih banyak bibi, gak kebayang kalau tidak ada bibi yang bantuin aku." Ucap cindi sambil tersenyum ramah kepada bi inem.
...🐼🐼🐼...
__ADS_1